oleh

Wartawan Online di Matim Polisikan Pelaku Diskriminasi.

RADARNTT, Borong – Rupanya diskriminasi terhadap wartawan oleh oknum yang merasa dirinya tidak  nyaman atau dirugikan masih menjadi peristiwa yang tidak berkesudahan, kali ini datangnya dari Kabupaten Bungsu Manggarai Raya.

Dua wartawan media online Manggarai Timur ( Matim) yang sedang peliputan di desa Bangka Kantar, Kecamatan Borong, kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) diduga dikriminalisasi oleh AR, salah satu anggota kelompok tani di Bangka Kantar, saat tugas peliputan di desa tersebut, Rabu, (30/09/2020) siang. Kedua wartawan tersebut yakni Marianus I. Antus, dan Ignasius Tulus

Kepada Radar NTT Marianus I. Antus , mengatakan intimidasi yang menimpa diri dan temannya saat melakukan tugas peliputan dikantor desa Bangka Kantar terkait salah satu proyek.

“Namun ditengah proses Wawancara, AR datang dan langsung menghardik dan bertanya kepada kami, “kalian mau wawancara apa, dari wartawan atau dari mana ? kata Marianus menirukan ucapan AR

“Kalian datang jangan cari kelemahan desa ya, saya juga tau etika jurnalistik,” katanya.

AR bahkan memaksa kedua Wartawan tersebut untuk menunjukkan identitas pers dan surat tugas.

“Saya lalu tunjukkan surat tugas saya dan dia sempat mendokumentasikannya,” kata Ignasius Tulus”.

Saat dikonfirmasi melalui via seluler (30/09), kepala desa Bangka Kantar Silverius Mediator Rawan menegaskan bahwa Kejadian diskriminasi kepada ke dua wartawan media online benar adanya.

“Awalnya kedua wartawan media online , adik Iren dan adik Ignas datang dikantor desa untuk mewawancarai saya tentang seluruh pembangunan desa Bangka kantar.”, Ujar Kade Mendik

Dikatakannya bahwa kedua wartawan itu telah berada di kantor desa sebelumnya, dan AR juga berada di kantor desa bersamaan dengan kedua wartawan itu, lanjutnya. AR merupakan salah satu anggota kelompok tani yang hendak meminta tanda tangan kepala desa terkait surat penyerahan lahan kepada kelompok tani.

” lagi asyik wawancara dengan wartawan tentang pembangunan desa, saya juga tidak tahu, tiba- tiba entah kenapa, Dia(AR.Red) juga langsung tanya kepada wartawan yang lagi bertugas itu untuk ditanyai tujuannya.” ungkap Kades Mendik.

Tindakan AR merupakan hal yang tidak perna dipungkiri Mendik sebelumnya. Dia juga bukan warga Desa Bangka Kantar, Jelas Mendik.

“Dia hanya berdomisili di desa bangka Kantar, dia beberapa bulan tinggal di desa ini”, lanjut Mendik.

Lanjut Kades Mendik, kejadian itu tidak ada sangkut paut dengan dirinya, sehingga sikap dan perilaku AR sangat merugikan pihak Media dan silahkan di tindaklanjuti.

“Kejadian tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan saya, dan saya selaku Kades Bangka Kantar tidak bertanggung jawab, dan jika memang merugikan pihak media, silahkan lanjutkan urusannya, entahkah lakukan perdamaian atau jalur hukum silakan.” tutur Kades Mendik.

Menanggapi hal itu, ketua Aliansi Jurnalis Online Kabupaten Manggarai Timur, Adrianus Kornasen, menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh
AR adalah bentuk kiriminalisasi Terhadap tugas jurnalistik.

“Kita sangat menyesalkan kejadian itu masih adanya tindakan yang menghalang-halangi tugas wartawan saat peliputan, ini jelas melanggar UU Pers dan sudah kami tindaklanjuti dengan melapor ke Polres Matim agar tidak terus terjadi hal seperti ini,” tegas Kornasen, saat diwawancarai di Polres Manggarai Timur.

Menurut Kornasen, tindakan menghalangi kegiatan jurnalistik jelas diatur di dalam UU Pers No 40 Tahun 1999 Pasal 18 Ayat (1) yang menyebutkan, bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah).

Sangat jelas bahwa wartawan dalam melaksanakan tugasnya dilindungi UU Pers No 40 Tahun 1999, dari kondisi tersebut, pihaknya akan membentuk tim terkait mangkraknya sejumlah proyek di desa tersebut.

Lebih lanjut, Kornasen juga menghimbau kepada rekan-rekan wartawan agar selalu mengedepankan etika sopan santun dalam melaksanakan tugas profesinya sebagaimana diatur dalam Kode Etik Jurnalistik serta profesional.

“Karena itulah panduan kita dalam melaksanakan tugas sebagai wartawan, dan kita harapkan kejadian seperti itu nantinya tidak ada lagi khususnya di Manggarai Timur ini,” tukasnya dia.

Sementara kasat Reskrim polres Manggarai Timur Iptu Deddy S. Karamoi kepada wartawan menjelaskan bahwa pihaknya akan segera memanggil oknum yang bersangkutan.

“Besok yang bersangkutan akan kita panggil untuk dimintai keterangan,” kata Iptu Dedy.( GD/TIM/RN)

Komentar