oleh

Walikota Kupang dan Gubernur NTT Janji Bangun Laboratorium qPCR

-News-935 views

RADARNTT, Kupang – Walikota Kupang Jefri Riwu Kore dan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat berjanji segera membangun laboratorium quantitative polymerase chain reaction (qPCR) di Kota Kupang, Flores dan Sumba, hal ini disampaikan secara terpisah saat berkunjung dan melihat dari dekat kegiatan  pelatihan para laboran Pool Test atau Tes Massal.

Walikota Kupang Jefri Riwu Kore berkunjung ke tempat pelatihan para laboran Pool Test atau Tes Massal di Kampus Politani (Politehnik Pertanian Negeri) Kupang Rabu, 17 Juni 2020.

Saat berada di lokasi dan melihat proses pelatihan itu, Walikota langsung meminta agar stafnya berusaha menyediakan anggaran khusus untuk pembuatan laboratorium. “Memang tidak bisa cepat, tapi Kupang harus ada, kita harus bergerak cepat,” kata Jefri.

Pada kesempatan itu, Walikota Kupang menerima proposal detil pembuatan laboratorium dari Ketua Tim Pool Test, Dr.Fima Inabuy. Ia pun langsung menyanggupi penyediaan ruangan. “Besok bisa dilihat ruangan yang bisa didisain menjadi laboratorium,” kata Jefri yang langsung meminta stafnya untuk mengagendakan kunjungan ke RS. SK. Lerrick.

Walikota Kupang mengatakan memang butuh waktu untuk menyediakan anggaran, tetapi ia meminta anggaran Rp 3,7 Miliar disiapkan sehingga laboratorium segera berdiri untuk Kota Kupang. Tidak bisa segera, karena rancangan anggaran sudah masuk, tetapi ini adalah prioritas. Ia mengaku bahwa baru kali ini menerima proposal lengkap dari Forum Academia NTT.

Ketua Tim Pool Test, Dr.Fima Inabuy mengatakan, seperti diketahui hingga sejak tanggal 15 Juni 2020 kondisi New Normal sudah diberlakukan di seluruh NTT, dengan mengabaikan ancaman pandemi. Minimnya test swab untuk para pelaku perjalanan merupakan pertanyaan banyak pihak. Ketiadaan inovasi dalam menjawab tantangan biosecurity membuat orang cenderung pasrah dan nekad.

“Ya, ini mengkhwatirkan karena jika terjadi penyebaran, transmisi lokal, kita pasti kewalahan, untuk itu di bagian surveilens kita harus lebih kuat,” kata Dr.Fima Inabuy, ahli biomolekuler yang menjadi pimpinan tim.

Dalam kesempatan itu, Dr.Fima Inabuy langsung menyerahkan proposal detil pembuatan laboratorium. Proposal ini merupakan proposal kedua yang diserahkan Forum Academia NTT kepada Pemerintah Kota Kupang. Total anggaran untuk kebutuhan pembuatan satu buah laboratorium sebesar Rp 3,7 Miliar. Angka ini sudah termasuk biaya operasional selama 6 bulan, tetapi belum termasuk biaya gedung dan instalansi tekanan negatif.

Pelatihan yang rencananya hanya berlangsung lima hari, kemungkinan besar baru akan ditutup pada hari Senin, 22 Juni 2020. “Materi perlu dikuasai para peserta dengan baik, dan qPCR dari Undana juga masih kami tunggu, surat dari Sekda Provinsi NTT untuk peminjaman qPCR sudah kami serahkan, dan kami masih mencari macetnya dimana, qPCR mutlak dibutuhkan dalam pelatihan ini,” tambah Inabuy.

Satu hari sebelumnya, Gubernur NTT juga berkunjung ke lokasi yang sama. Pada kesempatan itu Gubernur Viktor Laiskodat menyampaikan rencana membangun laboratorium di tiga titik yakni, Timor, Flores dam Sumba sehingga bisa mengkaver seluruh kabupaten yang ada di pulau-pulau tersebut.

“Kalau bisa kita bikin di tiga pulau besar, Flores, Sumba dan Timor,” kata Viktor Laiskodat.

Menanggapi ucapan Gubernur NTT, Dr.Fima Inabuy menyatakan untuk saat ini kita mulai dari satu, jika satu sudah berhasil akan lebih mudah membuat dua atau tiga laboratorium.

“Jujur waktu saya lebih banyak habis, keliling dari laboratorium satu ke laboratorium lain untuk mencari pinjaman alat dibandingkan berkonsentrasi terhadap pendirian laboratorium ini,” kata Fima Inabuy.

Ia berterima kasih kepada Politani Kupang yang langsung memberikan pinjaman laboratorium untuk pelatihan. “Saya sangat terbantu, karena hanya dalam satu kunjungan, pintu langsung dibuka, dan kami langsung diberikan kesempatan berlatih dengan menggunakan fasilitas mereka” kata Fima.

Dia menjelaskan, dalam hitungan matematis, jika skenario yang dikembangkan Forum Academia NTT, jalan seharusnya dengan 4 qPCR, dengan dua yang dibeli Pemerintah Kota, dan 2 lagi yang dipinjam Pemda Provinsi NTT dari Undana dan RSU Prof.dr.WZ Johannes, maka satu hari bisa melakukan pemeriksaan sebanyak 1200 swab.

“Jika pemerintah provinsi bisa berinvestasi dengan menambahkan 2 mesin qPCR baru, kami akan sangat terbantu, karena 2 mesin qPCR yang ada ini cuma pinjaman dan hanya untuk 6 bulan, sementara ujung pandemi belum terlihat,” kata Fima. Jika harapannya ini jadi kenyataan maka bukan hal berlebihan jika dalam satu hari bisa diperiksa 1800 swab.

Pada saat yang sama, salah satu anggota Tim Pool Test, Lodi Meda Kini MSc. menanyakan kepada Gubernur bagaimana langkah Pemerintah Provinsi NTT dalam melakukan MoU dengan berbagai pihak yang terkait dengan pembuatan laboratorium di Klinik Pratama, Universitas Nusa Cendana. Karena skenario yang dipakai adalah berbasis anggaran minimalis, maka dua alat qPCR dipinjam dari Laboratorium Biomolekuler RSU Prof.dr.W.Z Johannes, dan satu lagi masih menunggu dari Lab. Bio Science Universitas Nusa Cendana.

Kemarin juga satu buah unit qPCR sudah diambil Dr.Fima dari Laboratorium Biomolekuler RSUD Prof.dr.WZ Johannes. Selain itu ia besama tim juga langsung berkunjung ke Klinik Pratama untuk melihat dan mendisain laboratorium. Pemerintah Provinsi menggunakan tim yang sama yang membuat fasilitas tekanan negatif untuk laboratorium biomlekuler milik RSUD Prof.dr.WZ Johannes, Kupang.

Vendor yang membuat laboratorium diberikan target waktu satu minggu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Kerja ini realistis karena bangunannya sudah ada, tinggal dipartisi sesuai kebutuhan, dan standar keamanan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dominikus Minggu Mere mengatakan, pemerintah sedang memacu pekerjaan fisik pembangunan fasilitas tekanan negatif laboratorium.

“Tiap hari Pak Gub cek sampai mana pekerjaannya,” kata Domi Mere. Ia sendiri menugaskan satu orang stafnya untuk setiap hari memantau pekerjaan fisik.

Dokter Patologi Klinis, dr.Elizabeth mengatakan bahwa untuk menyediakan fasilitas bio safety cabinet membutuhkan waktu, “Memang butuh waktu untuk penyediaan bio safety cabinet, tetapi ada yang mungkin menyediakan dalam tempo satu minggu,” kata dr.Elizabeth, dokter patologi klinis yang akan mengawal laboratorium yang menjadi milik Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana.

Manfaat qPCR bukan cuma Covid-19 tetapi DBD dan penyakit lain

Moderator Forum Academia NTT, Dominggus Elcid Li mengatakan pemerintah tidak boleh ragu-ragu berinvestasi di bidang kesehatan terutama untuk keselamatan nyawa masyarakat.

“Ya, investasi pemerintah sebesar Rp 3,7 Miliar untuk kesehatan publik seharusnya dilakukan tanpa ragu-ragu, karena asetnya tetap milik publik, dan ini bermanfaat bukan cuma untuk memetakan Covid-19 tetapi untuk DBD dan penyakit lain” kata Dominggus Elcid Li.

Elcid Li juga menegaskan bahwa anggaran penanganan Covid-19 sebesar 1,6 Triliun di NTT perlu digunakan dengan cermat. “Jika kita hanya fokus pada aspek hilir, diantaranya dengan memaksimalkan pengadaan alat kesehatan di rumah sakit, kita cuma bermain di hilir, sedangkan pencegahan dilupakan, dengan model Pool Test atau Tes Massal semacam ini tindakan pencegahan bisa dilakukan,” katanya.

“Selain akurasi swab jauh lebih tinggi dibandingkan rapid test, yang gemar dipromosikan oleh para anggota DPRD maupun DPR, swab massal juga memungkinkan biayanya menjadi murah, di titik ini political decision harus benar, dan jangan malah membebani rakyat,” kata Elcid Li. Lalu ia melanjutkan harga pembuatan laboratorium hanya sekitar 0,02% dari total anggaran, menurutnya seharusnya pemerintah dan DPRD mampu menentukan prioritas.

Di masa depan, aspek ekonomi-kesehatan-keamanan akan saling terkait. “Kita harus berinvestasi di bidang biomolekuler, ini bagian hulunya, jangan mau para politikus cuma jadi sasaran marketing perusahaan alat kesehatan, dan puas dengan menyebarkan APD, padahal substansi masalah semakin jauh,” kata Elcid.

“Ini yang membuat kami tidak mengerti mengapa, angka tes di nasional, hanya bertengger di level 10 ribu swab yang mampu diperiksa tiap hari, mengapa para ahli biomolekuler yang bertebaran di Pulau Jawa tidak diberdayakan sebaik mungkin untuk mempercepat proses deteksi dini,” tanya Elcid Li.

Menurutnya salah satu kegagalan sistem politik saat ini adalah para ilmuwan ditawan oleh politik rente yang membebani rakyat. Dalam kasus penanganan Covid-19, perhatian yang kurang diberikan di sisi hulu membuat Indonesia semakin tertinggal dalam menjawab krisis.

“Penguasaan teknologi adalah mutlak di era bio security, tanpa pemahaman yang jernih dari sekian partai politik untuk membedakan antara mana yang pokok dan mana yang sampiran, orang dibawa tersesat secara kolektif,” kata Elcid Li.

Salah satu anggota Forum Academia NTT, Rudi Rohi mengatakan bahwa kunjungan kedua pejabat publik ini merupakan langkah baik, “Kami sangat apresiasi itu, dan berharap semoga realisasinya bisa lancar dan memenuhi harapan publik,” kata akademisi yang mengajar di Jurusan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana, Kupang, NTT.

“Kami akan bergerak lebih jauh untuk mengevaluasi kinerja partai-partai politik dalam memperhatikan kebutuhan rakyat, rakyat harus tahu mana partai politik yang benar-benar bekerja, dan mana yang seolah-olah bekerja,” kata Rudi Rohi, kandidat Doktor Ilmu Politik yang sedang memasuki titik akhir menyelesaikan disertasinya di UGM.

“Bahkan kalau memang komentar Gubernur itu memang mampu ia realisasikan, maka kondisi di NTT akan jauh lebih cepat dipetakan, dan bisa diyakinkan bahwa ini benar-benar daerah zona hijau, dan bukan sekedar jadi zona hijau yang diragukan,” kata Rudi Rohi. Dalam hitungan matematis, jika ditambah lagi dengan dua laboratorium, masing-masing satu di Flores dan satu di Sumba, 4000 swab bisa diperiksa di NTT per hari. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan