oleh

Indonesia Belum Capai Puncak Pandemi Covid-19

-News-556 views

RADARNTT, Kupang – Indonesia belum mencapai puncak pandemi Covid-19 hal ini dapat diukur dari jumlah kasus harian yang masih fluktuatif dan belum menunjukkan data testing yang masif. Demikian tegas Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), dr Syahrizal Syarif dalam acara dialog Metro TV belum lama ini.

Senada dengannya, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) juga menyatakan kemampuan tes PCR untuk virus Corona di Indonesia belum maksimal. IDI menilai hal itu menjadi indikator Indonesia saat ini belum bisa mencapai puncak pandemi virus Corona.

“Saat ini kemampuan pemeriksaan rapid test massive PCR belum maksimal. Masih banyak ODP, PDP, dan OTG yang belum dilakukan dan mendapatkan hasil tes konfirmasi PCR-nya. Begitu juga dengan tracing kontak yang juga harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan PCR swab. Hal ini lah yang menjadi indikator bahwa kita belum mencapai puncaknya pandemi Covid-19 di Indonesia,” kata Wakil Ketua Umum PB IDI dr. Adib Khumaidi kepada wartawan, pekan lalu di Jakarta.

Update data nasional per 26 Mei 2020, positif 23.165, sembuh 5.877, meninggal 1.418.

Untuk provinsi NTT, hingga pekan ini diperkirakan jumlah sampel Swab yang sudah dilakukan pemeriksaan masih di bawah 1000 sampel. Dari jumlah sampel itu yang terkonfirmasi positif sebanyak 85 orang dan dari jumlah itu, 9 orang dinyatakan sembuh dan 1 meninggal dunia.

Jumlah PDP yang meninggal dunia sudah mencapai belasan orang. Dan transmisi lokal ada 7 kasus di Kota Kupang dengan riwayat kontak mencapai ratusan orang. Sejauh ini, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melakukan pemantauan, pemeriksaan rapid test dan swab test bagi yang punya gejala, sedangkan yang tidak punya gejala melakukan isolasi mandiri.

Sehingga keputusan bersama untuk kembali berkantor, bersekolah dan beribadah yang disepakati Gubernur NTT bersama Bupati dan Walikota belum menjadi solusi terbaik. Namun, setidaknya didasari pertimbangan bahwa pandemi Covid-19 ini tidak mesti ditakuti berlebihan tapi wajib dihadapi dengan penuh kewaspadaan.

Demikian tegas Dosen FISIP Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Urbanus Ola Hurek, kepada media ini via seluler, Selasa (26/5/2020) malam.

Menurut Ola Hurek, roda pemerintahan dan pelayanan dasar publik yakni kesehatan, pendidikan serta ekonomi mesti dijalankan. Walaupun keputusan tersebut mengandung resiko. Hal yang patut disikapi pemerintah adalah bahwa dengan keputusan tersebut pemerintah tetap giatkan gencarkan edukasi dan sosialisasi agar protokol standar, seperti: wajib bermasker, cuci tangan dengan sabun, jaga jarak tetap diberikan kepada masyarakat luas.

“Bahwa sebagian besar masyarakat yang familiar dengan medsos boleh diklaim “ahli Covid-19”. Namun masyarakat “ahli covid” tersebut baru sebatas membaca dan membagikan kepada pihak lain dan belum tentu pribadinya paham apalagi mengimplementasikan. Temuan riset Tim JAKKER NTT bahwa masih rendah pengatahuan masyatakat dalam pencegahan dapat menjadi rujukan kebijakan Pemprov/Pemkab,” kata Ola Hurek.

Dia menyarankan agar Pemprov/Pemkab lebih giat melakukan edukasi dan sosialisasi agar tercapai perilaku hidup sehat masyarakat dalam menyikapi corona virus dalam keseharian. Dengan demikian, lanjut Ola Hurek, keputusan berkantor, bersekolah dan beribadah dapat dijalankan masyakakat dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab terhadap kesehatan secara pribadi.

Di sisi lain pemerintah tidak lepas tanggungjawab, tegas Ola Hurek. Bahwa urusan kesehatan menjadi tanggungjawab pribadi setiap orang namun pemerintah tetap mengontrol, mengendalikan dan mengevalusi kebijakan ini. Manakala meninggi dan massive penularan maka karantina/PSBB diterapkan lagi.

“Alokasi APBD untuk edukasi, sosialisasi serta kontrol, pengendalian dan evaluasi menjadi sangat urgen ketika dilonggarakan kebijakan penanganan Covid-19 di NTT,” tegas Ola Hurek. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan