oleh

‘Pool Test’ Sebagai Basis Pencegahan dan Konser Harmonivasi dari Timur

-News-336 views

RADARNTT, Kupang – Berhadapan dengan situasi pandemi yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama, kehadiran pool test atau tes massal dengan memeriksa swab dengan menggunakan alat qPCR menjadi penting. Dengan tes massal diharapkan kita dapat mempunyai cakupan yang lebih luas, cepat dan bisa dijadikan basis kebijakan New Normal secara akurat.

Demikian penegasan Kepala Tim Riset Biomolekuler Forum Academia NTT (FAN), Fima Inabuy, Ph.D dalam dialog virtual Sabtu, (1/8/2020) pukul 16:00 WITA membahas konser amal “Harmonivasi dari Timur dan Kelirumologi Covid-19″ yang diselenggarakan FAN.

“NTT masih butuh empat laboratorium biomolekuler yang mempunyai kapasitas untuk melakukan tes massal, saat ini di NTT laboratorium biomolekuler kesehatan masyarakat pertama milik pemerintah masih dalam pengerjaan dan ini jangkauannya masih hanya untuk Kota Kupang, untuk itu FAN berharap kita bisa menggalang dana mandiri untuk mengadakan minimal satu laboratorium lagi, untuk mendukung proses tes massal, dan atas insiatif Etika, konser amal digagas dan mendapat tanggapan dari berbagai komponen masyarakat,” kata Fima Inabuy ketika ditanya strategi surveillance Covid-19 dan peran masyarakat di Provinsi Kepulauan NTT.

Fima Inabuy memaparkan persiapan dan kendala terkait riset inovasi biomolekuler di NTT selama Pandemi Covid-19. Menurutnya keterlibatan FAN dimulai sejak awal pandemi Maret 2020. Meskipun banyak kendala tetapi ada semangat dan dukungan dari berbagai pihak demi kemanusiaan mandiri sehingga cita-cita untuk memiliki laboratorium biomolekuler standar milik rakyat akan segera diwujudkan.

Laboratorium biomolekuler FAN diharapkan mampu menambah kekuatan laboratorium biomolekuler di NTT dalam melakukan tes massal.

“Karena milik rakyat seharusnya dibuat semurah mungkin, atau kalau perlu tes swab gratis karena dibiayai warga,” kata Fima Inabuy.

“Kita ketahui saat ini masih ada penambahan kasus di Indonesia tiap hari, kita ikuti di berbagai media massa. Transmisi lokal penularan masih banyak terjadi klaster terbanyak di area pemukiman, perkantoran dan pasar tempat sentra ekonomi. Dan sangat memprihatinkan, penambahan kasus bahkan mencapai 2000 kasus per hari, ini jumlah yang sangat banyak dan sangat serius,” beber Fima Inabuy.

Ia juga mencatat angka pasien positif dari cluster penumpang kapal yang amat rentan tertular dalam perjalanan.

Hal ini menunjukkan bahwa kita belum betul-betul efektif dalam melakukan suatu langkah pencegahan penularan Covid-19. Kondisi ini menjadi keprihatinan kami, tegas Inabuy, sesungguhnya kita memiliki suatu metode pencegahan yang lebih berakurasi tinggi dengan suatu pendekatan saintifik yang baik. Adanya metode ini ia juga berharap agar para penumpang kapal laut yang umumnya digunakan oleh warga kelas menengah ke bawah bisa lebih terlindungi ketika melakukan perjalanan.

“Kita cenderung beraktivitas ke dalam kondisi New Normal tanpa alat ukur yang mempuyai akurasi tinggi, ini sama dengan kita bertindak tanpa strategi, karena ketika kita kembali beraktivitas baik itu kerja, bersekolah, dan kegiatan ekonomi dan lainnya, kita perlu lebih selektif dalam menentukan area atau komunitas mana yang betul-betul bebas dari Covid-19,” tegas Fima Inabuy.

Sebelumnya, sejak awal Maret 2020 FAN telah bergerak membantu pemerintah membuat buku panduan penanganan Covid-19, komunikasi publik, penyaluran APD, pembuatan dan disain masker, dan lain-lain.

“Saya sendiri mulai bertemu dan bergabung dengan teman-teman dari Forum Academia NTT untuk mewujudkan ide pool test itu pada tanggal 1 Mei 2020, kemudian kami mulai melakukan audiensi dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan instansi terkait yang menetapkan prinsip pentahelix, mencoba untuk melibatkan semua pihak yang seharusnya berperan dalam penanganan suatu bencana,” tutur Fima.

Kami juga berusaha untuk berkomunikasi dengan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dinas Kesehatan baik tingkat provinsi dan kota maupun masyarakat secara umum untuk bekerjasama mewujudkan pool test dengan menggunakan metode qPCR dalam rangka mendeteksi tingkat penularan sehingga bisa diandalkan dalam melakukan pencegahan (surveillance).

“Kita tidak bisa hanya menunggu,” ujar Fima.

Fima menambahkan, laboratorium biomolekuler dalam jangka pendek digunakan untuk Covid-19 namun dalam jangka panjang akan digunakan untuk riset kesehatan untuk menguji gen, genome, sequencing virus. Dalam jangka panjang laboratorium ini dapat dipakai untuk membantu mendeteksi penderita DBD, TB, dan HIV.

Ia berpandangan bahwa kehadiran laboratorium biomolekuler untuk tujuan riset dapat mendukung penemuan baru di bidang kesehatan. “Menarik, karena SARCov2 di NTT tidak memiliki fatalitas atau tingkat kematian yang tinggi sehingga perlu diuji apakah terjadi mutasi gen sesuai lingkungan,” tutur Fima.

Untuk mendukung kerja tim riset biomolekuler di ranah kesehatan publik maka konser amal akan digalakan atas kerja sama FAN, Etika, dan Pos Kupang. Konser ini bertajuk “Harmonivasi dari Timur: Harmoni untuk Riset dan Inovasi Biomolekuler di NTT”.

Konser ini akan digelar pada 16 Agustus 2020 mendatang dan melibatkan sejumlah artis seperti Rambu Piras, Djitron Pah, Ivan Nestorman, Bertha, Lilo KLA Project, Romo Patris Sixtus, Alfons Golu, dan lainnya. Kerjasama multi pihak yang melibatkan warga lintas provinsi di Indonesia ini diharapkan dapat mendukung riset biomolekuler yang amat penting di era biosecurity dan saling mempererat persaudaraan Indonesia. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan