oleh

Polisi di Wilayah Konflik, Polisi Sampah, dan Bagi Tuhan

-News-411 views

PESAN singkat (short message service/SMS) lewat WhatsApp masuk di kotak telepon selular saya. Pesan itu dikirim Pak Irjen Pol (Purn) Drs Y. Jacki Uly, MH. Pak Jacki merespon SMS saya setelah beberapa hari sebelumnya, saya meminta waktu bertemu. “Saya mau memiliki Polisi di Wilayah Konflik karya bapa Jacki. Saya sudah lama diberitahu bapa Piter A Rohi, sejarahwan dan wartawan senior sesama bapa dari Sabu Raijua,” kata saya kepada Pak Jacki Uly. Dalam perjalanan karier saya di media di Ibu Kota belasan tahun, nama Jacki sudah sering saya dengar. Tatkala nongkrong di Polda Metro Jaya, di kalangan anggota polisi, nama Jacki, perwira tinggi polisi berdarah Sabu Raijua itu, sangat familiar, termasuk Irjen Pol (Pur) Drs Gories Mere. Namun, sejujurnya saya belum dan bahkan tak pernah bersua langsung. Kadang saya berani “jual nama” Pak Jacki dan Pak Gories sebagai sesama dari kampung di NTT. Saya malah sempat kesal tatkala dompet dan isinya dicopet di dalam Kopaja di sekitar Tanah Abang. “Sebaiknya bung kembalikan dompet saya. Duit saya serahkan buat kalian semua. Cukup KTP dan dokumen lain untuk saya. Di situ ada alamat kantor saya. Jadi mohon dikirim ke alamat itu. Kalau tidak maka urusannya panjang. Anda tahu siapa Hery Nahak? Beliau itu Kapolsek Kemayoran. Masih saudara saya dari kampung,” kata saya mengancam seorang tukang copet yang sempat saya tahan. Ia rupanya melihat tampang saya yang tengah pening kehilangan dompet. Sekali lagi saya “jual nama” polisi Hery. Padahal, saya sendiri belum ketemu atau pernah bersua langsung. Selang sehari, dompet dikirim ke alamat redaksi Glodok Standar, koran di bawah Jawa Pos Group. Semalam setelah kena copet, saya berdoa, memaafkan pencopet dan berharap dompet kembali ke tangan saya. Jadi barang itu. Doa orang kampung mempan. Bertemu Hery Nahak di usai acara Misa di Gereja St Agustinus Halim Perdana Kusuma, ingatan saya ke dompet yang kembali ke pangkuan tuannya.

Di waktu lain selular saya berdering. Masih pagi. Suatu waktu di Jakarta Timur. Saya diperintahkan segera bertemu Jenderal Pol (Purn) Prof Dr Koesparmono Irsan, SIK. Pak Koes, demikian sang Jenderal disapa, adalah mantan Kepala Polri. Dari balik telepon, magun Toni, mengabarkan Pak Koes siap ditemui. Magun Toni tak lain Brigjen Pol (Pur) Drs Antonius Enga Tifaona. Magun Toni adalah kolega Pak Koes di masa masih aktif. Magun Toni meminta saya bertemu Jendral Koes mendengar testimoni bagaimana sosok magun Toni Enga. “Besok kamu bisa temui Pak Koes jam 12.00 WIB. Saya sudah menghubungi beliau dan pengawal pribadinya sudah mengagendakan waktunya bertemu. Engko tida boleh terlambat,” kata magun Toni. Jawaban saya dengan magun selalu dalam bahasa Boto-Faflima (Imulolong), kampung saya dan magun Toni. “Jenderal sudah beritahu. Silahkan datang tepat waktu, ya? Nanti kita maksimalkan waktu sebaik mungkin agar cepat selesai wawancaranya,” kata Jendral Koes. Saya perkenalkan diri via SMS dan apa maksud saya bertemu beliau. “Saya heran, Jenderal Anton itu suaranya tak begitu merduh amat. Padahal setahu saya, orang Gereja itu suaranya bagus-bagus. Tapi kalau urusan olahraga, Jenderal Anton sangat hebat. Beliau selalu jadi motor penggerak bagi rekan-rekannya sesama polisi dan susah dicari penggantinya. Itulah kehebatan beliau selama kami bersahabat sebagai anggota aktif di kepolisian,” kata Jenderal Koes memuji magun Toni Enga.

Di waktu lain, saya mendengar cerita Polisi Sampah. Polisi Sampah? Ya, Polisi Sampah. Simon Junion Buang Sine melekat dengan Polisi Sampah. Nama Buang Sine jauh-jauh hari sudah saya dengar tatkala kasus kematian Aloysius Laurentius Wadu, mantan Kepala Dinas Pariwisata Lembata menghebohkan masyarakat Lembata dan Nusa Tenggara Timur. Nama Buang tak sekadar beken di kalangan polisi khususnya di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda NTT. Ia juga familiar di dunia sastra dan pekerja seni tanah Flobamora. Selama bertugas di Polda NTT, bersama rekan-rekannya ia juga berada di balik pengungkapan sejumlah kasus kriminal yang kala itu masih misterius. Buang mengaku pada tahun 1991 ia membongkar kasus pembunuhan Maria Tuto Lewar. Kemudian pada tahun 2008 ia turut mengungkap kasus pembunuhan Yohakim Atamaran di Larantuka. Tahun 2008, pernah pula membongkar kasus pembunuhan Paulus Usnaat di Kefamenanu, kota Kabupaten Timor Tengah Utara. Tahun 2009, ia membuka tabir kasus pembunuhan Pastor Faustinus Sega Pr di Bajawa; kasus pembunuhan Yohakim Langoday, salah seorang pejabat penting Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata, yang ditemukan terbujur kaku di sekitar Bandara Wunopito di Lewoleba, kota Kabupaten Lembata (2009) dan kasus pembunuhan Deviyanto Nurdin di Maumere, kota Kabupaten Sikka, Pulau Flores. “Polisi Sampah saya sudah kirim melalui kantor Pos Oebobo. Mungkin dua atau tiga hari, om sudah terima,” kata Buang Sine saat kami ngobrol dan saya sampaikan niat memiliki Polisi Sampah. Selain Polisi Sampah, Buang juga punya Dua Malam Bersama Lucifer dan Petualangan Bersama Malaikat Jibrael, karya sastra lain berbentuk novel yang kian melambungkan dan menempatkan namanya tak sekadar anggota polisi namun sastrawan Indonesia dari tanah Flobamora. “Perbuatan polisi-polisi di negeri ini telah mencederai nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Mereka tidak lagi berjalan pada fugsi dan peran tugas mereka. Banyak dari mereka melakukan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan terhadap masyarakat pencari keadilan. Mereka tidak lagi berpihak kepada kebenaran. Tetapi, mereka bersekutu melacurkan diri dengan para pembunuh, pemerkosa, pencuri, penipu, penjudi dan koruptor,” kata Buang Sine, mengutip Polisi Sampah.

Mengendus jejak putra-putri NTT yang merenda karier di bidang kepolisian kemudian ikut mengharumkan institusi Polri baik di tingkat lokal, nasional, dan dunia rasanya susah-susah gampang. Nusa Tenggara Timur tentu juga memasok polisi-polisi hebat untuk negeri ini. Namun, suka tidak suka, masyarakat terutama yang bermukim di gunung dan pantai di pelosok tanah Flobamora, tak banyak mengenal sosok dan pengabdian mereka, terkecuali warga yang keluar dan memiliki akses sumber informasi memadai semisal buku, koran atau perjumpaan langsung. Namun, lebih dari itu oleh karena terikat tugas dan pengabdian banyak dari para polisi asal kampung tersebut lupa meriwayatkan jejak pengabdiannya dalam bentuk buku. Semacam biografi mini sekadar menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi generasi muda, paling kurang di tanah asal atau kampung halaman. Siapa magun Toni Enga yang pernah menjabat Kapolda Maluku, Kapolda Kalimantan Tengah, Kapolda Sulawesi Utara, tak banyak yang tahu terutama kami anak-anak kampung di lereng Labalekan, selatan Lembata. Warga Imulolong atau Lembata umumnya, tentu tak semua tahu jejak magun Toni di kepolisian. Siapa juga tahu Pak Jakci Uly pernah menjabat Komandan Gegana Brimob, Kapolda Takeo, Sarajevo di tapal batas Vietnam yang merupakan wilayah konflik dan banyak memakan korban Khmer Merah di bawah United Nation Organization (UNO) atau Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau Kapolda Sulawesi Utara? Pun siapa sosok Gories Mere, salah seorang arsitek di balik kelahiran Detasemen Khusus Anti Teror Polri yang pernah geger namanya di Tanah Air setelah menangkap gembong teroris Imam Samudra dkk dalam kasus bom dasyat di cafe di kawasan wisata dunia, Pantai Legian & Kuta, Bali? Siapa pula yang memiliki kisah utuh sosok dan jejak pengabdian polisi sekelas mantan Kapolda Papua Barat Hery Rudolf Nahak, mantan Kapolda Papua Rudolf Rodja. Bahkan Johni Asadoma, putera Alor yang kini menjabat Wakil Kepala Polda NTT dan pernah ambil bagian dalam Misi Perdamaian Dunia di negara-begara yang tengah dilanda konflik dalam negeri di Benua Afrika? Pun Buang Sine, seorang polisi sederhana yang doyan makan sirih pinang dan jago menulis karya-karya satra bercita rasa tinggi untuk “memprovokasi” semangat membaca dan menulis di kalangan anak-anak sekolah dan mahasiswa di tanah Flobamora. Siapa pula mengenal baik Brigjen Pol Daniel Hyeronimus Boli Tifaona, putra magun Toni Enga, yang pernah mendapat tugas dari Kapolri menjadi Kapolres Metro Bekasi dan Kapolres Metro Jakarta Utara atau Blasius Minggu Gawen yang pernah menjabat Kapolres Asmat di Provinsi Papua, paling kurang dalam kisah mini berbentuk autobiografi? Ini pertanyaan yang hemat saya, sesuatu banget tatkala kemudahan teknologi informasi tepoa, tumpah ruah di depan mata.

Paling kurang, kegundahan seperti ini segera terjembatani melalui magun Toni Enga, bapa Jacki Uly maupun ama Buang Sine. Magun Toni, polisi dari kampung Faflima (Imulolong), Kecamatan Wulandoni membasuh rasa ingin tahu saya sesama anak kampung dengan ‘Jejak Pengabdian Bagi Tuhan dan Sesama’, otobiografi karyanya. Sedang Jacki Uly mempersembahkan ‘Polisi di Wilayah Konflik’, buku karyanya mengulas sejarah perjuangan dan pengabdian putra asli Sabu Raijua ini tak hanya di tingkat lokal dan nasional namun juga hingga ratusan negara di bawah kolong langit di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa Bangsa. “Saya langsung teringat persahabatan Indonesia-Yugoslavia begitu mendengar akan ditugaskan memimpin kontingen polisi dalam tugas-tugas monitor PBB di pecahan negara itu yang sedang saling bertikai. Presiden Seokarno dan Presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito adalah dua antara lima pendiri Gerakan Non-Blok atau GNB. Tiga lainnya adalah Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Perdana Menteri India Jawaharlal Pandit Nehru, dan Presiden Ghana Kwame Nkrumah,” kata Jacki dalam bukunya usai menjalankan Misi PBB di Bosnia-Herzegovina. Sebuah buku yang sangat menarik yang dieditori Peter A Rohi, bekas anggota TNI Angkatan Laut & jurnalis nasional berdarah Sabu Raijua.

Buku karya Jacki itu pun sampai di meja Kapolri kala itu, Jenderal Polisi Timur Pradopo. Buku karya para polisi beserta jejak pengabdiannya boleh jadi adalah persembahan bernilai bagi tak hanya anggota polisi tetapi juga publik. Apalagi, semacam kami orang-orang kampung, nun jauh di lereng gunung dan pantai; di antara pelukan hutan, lembah, ngarai, dan terpaan gelombang laut dan balutan alam yang masih perawan. Tak berlebihan, Timur mengapresiasi buku karya Jacki Uly. “Pembaca, terutama Polri sepatutnya bersyukur karena beruntung dapat mengkaji sejarah, menyelami dalamnya arti perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian yang tulus. Hal ini tentu menjadi sumbangan tersendiri bagi Polri, agar di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial yang begitu dinamis, generasi insan Bhayangkara tetap mampu mempertahankan jati dirinya dengan senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai luhur yang ditunjukkan oleh para pendahulu Polri,” kata Timur Pradopo. Satu hal yang bikin saya bangga, di tengah kesibukan di saat atau setelah pensiun dari tugas formalnya, masih ada polisi yang mewariskan jejak sejarah pengabdiannya. Paling kurang melalui buku. Dan tiga di antara mereka (tentu masih banyak lagi polisi) dari kampung halaman ada di tiga polisi ini, polisi (dari) kampung. Brigjen Pol (Purn) Drs Antonius Enga Tifaona, Irjen Pol (Pur) Drs Y. Jacki Uly, MH, dan Aiptu Simon Junion Buang Sine. Terima kasih, magun Toni. Terima kasih, bapa Jacki. Terima kasih, ama Buang (Selamat Ulang Tahun e). Selamat Hari Ulang Tahun ke-74 Bhayangkara Tahun 2020. Semoga kantibmas kondusif dan masyarakat produktif. Semoga pula Indonesia aman, damai, dan sejahtera di bawah Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

 

Jakarta, 1 Juli 2020
Oleh: Ansel Deri
Catatan untuk HUT ke-74 Bhayangkara Tahun 2020

Komentar

Jangan Lewatkan