oleh

Betulkan Ada Tes Swab Massal PCR Gratis di NTT?

RADARNTT, Kupang – Ada anggapan bahwa tes swab menggunakan PCR selalu berbiaya mahal, padahal sejak Bulan Oktober 2020 Pemerintah Provinsi NTT bekerjasama dengan Forum Academia NTT dan Universitas Nusa Cendana sudah mendirikan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT (Lab Biokesmas Provinsi NTT) untuk mengadakan tes massal. Laboratorium ini diresmikan langsung oleh Menteri Kesehatan Doktor Terawan dan Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat. Lab Biokesmas Provinsi NTT ini merupakan satu-satunya laboratorium di Indonesia yang konsisten menjalankan metode pool test secara sistematis di Indonesia.

Namun, meskipun Lab Biokesmas Provinsi NTT sudah beroperasi sejak tanggal 16 Oktober 2021, Prosedur Test Massal (Pool Test)- PCR tidak begitu banyak diketahui publik. Padahal hingga hari ini sebanyak 6500-an sample swab dari 14 kabupaten/kita di NTT telah diperiksa. Pemeriksaan ini dilakukan secara manual dengan menggunakan motode pool test oleh para laboran yang terdiri dari putra-putri Nusa Tenggara Timur di bawah pimpinan Dr.Fima Inabuy, pakar biomolekuler lulusan Washington State University.

Pengguna jasanya Lab Biokesmas Provinsi NTT beragam, mulai dari tenaga kesehatan rumah sakit, dan puskesmas hingga keluarga. “Kami sangat berterima kasih pada adik-adik di Lab Biokesmas Provinsi NTT, karena kami sangat terbantu untuk pemeriksaan tenaga kesehatan di rumah sakit secara massal,” ujar Dokter Yudith Kota, Ketua PERSI NTT. Pada tahap awal memang target Lab Biokesmas adalah memastikan agar fasilitas kesehatan harus tetap buka, untuk itu screening untuk para tenaga kesehatan secara rutin mereka lakukan.

Bagaimana akses warga?

Dalam diskusi  yang diselenggarakan FAN dan WVI pada hari Senin, 22 Februari 2021 sejumlah fakta muncul. Moderator diskusi Lodi Meda Kini menanyakan bagaimana memastikan agar para pedagang pasar pun mampu mengakses tes massal, siapa yang harus pro aktif agar mereka bisa dites secara massal? Sebab ia mengingatkan perlu ada dukungan pemerintah untuk memastikan hambatan digital literacy dapat dilalui warga dari kalangan mana pun. “Bagaimana orang pasar diminta untuk mengisi google form?”

Pertanyaannya memantik diskusi. Menurut para peserta diskusi pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota perlu secara aktif melakukan sosialisasi keberadaan dan fungsi Lab Biokesmas Provinsi NTT, yang mampu memberikan solusi untuk para keluarga, instansi, maupun komunitas yang membutuhkan layanan tes PCR massal.

Sejak awal berdirinya Lab Biokesmas Provinsi NTT dimaksudkan agar memberikan pilihan bagi warga bahwa tes PCR tidak harus mahal. Metode tes massal lah yang memungkinkan agar warga dari berbagai lapisan bisa mengakses tes PCR.

“Singkatnya, jika yang bisa mendapatkan hanya tes orang yang punya uang, tidak mungkin kita bisa memastikan bahwa angka penularan tidak semakin tinggi, perlu ada terobosan yang membuat orang miskin pun punya akses pada PCR,” kata Elcid Li, moderator Forum Academia NTT.

Dalam beberapa pertemuan Elcid mencontohkan cerita yang muncul relief candi yang mengisahkan tentang burung berkepala dua. Ketika hanya satu kepala yang diberi makan, pada suatu waktu kepala burung yang tidak pernah mendapatkan makan kemudian memilih makan racun. Maka mati lah kedua burung itu. Di era pandemi jika hanya orang kaya yang mempunyai akses, maka sampai kapan pun tidak ada peluang menghentikan penularan bisa. Menurutnya dalam kerangka ini maka pemeriksaan harus lah gratis karena ini merupakan hak. “Logisnya kalau pilihan berbayar semakin merusak sistem kesehatan, maka jangan diteruskan, tes harus lah gratis agar semakin banyak yang punya akses dalam perang melawan pandemic ini,” kata Elcid.

Laboratorium Inovasi

“Sejak awal laboratorium ini hadir sebagai laboratorium inovasi, artinya laboratorium ini merupakan sebuah terobosan dan pemerintah Nusa Tenggara Timur mendukung langkah terobosan yang dilakukan oleh teman-teman Forum Academia NTT,” ujar Dr.Jeffrey Yap yang hadir mewakili Kabid P2P Dinas Kesehatan Provinsi NTT yang berhalangan hadir. Ia mengakui bahwa memang tidak mudah mendirikan laboratorium inovasi, tetapi toh ini berhasil didirikan. Menurutnya setelah berdiri kita wajib melakukan promosi tentang keberadaan laboratorium yang amat dibutuhkan di era perrang melawan pandemic.

Philip De Rozari PhD, pengajar di Universitas Nusa Cendana yang pernah mendapatkan layanan tes massal untuk keluarganya mengatakan bahwa prosedur tes ini mudah. “Tidak benar kalau prosesnya sulit, kami mengisi google form, dan melampirkan data yang dibutuhkan,” katanya.

Sedangkan Theodor Bole M.Sc., dari Humas Lab Biokesmas Provinsi NTT mengakui bahwa terkadang orang tidak paham apa pentingnya mengisi data. “Dengan data yang ada kita membagi pengelompokan dalam pool test, tanpa data tidak ada basis scientific dalam membagi pengelompokan ,jadi sekali lagi ini bukan mengada-ada atau mau menyusahkan, tetapi ini merupakan prasyarat pemeriksaan,” kata Theo.

Sebagai laboratorium inovasi, Laboratorium Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT dipimpin oleh seorang pakar biomolekuler. Hasil pemeriksaan Lab Biokesmas Provinsi NTT terdaftar langsung dan ada di bawah pantauan Kementrian Kesehatan. “Apa yang kami lakukan adalah inovasi berkelanjutan, artinya kami belajar dari situasi dan kebutuhan yang ada dan merumuskan langkah-langkah penelitian,” kata Dr.Fima Inabuy. Mereka mengakui saat ini sedang melakukan beberapa program riset untuk NTT.

Memetakan mereka yang tanpa gejala

“Tes massal gratis yang dibuat oleh Lab Biokesmas Provinsi NTT bertujuan untuk mendeteksi orang-orang yang tidak bergejala tetapi membawa virus COVID-19. Dari hasil tes kami terlihat cukup banyak orang muda yang secara fisik tidak terlihat sakit, tetapi hasil qPCR menunjukkan titer virus yang tinggi. Ini sangat mengkhawatirkan sebab mereka ini jika berinterkasi dengan orang tua yang mempunyai  penyakit bawaan, akibatnya bisa fatal,” ujar Fima Inabuy PhD, Ketua Tim Pool Test Lab Biokesmas Provinsi NTT.

“Pada awalnya target kami adalah menjaga agar para tenaga kesehatan tidak terinfeksi, sehingga secara berkala kami melakukan tes massal, misalnya untuk para dokter dan perawat di rumah sakit, hingga para laboran laboratorium, bahkan tes massal kami juga menyasar penghuni rumah tahanan kelas 2A Kupang,” kata Theodor Bole M.Sc, staf Humas Lab Biokesmas Provinsi NTT.

Dengan mobil mobile swab yang sudah diperbaiki dari sumbangan warga, Tim Lab Biokesmas Provinsi juga berkeliling menyambangi permintaan tes massal. Awalnya banyak yang antipasti dan ketakutan jika hasilnya positif. “Kami mulai melakukan sosialisasi sejak Bulan November 2020, tetapi itu pun hasilnya baru diperoleh di Bulan Februari 2021, karena orang baru mau diswab setelah angka kematian melambung tinggi,” ujar Theo. Ia berharap dengan sosiliasi yang lebih baik, kemudahan untuk melakukan tes massal secara gratis di NTT dapat semakin dimengerti oleh warga.

Keterangan Foto: Tim Lab Biokesmas Provinsi NTT sedang melakukan pemeriksaan terhadap 320  penghuni dan staf rutan Kelas 2B Kupang pada 19 Januari 2021. Dalam pemeriksaan itu diketahui bahwa 12,5% atau 40 orang penghuni rutan positif COVID-19. Data ini membantu Rutan Kelas 2A untuk melakukan isolasi. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan