oleh

Patuhi Protokol Kesehatan di ‘New Normal’

-News-514 views

RADARNTT, Kupang – Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, pada saat ini masyarakat diharapkan dapat beradaptasi dengan fase kehidupan normal yang baru atau new normal. Yakni menjalani gaya hidup baru dengan mengedepankan protokol kesehatan, serta terus produktif selama pandemi virus corona atau Covid-19.

“Kita ketahui penelitian yang sudah dilakukan pakar dunia, sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang digunakan untuk menangani, mencegah, dan mengobatinya. Maka saat ini hal yang terbaik adalah memutuskan rantai penularan,” jelasnya saat siaran pers di BNPB, Selasa (19/5/2020).

Untuk itu, upaya promotif dan preventif menjadi kunci mengatasi situasi pandemi saat ini, selain imbauan mematuhi protokol kesehatan yang selalu ditekankan oleh pemerintah sejak awal meletus kasus pertama di tanah air.

Ada dua kata kunci yang penting untuk digaris bawahi, yaitu: patuhi dan protokol, berarti ada dua pihak disini yaitu masyarakat dan pemerintah. Masyarakat mematuhi dan Pemerintah menyediakan sarana protokol. Karena protokol bukan sekedar peraturan saja tetapi ada hal lainnya sebagai ikutan untuk kelengkapan melayani masyarakat antara lain: Edukasi, Pengawasan, Informasi, Ketersediaan Sarana Medis dan Para Medis.

Keempat perangkat ini harus disiapkan oleh pemerintah, jika tidak siap maka bisa berakibat fatal dan memakan banyak korban. Sehingga DPR(D) sebagai wakil rakyat, hendaknya melakukan kontrol keempat perangkat ini, dalam memanfaatkan anggaran yang sudah dialokasikan untuk penanganan situasi pandemi Covid-19 dan dampaknya.

Jangan sampai justru masyarakat yang disalahkan, dengan dijadikan stikma, tidak ikut peraturan, bandel, tidak pakai masker dan sebagainya mungkin saja kesalahan edukasi ke masyarakat. Tetapi akhirnya masyarakat yang dijadikan objek kegagalan.

Ketika Bupati Sikka, mengumumkan berlaku new normal, bagaimana dengan sikap gereja di nian Sikka, apakah sertamerta membuka diri dengan melakukan segala ritual keagamaan dan melibatkan banyak orang? Dengan melihat kondisi disiplin dan perilaku hidup yang sangat bebas dan jauh dari protokoler Covid-19, maka gereja perlu hati- hati untuk melakukan perayaan yang melibatkan umat. Demikian ditegaskan Yohanes Gaharpung kepada media ini, Kamis (5/6/2020).

“Takutnya jika terjadi penyebaran virus yang luar biasa, maka institusi gereja akan ditarik- tarik kepada persoalan pandemi padahal yang kita imani institusi gereja adalah suci. Sehingga pertanyaan kepada pengambil kebijakan di Kabupaten Sikka new normal ini sejatinya, PRO EKONOMI, PRO POLITIK atau PRO LIVE,” kata Gaharpung.

Kalau gereja, kata Gaharpung, saya yakin pro live karena tidak ada artinya ekonomi politik kalau kehidupan ini punah. Dan gereja sangat mengutamakan kehidupan. “Kita harus jujur katakan kondisi Sikka masih belum nyaman dengan virus yang mematikan ini dengan posisi 27 kasus positif Covid-19. Oleh karena itu, institusi gereja perlu hati hati dalam menyikapi new normal,” tegasnya.

Hal senada disampaikan praktisi pendidikan di Kota Kupang, Beny Andri Mauko, pemerintah jangan cepat membuka sekolah, mengingat karakteristik kita terlebih siswa tidak memberikan jaminan untuk kita bisa menerapkan protokoler kesehatan di lingkungan sekolah.

“Proses pembiasaan butuh waktu dan tidaklah mudah. Karena itu hemat saya, jangan cepat-cepat pemerintah membuka sekolah. Sebaiknya dicarikan skema yang tepat untuk mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ),” tegas Beny Mauko.

Beny Mauko mengatakan, secara teknis bisa menggunakan moda daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan). “Tentunya hal ini sangat bergantung pada karakteristik wilayah, kondisi sosial ekonomi siswa/orang tua dan kebutuhan masing-masing sekolah,” pungkasnya. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan