oleh

Pemprov NTT Optimis 10 Ribu Hektar Program TJPS Tercapai di Akhir Tahun

-News-432 views

RADARNTT, Kupang – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) optimis program tanam jagung panen sapi (TJPS) 10.000 hektar (Ha) dapat terealisasi sampai akhir tahun 2020.

Hal ini ditegaskan dalam tanggapan Gubernur NTT terhadap pandangan umum fraksi-fraksi terhadap nota keuangan atas rancangan perubahan APBD provinsi NTT tahun anggaran 2020, yang disampaikan Wakil Gubernur Josef Nae Soi dalam rapat paripurna DPRD NTT, Senin (14/9/2020).

Dari target luasan 10.000 Ha, progres realisasi luas lahan yang ditanami sampai dengan 31 Agustus 2020 adalah 1.436,56 Ha atau 14,35%.

Josef Nae Soi mengatakan, salah satu kendala yang dihadapi adalah rendahnya ketersediaan air pada lahan pertanian.

Namun demikian, lanjutnya, sisa target areal tanam TJPS seluas 8.564,39 Ha akan dilanjutkan pada musim penghujan pada masa tanam bulan November-Desember 2020.

“Dengan demikian, Pemerintah optimis bahwa sampai akhir tahun 2020, target 10.000 Ha TJPS akan tercapai dan diharapkan dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” tegas Nae Soi.

Berikut rincian luasan program TJPS per kabupaten:

  1. Kabupaten Kupang (2.600 Ha)
  2. Kabupaten TTS (1.325 Ha)
  3. Kabupaten TTU (600 Ha)
  4. Kabupaten Belu (250 Ha)
  5. Kabupaten Malaka (1.550 Ha)
  6. Kabupaten Rote Ndao (100 Ha)
  7. Kabupaten Flores Timur (100 Ha)
  8. Kabupaten Ende (200 Ha)
  9. Kabupaten Ngada (325 Ha)
  10. Kabupaten Manggarai (100 Ha)
  11. Kabupaten ManggaraibTimur (500 Ha)
  12. Kabupaten Manggarai Barat (400 Ha)
  13. Kabupaten Sumba Timur (650 Ha)
  14. Kabupaten Sumba Tengah (500 Ha)
  15. Kabupaten Sumba Barat (100 Ha)
  16. Kabupaten Sumba Barat Daya (700 Ha)

Untuk diketahui, total anggaran yang dialokasikan untuk 10.000 Ha program TJPS adalah sebesar Rp25 Miliar di dalam APBD provinsi NTT tahun anggaran 2020.

Pegiat pembangunan pertanian, Robert N Take Lemaking mengatakan, NTT sebagai daerah kering maka pemerintah perlu menerapkan sistem pertanian hemat air, menggunakan aplikasi irigasi tetes karena teknologi ini selain menghemat air tetapi juga menghemat tenaga kerja.

“Pemerintah tidak boleh lagi menggunakan cara konvensional yang selama ini sudah dikerjakan masyarakat, tetapi harus menerapkan teknologi yang sudah berkembang pesat saat ini untuk semakin memudahkan dan memberikan hasil yang maksimal,” kata Robert.

Sehingga bagi dia, luasan lahan dan waktu bukan masalah tetapi bagaimana memilih teknologi yang tepat dan memberikan hasil yang optimal.

“Kita harus menanam tanpa mengenal musim, karena air dan hujan adalah dua hal yang berbeda.,” tegas pegiat inovasi irigasi tetes di NTT. Air bisa bersumber dari air tanah dan air permukaan, yang perlu dimaksimalkan untuk kebutuhan irigasi.

Menurutnya pemerintah perlu melibatkan semua pihak termasuk akademisi dan praktisi bidang pertanian dalam pengembangan program TJPS dengan inovasi teknologi.

Robert Lemaking menegaskan, pertanian NTT harus didorong untuk tercapainya food security (ketahanan pangan) masyarakat, karena masalah pangan menjadi masalah klasik yang turut berkontribusi pada tingginya angka kemiskinan daerah itu.

“Sehingga program TJPS juga harus didorong untuk ketahanan pangan, bukan mengejar berapa luasan yang ditanami tetapi apa benefit yang didapat petani,” tegasnya. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan