oleh

WHO Tetapkan Enam Syarat untuk Mengakhiri Lockdown

RADARNTT, Jakarta – Bagi miliaran manusia, kini tidak ada lagi pilihan lain selain mengikuti imbauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengkarantina diri di rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah peningkatan kasus infeksi COVID-19 di seluruh dunia. Direktur WHO juga menyebutkan dalam laman Twitternya bahwa salah satu hal utama yang telah dipelajari dalam beberapa bulan terakhir tentang COVID-19 adalah, semakin cepat semua kasus ditemukan, diuji, diisolasi dan dirawat, maka semakin sulit kita membuat virus menyebar.

Namun, bagi beberapa negara, tampaknya penyebaran virus sudah terkendali. Seperti di Wuhan, Tiongkok, mereka sudah mengakhiri kebijakan lockdown sejak pekan lalu (8/4). Bahkan rumah sakit khusus yang dibangun untuk merawat pasien terjangkit COVID-19 juga sudah ditutup karena sudah semua pasien sembuh. Selain itu, beberapa negara seperti Denmark, Ceko, Austria, Norwegia, dan Jerman juga mulai mencabut kebijakan lockdown mereka mulai awal bulan Mei secara bertahap.

Tiap Negara Tidak Bisa Asal Mengakhiri Lockdown

Melansir National Public Radio, meski penguncian penuh secara nasional bukan hal yang umum, setidaknya UNICEF mencatat terdapat 82 negara menerapkan aturan semacam penguncian tersebut. Hal ini telah berimbas pada banyak aspek kehidupan, terutama ekonomi. International Monetary Fund (IMF) mengatakan dalam analisis terbarunya bahwa ekonomi global sekarang diperkirakan akan menyusut 3 persen tahun ini. Bahkan di Amerika Serikat, penurunan ini bisa mencapai 6 persen.

Terlepas dari semua dampak yang disebabkan oleh COVID-19, pejabat WHO mengatakan bahwa di banyak tempat masih terlalu dini untuk kembali ke kehidupan normal. Pasalnya, setiap upaya prematur untuk memulai kembali ekonomi memicu gelombang kedua kasus COVID-19, mereka memperingatkan bahwa proses tersebut harus disengaja dan dikoordinasikan secara luas.

WHO menjelaskan bahwa jika suatu pemerintahan ingin mulai mencabut lockdown, maka mereka harus terlebih dahulu memenuhi enam syarat:

  1. Memastikan bahwa penularan penyakit di bawah kendali;
  2. Sistem kesehatan setempat dapat mendeteksi, menguji, mengisolasi dan menangani setiap kasus dan melacak setiap kontak dengan baik;
  3. Risiko hotspot diminimalkan di tempat-tempat rentan, seperti panti jompo;
  4. Sekolah, tempat kerja dan tempat-tempat penting lainnya telah menetapkan langkah-langkah pencegahan;
  5. Risiko mengimpor kasus baru dapat ditangani dengan baik;
  6. Masyarakat sepenuhnya dididik, dilibatkan dan diberdayakan untuk hidup di bawah aturan baru.

Dua Juta Orang di Dunia Kini Telah Terinfeksi COVID-19

Menurut dashboard COVID-19 yang dibuat oleh Whiting School of Engineering milik Johns Hopkins University, jumlah kasus COVID-19 di seluruh dunia kini telah melebihi 2 juta kasus. Ini termasuk di antaranya pasien yang telah meninggal lebih dari 144.000 orang, dan pasien yang sudah sembuh sebanyak 540.000 orang.

Sementara di Indonesia per Kamis (16/4), jumlah kasus menjadi 5.516, dengan 496 lainnya telah meninggal dan 548 sudah sembuh. Namun, untuk pertama kalinya sejak 17 Maret, jumlah pasien yang sembuh angkanya telah melebihi pasien yang meninggal.

Sayangnya menurut pemerintah, Indonesia baru mencapai puncak kasus pada akhir bulan Mei. Diprediksi akan 95.000 orang yang akan terjangkit virus ini dan kemudian pada awal Juni, angkanya akan berangsur-angsur turun. Oleh karena itu, tampaknya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sudah diterapkan di beberapa wilayah, tampaknya masih akan terus diperpanjang.

Tidak hanya kamu yang ingin semua kembali seperti semula, seluruh penduduk dunia juga ingin dunia kembali aman dari COVID-19. Oleh karena itu, mari bantu ringankan kerja pemerintah dalam menangani pandemi ini dengan cara menerapkan physical distancing, menjaga kebersihan diri, dan segera memeriksakan diri jika ada gejala yang mencurigakan. (dr. Fadhli Rizal Makarim)

Komentar

Jangan Lewatkan