oleh

Mangrove Ndii Lifu, Destinasi Wisata Andalan Rote

RADARNTT, Ba’a – Hutan mangrove Ndii Lifu salah satu potensi destinasi wisata di pesisir pulau Rote, yang kini semakin tertata dengan baik.

Hutan mangrove Ndii Lifu memiliki daya pikat dari tanaman bakau berusia ratusan tahun, hamparan hutan bakau di sepanjang garis pantai Dusun Baudale, Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur itu, tampak subur menghijau.

Kawasan yang bakal dikembangkan sebagai areal konservasi dan wisata ini seluas 2,5 hektare. Kepala Desa Maubesi, Firlot Pelokila mengatakan sarana yang dibangun antara lain, gazebo dan titian kayu sepanjang 200 meter.

“Ini untuk menarik minat wisatawan datang kemari,” kata Firlot, Selasa (7/1/2020).

Pembangunan sarana prasarana itu sudah dilakukan sejak 2018. Pada tahun 2019 ada penambahan pembangunan titian kayu sepanjang 151 meter, jadi yang sudah ada sekarang sepanjang 350 meter.

“Bantuan Kementerian Desa sebanyak Rp 300 juta untuk titian kayu sepanjang 100 meter ditambah gapura dan Lopo dan menara pandang,” ujarnya.

Ketersediaan sarana prasarana menurut Firlot, mutlak dibutuhkan untuk menunjang daya tarik Hutan Mangrove Ndii Lifu sebagai destinasi wisata baru yang dikembangkan di wilayahnya. Di tahun 2020 ini, direncanakan membangun kolam renang dan taman bermain anak.

Diharapkan, tersedianya kebutuhan pendukung tempat wisata akan terpenuhi dan mendatangkan pemasukan serta membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.

“Kalau sarana sudah tersedia, pengunjung akan merasa nyaman, bersantai bersama keluarga dengan biaya murah tapi berkualitas,” harap Firlot.

Saat ini, pengunjung di kawasan hutan mangrove Ndii Lifu hanya dipungut karcis sebesar Rp 2.000, Firlot menyadari tidak dapat menetapkan harga karcis mahal. Mengingat, fasilitas yang ada masih terbatas. Namun, jika nanti fasilitasnya lengkap harga tiket masuk akan dinaikkan secara bertahap.

“Tarif Rp 2.000 untuk biaya perawatan, kedepan semua fasilitas sudah lengkap baru akan dinaikan,” kata Firlot.

Ia melihat, tingkat kunjungan hutan mangrove Ndii Lifu sudah mulai meningkat. Hal itu juga terlihat dari warga yang mulai membuka warung-warung di sekitar lokasi. Sebelum dioptimalkan sebagai destinasi wisata, warga enggan membuka Lapak jualan karena tingkat kunjungan wisatawan yang masih sedikit.

“Kunjungan terlihat banyak di akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Tapi sudah lumayan dibandingkan sebelumnya,” kata Firlot.

Dengan panorama yang menakjubkan, hutan mangrove Ndii Lifu juga populer dengan spot alam untuk berfoto. Perpaduan jembatan kayu, rawa dan hutan Mangrove menjadikan hasil foto lebih mempesona.

Pohon-pohon bakau yang ada disitu diperkirakan berumur 100 tahun hingga 1.000 tahun. Itu tampak dari lingkar batang-batang mangrove yang rata-rata berdiameter 2 hingga 4 meter. Suasana hutan mangrove itu selaras dengan perairan jernih nan tenang yang memanjang hingga Pantai Tulandale di Kecamatan Lobalain. Ingin berkunjung? (IP/RN)

Komentar