oleh

Labi, Jurnalis Papua Penerima Beasiswa

-News-367 views

ROBERT Kowa Kobun tegas melarang Frans Labi Kobun mengikuti jejaknya taputar (keliling) Kupang menjajakan koran dan majalah di kota Karang itu. Tahun 1995, Frans Kobun baru tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Timor. Selain keinginan Robert agar Frans Kobun, sang adik fokus kuliah ia tak sudi Frans ikut terbakar matahari kota Karang Kupang yang panas plus ganas. Frans masih tergolong muka baru sehingga ia perlu waktu lama menyesuaikan diri agar selalu sehat dan fokus menuntaskan kuliah. Pekerjaan sambilan menjadi loper koran cukup dilakukan sebatas Robert Kobun, kakak sulungnya di sela-sela menunaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Kupang.

“Almahrum besa (sulung) Robert Kobun, minta agar saya tak usah ambil bagian menjadi loper koran. Saya diminta fokus dulu kuliah. Saya kasihan saja kakak saya ini. Saya merayunya agar mengijinkan saya ikut jualan koran. Ia pun melunak. Apalagi banyak mahasiswa dari kampung yang sedang kuliah di Kupang juga nyambi jadi loper koran,” ujar Frans Kobun.

Ada beberapa loper koran dari kampung halaman kala itu punya uang bemo. Bisa beli sayur, ikan, kopi, gula bahkan punya buku dari hasil menjadi loper koran. Beberapa di antaranya, kata Frans, seperti Lodofikus Liwat Kalang, kini guru SMA Negeri Nagawutun; John Uring Botoor SH, lulusan FH Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan kini Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Perijinan Kabupaten Lembata; Apolonaris Kilok, lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unwira dan kini menjadi aparatur sipil negara (ASN) di Lembata; adik kandung Rikard Kobun, Kepala SMPN 2 Buyasuri, dan Paulus Lima Mudaj, Kepala SMP Negeri 1 Wulandoni, desa Puor, kampung halaman Frans Kobun.

“Saya juga kepingin dompet saya juga ada uang hasil jerih payah sendiri,” kata Frans Kobun.

Aktivitas menjadi loper koran bukan karena kedua orangtua pasangan suami-isteri (pasutri) petani sederhana Viktor Bunga Kobun-Albina Niga Botoor tak mampu membiayai mereka semua untuk kuliah. Selain kedua orangtua tinggal di kampung di Puor, Wulandoni, Lembata, akses mengirim uang (wesel) via kantor Pos dan Giro Lewoleba bukan pekerjaan mudah. Sang ayah, Viktor Bunga Kobun sudah lama berpulang dan tinggal sang ibu terkasih bersama dengan anak-anak perempuan yang mengambil urusan membiayai semua kuliah Robert dan Frans.

Kadang, kata Frans, sang ibu dan kakak perempuan mesti berjalan kaki sejauh 30 KM dari Puor ke Lewoleba sekadar mengirim uang kuliah dan biaya hidup di Kupang via kantor Pos dan Giro Lewoleba. Padahal, jika melihat kerabat alm Viktor Bunga kala itu, banyak yang sukses di bidang tugasnya sehingga dengan sendirinya baik Robert dan Frans memiliki juga kemudahan kuliah atau biaya hidup di Kupang.

“Kakak dan adik kandung almahrum ayah Viktor Bunga Kobun sudah memiliki pekerjaan yang baik menurut ukuran kami orang kampung. Bapa Felix Kobun saat itu sudah memiliki posisi penting di Pemkab Flores Timur. Kemudian bapa Vincent Sari Kobun adalah dosen senior di FIA Undana Kupang. Lalu bapa bungsu kami, Yan Bala Kobun adalah pegawai Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kupang. Mereka semua juga berjuang agar kami semua anak-anaknya mesti sekolah hingga kuliah. Karena itu kami juga mesti berjuang sekuat tenaga agar bisa meraih cita-cita. Paling kurang bisa lulus kuliah. Nasehat ayah dan ibu selalu kami taati. Sukses bukan sekadar dipatok dari seberapa banyak kemiri, kopi atau kopra orangtua lalu dijual mendapatkan uang. Namun, lebih penting dari itu kami semua perlu menanamkan etos kerja dalam diri bahwa kami lahir dan besar dalam kondisi serba minim dan bertekad baja menjadi orang di kemudian hari,” kata Frans, bekas wartawan Pos Kupang, harian paling besar di Kupang sejak terbit 1992.

Kabar dari Papua

Pagi ini, saya ditelpon Frans Labi Kobun dari Merauke, kabupaten paling ujung timur Indonesia, tanah Melanesia, Papua. Setelah say hello, ia basa basih sejenak ala kampung. Frans lalu menyebut ruang tunggu Bandara El Tari Kupang, kantor Telkom di depan Katedral Kristus Raja Kupang, Rumah Sakit WZ Yohannes Kupang, trotoar depan kantor Korem Wirasakti Kupang, kantor Gubernur NTT di bilangan Jalan El Tari. Lokasi-lokasi itu menjadi tempat mangkal Frans Kobun tempo doeloe sekadar berburuh rupiah agar asap dapur tak mati di tengah peziarahan merampungkan studi di Kupang.

“Setelah jam kuliah saya segera ke Bandara El Tari menjemput koran atau media lain terbitan luar NTT. Kompas, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Bali Pos. Untungnya sangat menggiurkan, Rp. 350 per eksemplar. “Puji Tuhan. Ada kabar baik untuk kaka. Saya salah satu dari 10 wartawan Indonesia ditetapkan sebagai penerima beasiswa. Panitia seleksinya adalah Aliansi Jurnalis Independen DKI Jakarta dan World Resourches Institute. Nilai beasiswa sebesar Rp. 10 juta. Terima kasih untuk dorongan dan sharing pengalaman kaka sebagai sesama jurnalis dari kampung halaman,” ujar Frans Kobun kepada saya.

Frans saat ini bekerja sebagai wartawan Jubi liputan Merauke. Jubi adalah tabloit nomor satu di tanah Papua yang paling diminati pembaca berkat sajiannya yang edukatif.

Frans mengabarkan ikhwal di balik penetapan dirinya sebagai satu dari 10 wartawan penerima beasiswa tersebut. Awalnya, sebanyak 100 jurnalis di seluruh Indonesia mengikuti lokakarya, workshop melalui aplikasi zoom meeting yang diatur AJI Jakarta bekerjasama dengan World Resources Institute. Pasca workshop dilanjutkan usulan, proposal beasiswa peliputan tentang eksplorasi kondisi lahan gambut di Indonesia menggunakan PRIMS gambut oleh masing-masing wartawan. Usai rancangan usulan dikirim, lalu diteliti dan dinilai tim juri.

“Hasilnya 70 jurnalis lempar handuk. Kami 30 orang mengikuti tahapan selanjutnya. Beberapa kali pertemuan, dilanjutkan presentase rancangan liputan oleh setiap jurnalis melalui zoom meeting kepada sejumlah mentor di Jakarta. Mengingat jumlahnya banyak, panitia membaginya dalam beberapa sesi agar setiap wartawan melakukan presentasi,” terangnya.

Frans Kobun, penerima Penghargaan Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak United Nations Children’s Fund (Unicef), Badan Dunia PBB bidang Anak Tahun 2020 mengaku, presentasi proposal peliputan itu menjadi penentu siapa wartawan pemenang. Dari 30 wartawan akan diambil sepuluh jurnalis terbaik dari setiap daerah guna mendapatkan beasiswa peliputan eksplorasi kondisi lahan gambut di Indonesia. Hasilnya pun telah diumumkan secara resmi Senin, (10/8/2020) malam. Ia termasuk dalam 10 jurnalis dinyatakan lulus mengikuti program beasiswa. Frans segera melaksanakan peliputan setelah mendapat petunjuk lebih lanjut.

“Saya lolos dalam proses seleksi setelah mengikuti workshop dan pembuatan proposal peliputan sekaligus presentase beberapa hari lalu. Terimakasih Tuhan untuk suatu anugerah besar yang saya dapatkan. Juga dukungan rekan-rekan jurnalis di Merauke. Beasiswa ini tak akan membuat saya merasa hebat. Ini sekadar motivasi sehingga dinyatakan lolos. Saya tentu bangga karena ikut berkompetisi bersama ratusan wartawan seluruh Indonesia,” ungkap Frans yang juga jurnalis lepas Metro Merauke.

Frans mengaku akan melakukan liputan khusus terkait lahan gambut di kampung Sumber Mulya, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua. Saat ini di Sumber Mulya terdapat kurang lebih 100 hektar lahan gambut. Hormat dibri, ade. Tete Manis sayang ko. Wa wa wa… (Ansel Deri)

Komentar

Jangan Lewatkan