oleh

Peduli Autisme di tengah Pandemi Covid-19

RADARNTT, Jakarta – Setiap tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia. Setiap tahun pula, selalu diperingati dengan tema yang berbeda, tahun ini mengangkat tema The Transition of Adulthood.

Hari Peduli Autisme Sedunia tahun ini agak berbeda, yakni diperingati ditengah pandemi Covid-19. Di Indonesia, hingga tanggal 2 April 2020 jumlah orang yang dinyatakan positif sebanyak 1.790 dengan 112 sembuh dan 170 meninggal.

Oleh karena itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA DR. dr. Fidiansyah, Sp.KJ, MPH mengatakan ditengah situasi sekarang ini, peran keluarga sangatlah penting dalam memberikan dukungan dengan menciptakan suasana yang aman dan nyaman selama di rumah serta pendampingan bagi anak gangguan spektrum autisme.

”Pada masa pandemi Covid-19 ini diharapkan keluarga tetap memberikan dukungan kepada anak gangguan spektrum autisme dengan mendampingi anak di rumah dan menciptakan suasana yang nyaman serta aman meskipun ada pembatasan sosial dan ruang gerak,” kata dr Fidiansjah.

Tak hanya mendampingi, keluarga juga diharapkan turut memberikan pemahaman serta edukasi mengenai wabah Covid-19 seraya memberikan contoh konkrit pencegahannya. pendampingan orangtua diharapkan dapat mengupayakan individu dengan GSA tidak terkena Covid-19, karena tidak dapat dibayangkan sulitnya penanganan individu dengan GSA jika terkena Covid-19.

”Keluarga diharapkan bisa menjelaskan situasi yang terjadi saat ini dan memberikan contoh perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah penyebaran Covid-19,” sambungnya.

Untuk diketahui, Berdasarkan data dari Centre of Disease Control (CDC) di Amerika memperkirakan prevalensi (angka kejadian) anak dengan Gangguan Spektrum Autisme di tahun 2018 yakni 1 dari 59 anak, meningkat sebesar 15% dibandingkan tahun 2014 yaitu 1 dari 68 anak. Sedangkan WHO memprediksi 1 dari 160 anak-anak di dunia menderita gangguan spektrum autisme.

Kementerian kesehatan terus melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan mengendalikan Gangguan Spektrum Autisme adalah diantaranya:

1. Melakukan upaya promotif dan preventif melalui media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), sosialisasi, penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat agar dapat melakukan deteksi dini Gangguan Spektrum Autisme.

2. Melaksanakan pelatihan keterampilan kecakapan hidup bagi guru dan remaja serta pelatihan pola asuh bagi kader dan orang tua.

3. Memberdayakan peran keluarga, guru dan masyarakat untuk mencegah dan mendeteksi dini tanda-tanda Gangguan Spektrum Autisme untuk dapat segera ditindaklanjuti.

Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan penderita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Autisme sekarang disebut sebagai gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD). Hal ini karena gejala dan tingkat keparahannya bervariasi pada tiap penderita. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan