oleh

NasDem dan Tempo Institut Adakan Pelatihan Jurnalistik

RADARNTT, Jakarta – Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang menulis berita dan siaran pers bagi para Tenaga Ahli DPR RI, Fraksi Partai NasDem dan Tempo Institut mengadakan pelatihan jurnalistik.

Wartawan senior Tempo, Susandijani mengatakan gunakanlah teknik penulisan yang benar ataukah kata aktif dalam menulis siaran pers atau berita. Selain itu juga, jangan gunakan kop surat dalam menuliskan siaran pers atau berita.

“Hal terpenting dalam menulis berita atau siaran pers yakni seseorang penulis harus ketahui delapan informasi layak muat dan sepuluh struktur penulisan siaran pers yang telah dijelaskan dalam sesi ini. Ingat jangan gunakan kata pasif dalam menulis berita,” kata Susan sapaanya sebagai Narasumber di sesi kedua dalam acara kelas intensif bekerja dengan media antara Tempo Institut dengan Fraksi NasDem DPR RI, Selasa (3/11/ 2020) di Jakarta.

Lanjutnya, selain teknik penulisan, kalau bisa gunakanlah teknik 5 W + 1 H, yaitu: What (Apa yang terjadi?); Who (Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu?); Why (Mengapa hal itu bisa terjadi?); When (Kapan peristiwa itu terjadi?); Where (Di mana peristiwa itu terjadi?) dan How (Bagaimana peristiwa itu terjadi?).

Sebelumnya, Susan menjelaskan, pelatihan media Tempo kepada Tenaga Ahli Fraksi NasDem DPR RI yang diadakan di saat ini merupakan sebuah langkah awal yang sangat berharga dan sangat bagus.

“Pelatihan ini akan membantu para Tenaga Ahli Fraksi NasDem DPR RI untuk bisa menulis siaran pers, berita maupun opini. Juga, ketika kita banyak menulis siaran pers dan ditayang di media ternama seperti Tempo, Detik.com, Kompas.com, dan lainnya maka dengan sendiri Partai NasDem akan cepat dikenang dan lebih popular,” jelas Susan

Menuliskan siaran pers atau berita tidaklah sulit, sebab jika kita sudah mengetahui teknik atau strateginya tentu kita gampang dan mudah menuliskannya.

Di sisi lain, Ia juga menjabarkan beberapa poin atau langkah-langkah yang harus diketahui oleh para penulis siaran pers, seperti cantukan logo, sifat rilis, judul, lead, batang tubuh, tanda selesai, nara hubung, boilerplate, respositori, dampaknya, kedekatannya, prominence, kehangatan, human interest, dan ketokohannya.

Susan menambahkan, penulisan siaran pers tidak boleh menggunakan kata sifat ini, seperti orang itu ganteng; buah itu manis, melainkan tulislah dengan kata “Sosok pria kulit hitam dan hidung mencung itu telah berkontribusi bagi Partai NasDem,” tutup Susan.

Sementara itu, Fridrik Makanlehi sebagai peserta pelatihan mengatakan, pelatihan ini sangat membantu Tenaga Ahli Fraksi NasDem dalam menuliskan siaran pers dan berita yang baik dan benar sesuai kaidah dan tekniknya.

“Tentu, pelatihan tetang penulisan siaran pers dan berita yang diadakan Media Tempo Istitut bekerja sama dengan Fraksi Partai NasDem DPR RI akan membantu dan menambah pengetahuan Tenaga Ahli Fraksi dalam mengembankan tugasnya sebagai supporting system kedewanan,” kata Fridrik yang juga merupakan Tenaga Ahli Fraksi NasDem DPR RI

Menurut Fridrik, pelatihan seperti ini perlu ditingkatkan dan perlu diadakan lagi. Lebih khsusunya buat Tenaga Ahli Anggota yang melekat langsung dengan Anggota DPR RI

“Saya sendiri baru pertama kali mengikuti pelatihan kewartawanan. Selama ini, Saya cuma belajar autodidak baik lewat Internet, Youtube dan bertanya ke jurnalis lain. Sehingga pelatihan ini perlu diadakan lagi untuk Tenaga Ahli Anggota DPR RI,” imbuh Fritz sapaan hangatnya.

Pelatihan dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) selama enam hari sejak Senin, 2 Nopember sampai Sabtu, 7 Nopember 2020. Diikuti oleh 27 orang Tenaga Ahli Fraksi NasDem dan peserta dari Tempo 3 orang, total peserta 30 orang. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan