oleh

Fraksi Gerindra Prihatin Kondisi Bank NTT Dililit Kredit Macet Ratusan Miliar

-News-925 views

RADARNTT, Kupang – Tekad dan upaya untuk menggenjot kinerja Bank NTT agar secara progresif dapat meningkatkan deviden hingga Rp 500 miliar, justru mendapat ganjalan berat pada saat yang sama Bank NTT bermasalah dengan kredit macet Rp 126 miliar yang saat ini tengah berproses secara pidana. Fraksi Gerindra DPRD NTT merasa prihatin dengan kondisi tersebut yang bisa saja menandakan masih banyak kredit macet lain yang terjadi di Bank yang menjadi andalan Provinsi NTT.

“Fraksi Gerindra tidak meragukan kemampuan keuangan Bank NTT namun kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa ada usaha serius dan terukur,” tegas Yan Piter Windi, selaku juru bicara saat membacakan pandangan umum fraksi terhadap Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi NTT tahun anggaran 2019, Senin (22/6/2020) malam.

Fraksi Gerindra mengapresiasi kinerja Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT yang sedang menangani proses hukum kasus kredit macet sebesar Rp 126 miliar, penghargaan dan dukungan patut diberikan kepada Kejati NTT atas komitmen membangun NTT di bidang penegakan hukum demi memulihkan kepercayaan publik terhadap Bank NTT.

Fraksi Gerindra juga berharap agar Kejati NTT terus memantau dan memberantas berbagai tindakan korupsi yang menghambat investasi dan pembangunan di NTT. “Fraksi Gerindra sepakat dan mendukung Kejati NTT melakukan upaya pemulihan kerugian negara yang dialami oleh Bank NTT dengan melakukan penyitaan aset serta uang milik kreditur macet agar Bank NTT bisa sehat kembali,” kata Yan Windi.

Upaya penegakan hukum, pemulihan kepercayaan publik terhadap Bank NTT, erta pemulihan kerugian negara melalui tindakan penyitaan aset dan uang oleh pihak Kejaksaan harus dibarengi dengan perbaikan internal di tubuh Bank NTT.

“Fraksi Gerindra mengkritisi kinerja pengawasan internal yang lemah dan bolong-bolong sehingga praktik menyimpang yang berakibat kerugian negara, hilangnya uang rakyat NTT di Bank NTT bisa dengan mudah terjadi. Pengawasan internal ini sudah semestinya menjadi tanggung jawab jajaran Komisaris,” tegasnya.

Yan Windi menyampaikan, Fraksi Gerindra meminta Gubernur NTT sebagai pemegang saham mayoritas bersama Bupati dan Walikota sebagai pemegang saham agar segera mengevaluasi kinerja pengawasan internal Bank NTT melalui jajaran Komisaris.

Dilansir Kompas.com, Kejaksaan Tinggi NTT kembali menangkap dua dari tujuh orang yang terlibat dalam kasus kredit macet Bank NTT Cabang Surabaya Tahun 2018 senilai Rp 149 miliar. Keduanya berinisial SK dan IN.

Kepala Kejaksaan Tinggi NTT Yulianto mengatakan, SK ditangkap di sebuah perumahan di Setiabudi, Jakarta Selatan. Setelah ditangkap, SK diterbangkan ke Kupang, Rabu (24/6/2020) sekitar pukul 14.35 Wita.

“SK ini mengajukan kredit sebesar Rp 10 miliar. Setelah itu, dia tidak bayar sama sekali, macet,” ungkap Yulianto, kepada sejumlah wartawan, di Kantor Kejati NTT, Rabu sore.

Sedangkan IN ditangkap di Rumah Sakit Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rabu. Dia ditangkap saat melakukan pertemuan bisnis di rumah sakit tersebut. Setelah ditangkap, IN dibawa dan ditahan sementara di Rutan Salemba, Cabang Kejaksaan Agung. Selanjutnya dibawa dan tiba di Kupang, Kamis sekitar pukul 13.50 WITA.

Tersangka IN merupakan debitur dengan nilai kredit sebesar Rp 10 miliar dan kredit yang macet sebesar Rp 10 miliar. Dengan ditangkapnya SK dan IN, saat ini pihaknya telah berhasil menahan tiga orang dari total tujuh orang pelaku.

Sebelumnya, petugas telah menangkap YRS. Total kredit yang diajukan oleh tujuh orang sebesar Rp 149 miliar. Dari jumlah itu, Rp 126 miliar merupakan kredit macet.

Sebelumnya diberitakan, pihak Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (NTT), menahan YRS seorang debitur, karena terlibat dugaan korupsi penyaluran kredit modal kerja dan kredit investasi di kantor Cabang Bank NTT Surabaya tahun 2018 senilai Rp 149 miliar.

Kepala Kejaksaan Tinggi NTT Yulianto mengatakan, YRS ditahan setelah menjalani pemeriksaan selama delapan jam oleh penyidik. “Estimasi kerugian negara sementara mencapai Rp 126 miliar dari Rp 149 miliar yang diajukan kredit modal kerja dan kredit investasi,” ungkap dia.

Selain tersangka YRS, penyidik Kejati NTT juga telah menetapkan enam orang debitur lainnya sebagai tersangka dalam kasus ini. Enam orang debitur itu, yaitu SS, LML, WK, SK, MR, dan IN. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan