oleh

Insinerator RS Carolus Borromeus Rusak, Pembakaran Limbah Medis dilakukan di PT Semen Kupang

RADARNTT, Kupang – Alat insinerator pembakaran limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan dari tindakan medis sangat dibutuhkan di tengah merebaknya Covid-19 yang tentunya menghasilkan banyak limbah medis dalam penanganan pasien maupun ODP.

Direktur RS Sint Carolus Borromeus Kupang, dr Herly Soedarmadji mengatakan bahwa insinerator pembakaran limbah B3 milik rumah sakit itu sedang rusak, menanti alat dan teknisi untuk perbaikan.

“Sementara Incenerator RSCB dalam proses perbaikan jadi sementara belum terima limbah dari RS lain,” tutur dokter Herly, kepada media ini, Selasa (19/5/2020) pagi via seluler.

Pihaknya masih menunggu alat dan teknisi dari Bandung untuk perbaikan. “Kami masih tunggu pesanan alat dan teknisi dari Bandung yang kerjakan,” kata dokter Herly menambahkan.

Mencermati kondisi yang cukup mengkhawatirkan bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan di tengah pandemi Covid-19 yang semakin meningkat di provinsi NTT yang mencapai 71 kasus positif saat ini. Eksekutif Wilayah WALHI NTT, Umbu Wulang mengatakan, masih minimnya upaya pencegahan yang komprehensif dari hulu ke hilir penanganan sampah, khususnya limbah B3.

Misalnya, kata Umbu Wulang, masih lemahnya fungsi pengawasan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan provinsi NTT. “Dimanakah limbah medis selama ini diolah dan dibuang bahkan jauh sebelum pandemi Covid-19. Karena aturannya kalau tidak punya insenerator harus dikerjasamakan dengan pihak ketiga yang punya lisensi pengolahan limbah B3 dan pihak ketiga itu belum ada di NTT,” tegas Umbu Wulang via pesan whatsapp, Selasa (19/5/2020) siang.

Untuk itu, ia meminta agar sesegera mungkin melakukan pengelolaan limbah medis karena akan berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan pencemaran lingkungan. Apalagi rumah sakit di NTT rata-rata berada dekat dengan pemukiman. “Dinas lingkungan hidup dan kehutanan provinsi harus bergerak cepat untuk menangani ini,” imbuhnya.

Umbu Wulang juga menegaskan, harus ada pihak yang bertanggung jawab untuk menyampaikan secara terbuka ke publik bagaimana pengolahan limbah B3 infeksius (penyakit menular) penanganan Covid-19. “Agar publik tahu dan tidak makin kuatir dan merasa terancam akibatnya minimnya penanganan limbah B3,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan provinsi NTT, Ferdi Jefta Kapitan menjelaskan, untuk saat ini semua limbah medis dilakukan pembakaran di PT Semen Kupang sesuai diskresi yang diberikan Menteri LHK dalam situasi pandemi Covid-19.

“Kita diberikan diskresi oleh Menteri LHK sampai tanggal 16 Desember 2020 untuk melakukan pembakaran limbah medis di PT Semen Kupang,” kata Kapitan.

Ia menjelaskan bahwa semua dilakukan sesuai standar, mulai dari pengumpulan limbah medis di masing-masing rumah sakit dan dijemput oleh transporter juga berdasarkan protokol kesehatan yang dilakukan oleh pihak PT Semen Kupang dalam pengawasan DLHK provinsi NTT.

“Saat ini kita juga sedang membangun insinerator sendiri untuk pembakaran limbah medis, namun akibat korona masih terhambat pelaksanaan pekerjaan,” imbuhnya.

Ferdi Kapitan menambahkan, untuk ke depan pemerintah provinsi akan memiliki insinerator sendiri untuk melakukan pembakaran limbah medis, sehingga tidak lagi dilakukan di PT Semen Kupang atau diekspor ke luar daerah.

Dalam suasana pandemi ini, lanjutnya, DLHK provinsi NTT selalu intens melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap penanganan limbah B3 hasil penanganan Covid-19 di NTT yang sudah berlangsung hampir lima bulan terakhir dalam menangani pasien maupun ODP, di 11 RS Rujukan, 11 RS Second Line dan 25 RS Penyangga. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan