oleh

Kota Kupang Waspada Kekeringan, Pemkot Penuhi Kebutuhan Air Bersih Warga

-News-343 views

RADARNTT, Kupang – Deputi Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Rima Melani Bilaut meminta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang agar waspada terhadap ancaman bencana kekeringan yang berpotensi melanda daerah itu dan segera mencarikan solusi memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga.

“Pertengahan tahun 2019 lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data bahwa lebih dari 1.969 Desa di Indonesia terdampak bencana kekeringan. Dari total Desa tersebut, NTT berada di posisi pertama sebagai penyumbang angka terbanyak yakni 851 Desa,” sebut Rima sapaannya, dalam rilis kepada media ini, Rabu (23/9/2020).

Menurut Rima, di Kota Kupang ada sekitar 14 Kelurahan yang mendapat air dari sumber Bendungan Tilong yang dikelola BLUD SPAM tetapi dari jumlah itu, tiga kelurahan diantaranya yakni Naimata, Penfui dan Tuak Daun Merah (TDM) masih mengalami krisis air.

“Tapi di Kota Kupang ada 14 Kelurahan yang dapat air dari bendungan Tilong yang dikelola Badan Layanan Umum Daerah Sistem Penyediaan Air Minum (BLUD SPAM), tapi dari 14 klurahan itu, tiga diantaranya: Naimata, Penfui dan TDM mengalami krisis air terparah,” jelas Rima.

Ia mengutip rilis ANTARA NTT, (4/9/2020) bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan pemerintah dan masyarakat di NTT untuk mewaspadai ancaman bencana kekeringan meteorologis.

“Berdasarkan analisis terkini pada 31 Agustus 2020, 100 persen dari total zona musim di provinsi NTT masih berada dalam periode musim kemarau. Lebih 70 persen kemungkinan, beberapa daerah akan mengalami curah hujan yang sedikit. Bencana kekeringan meteorologis ini akan berdampak pada ketersediaan air bersih warga NTT khususnya di Kota Kupang,” terang Rima.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, jumlah penduduk Kota Kupang sebanyak 412.708 jiwa, dengan kebutuhan air bersih masing-masing jiwa adalah sebanyak 100 liter per hari. Maka dalam sebulan kebutuhan akan air bersih masyarakat Kota Kupang bisa mencapai 1.238.124 meter kubik.

“Belum lagi di tengah situasi pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat lebih sering mencuci tangan, pakaian dan mandi, tentu meningkatkan jumlah kebutuhan air masyarakat,” tegas Rima.

Rima menjelaskan, selama ini dalam memenuhi ketersediaan air bersih di Kota Kupang, pemerintah Kota Kupang bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum Daerah (PDAM) Kota Kupang. PDAM Kota Kupang pun melayani pelanggannya sebanyak 12.521 pelanggan (aktif 10.124), dengan sumber-sumber seperti 14 sumur bor, 2 sumber air permukaan, dan curah BLUD SPAM NTT.

Sumber-sumber air tersebut, sebut Rima, memiliki kapasitas produksi sebanyak 146,6 liter per hari atau mencapai 4.544,6 liter per Bulan. “Pada fakta yang ditemukan di lapangan, air yang dialirkan oleh PDAM tidak mengalir dengan lancar. Padahal Walikota Kupang dalam kampanyenya menjanjikan air PDAM akan mengalir empat jam per hari,” jelasnya mengingatkan.

Melihat jumlah kebutuhan dan ketersediaan air bersih masyarakat Kota Kupang, WALHI NTT menilai bahwa Pemerintah Kota Kupang belum mampu memenuhi kebutuhan dasar yakni air bersih bagi Masyarakatnya.

Untuk itu, WALHI NTT meminta Pemkot Kupang untuk: pertama, mewaspadai ancaman bencana kekeringan meteorologis ini sebagai ancaman yang serius, kedua, melakukan konservasi terhadap sumber-sumber air di Kota Kupang, ketiga, melakukan penghematan air dari skla industri, perkantoran hingga rumah tangga, keempat, memastikan setiap warga tidak kekurangan air, kelima, menertibkan sumur-sumur bor yang illegal atau tidak memiliki ijin, keenam, melakukan kampanye perlindungan air secara meluas di Kota Kupang, ketujuh, perlu mengeluarkan kebijakan perlindungan sumber-sumber air di Kota Kupang.

Saat dikonfirmasi terkait pelayanan air bersih oleh PDAM Kota Kupang, Lurah TDM Imanuel Uly mengatakan, jaringan pipa air minum sudah dibangunan namun belum dialiri air yang rencannya diambil dari sumber air bendungan Tilong.

“Di kelurahan TDM sampai saat ini belum ada air PDAM Kota Kupang yang menurut informasi ditarik dari bendungan Tilong,” kata Uly.

Diajelaskannya bahwa untuk memenuhi kebutuhan air minum, masyarakat TDM membeli air tengki. Kondisi ini cukup memberatkan, terutama bagi warga yang kurang mampu.

Untuk itu, Ia berharap agar bisa segera dilayani air PDAM untuk menjawab kebutuhan air bersih bagi warga yang akan semakin meningkat di musim kemarau seperti saat ini. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan