oleh

Anggota DPRD NTT Dolvi Kolo: Penting Budaya Sensor Mandiri

-News-1.061 views
Spread the love

RADARNTT, Kupang – Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Fraksi NasDem Dolvianus Kolo menekankan pentingnya sensor film secara mandiri oleh masyarakat di era digital saat ini untuk menekan angka kriminalitas sebagai akibat dari menonton adegan-adegan dalam film yang berisi konten kekerasan.

Untuk itu, dia sangat mendukung gerakan yang sedang dilakukan Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia tentang sosialisasi budaya sensor mandiri.

Dia lebih memberi penekanan pada adanya adegan-adegan yang cenderung mempermainkan profesi guru sebagai lelucon atau olok-olokan.

“Dengan alasan apapun entah itu alasan rating, alasan seni tetapi profesi guru jangan dijadikan lelucon, bahan olokan dalam tanyangan film maupun sinetron,” tegas Alumnus FKIP Universitas Nusa Cendana, saat memberikan sambutan dalam acara “Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri” yang diselenggarakan LSF di Kupang, Selasa (19/10/2021).

Menurut Dolvi Kolo, konten negatif tentang guru akan merendahkan martabat guru di tengah disrupsi teknologi digital. Dan sensor mandiri sangat tepat dilaksanakan selama masa pandemi Covid-19. Mengingat masyarakat banyak melakukan aktivitasnya dari rumah.

Saat ini, kata dia, masyarakat tidak lagi pergi ke bioskop, tetapi menontonnya di rumah dengan layanan Over The Top (OTT) melalui internet Seperti Netflix, Disney, dan lain sebagainya. “Bagimana mekanisme penyensorannya dilakukan,” tanya Dolvi.

Pada era digital telah terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam menikmati tontonan. Saat ini khalayak tidak hanya menonton televisi, tetapi juga melalui layanan Video on Demand melalui media streaming digital. Hadirnya jasa layanan Video On Demand ini menyediakan begitu banyak konten. Tanpa disadari adanya penetrasi budaya asing secara halus, sehingga terjadi pergeseran budaya mengenai hal-hal yang dulunya dianggap tabu menjadi lumrah.

Hal-hal seperti ini, kata dia, apakah tidak bisa tertangkap oleh sensor, walaupun pada akhirnya mau tidak mau diterima juga menjadi bagian kehidupan normal.

Oleh karena itu, “Kita mendorong masyarakat sebagai konsumen mulai membangun dan menanamkan kesadaran kolektif agar secara mandiri dapat memilah dan memilih tontonan sesuai dengan klasifikasi usia,” tandasnya.

Menurut Dolvi, film tidak saja menghibur tetapi mengedukasi atau harus mendidik masyarakat untuk hidup baik dan benar berdasarkan nilai-nilai luhur kehidupan berbangsa dan bernegara yang berakar dari budaya bangsa sebagaimana dirangkum dalam Pancasila.

Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Katolik Widya Mandira, P. Dr. Philipus Tule, SVD, membeberkan sebuah kebenaran sejarah yang mengejutkan tentang dunia perfilman di NTT dan Indonesia.

Pakar Islamologi mengungkapkan bahwa, dilihat dari runutan tahun pembuatan film, maka sesungguhnya film pertama yang diproduksi di Indonesia adalah film asal NTT. Yakni, Etnografi berjudul: “Ria Rago: De Heldin Dan Het Ndona-Dal.” Yang artinya, “Ria Rago: Pahlawan Wanita dari Lembah Ndona.”

Rektor Unwira menjelaskan, jika dicek berdasarkan waktu produksinya, maka Film Ria Rago dibuat pada tahun 1923, atau lebih tua dari waktu pembuatan film pertama di Indonesia. Film Ria Rago itu dibuat oleh dua misionaris SVD di Flores pada tahun 1923.

Artinya, jika dilacak berdasarkan sejarah waktu pembuatan, maka meskipun film yang diproduksi pertama kali di Indonesia adalah film bisu berjudul “Loetoeng Kasaroeng”, garapan sutradara Belanda, G. Kruger dan L. Heuveldorp pada tahun 1926.

Akan tetapi, jelas dia, sesungguhnya, ada film lainnya yang juga diproduksi di Indonesia dan lebih tua dari film tersebut yaitu film karya yang dua misionaris SVD di Flores, yaitu Film Ria Rago. Mengapa? Karena, menurut Rektor yang baru saja dilantik untuk memimpin Unwira di periode kedua ini, berdasarkan dokumen SVD (Societas Verbi Divini) yang tersimpan di Generalat SVD (Roma), pada masa itu, misi Flores memiliki dua orang pastor yang ahli dalam pembuatan film. Dua misionaris ini pernah dikirim untuk belajar perfilman di Holywood, USA, atas perintah Uskup Flores masa itu. Kedua pastor ini adalah Pater Simon Buis, SVD dan Pater Belthens, SVD. Saat kembali dari Amerika itulah, mereka berdua kemudian menjadi sutradara sekaligus produser film Ria Rago, yang diproduksi tahun 1923.

“Sesungguhnya film perdana dari NTT dan bahkan Indonesia adalah film bisu karya misionaris SVD dari Flores yang berjudul Ria Rago: De Heldin Dan Het Ndona-Dal (Ria Rago: Pahlawan Wanita dari Lembah Ndona). Dalam film etnografis yg berdurasi 110 menit itu tercantum tulisan berbahasa Belanda “plaats en tijde van het werkelijk gebeurde” dengan tempat dan waktu yang benar terjadi pada 1923. Namun, film itu baru dirilis produksinya tahun 1930, sesuai tanggal lulus sensor di negeri Belanda,” kata Dr. Philipus Tule.

Menurut dia, film tersebut adalah sebuah karya unik dan mempunyai makna yang sangat mendalam secara etnografis. Karena Film Ria Rago ini, berkisah tentang kasus kawin paksa seorang gadis Katolik bernama Ria Rago dari desa Nua Nellu (Ndona) dengan seorang pemuda bernama Dapo Doki, seorang Muslim dari Desa Rada Wuwu, yang telah beristeri.

Dr. Philipus juga mengatakan, dalam film itu dikisahkan bahwa, Ria menolak pernikahan itu dan mengadu pada pastor setempat yang kemudian bersama katekis mengunjungi dan berdiskusi dengan ayah Ria, namun sia-sia. Setelah mahar atau belis yang tinggi disepakati, Rago Da’u dan istrinya tetap memaksa. Dengan menggenggam salib yang dikirim Pastor, Ria berhasil memutuskan tali pengikat tangannya saat keluarganya sedang berpesta merayakan lamaran Dapo Doki itu.

Ria lantas berlari ke Susteran, yang berfungsi ganda sebagai asrama putri dan poliklinik kesehatan dengan kondisi tubuh yang lemah. Rago mengembalikan mahar ke Dapo dan menemui pastor yang menganjurkan agar dia minta maaf pada Ria. Ria memaafkan ayah dan ibunya, lalu meninggal dunia. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan