oleh

Budi Resosudarmo: Sektor Pariwisata Alternatif Pembangunan NTT

-News-460 views

RADARNTT, Kupang – Sektor pariwisata perlu menjadi perhatian karena bisa menarik labour surplus di NTT dari sektor pertanian dan perdesaan untuk memberikan pendapatan yang lebih baik. Namun, hal yang menjadi penting dalam pariwisata adalah pelayanan (service), sehingga dibutuhkan produktivitas pengetahuan yang baik dalam memberikan pelayanan di sektor pariwisata. Demikian tegas Prof. Budi P Resosudarmo dari Australian National University dalam diskusi virtual dengan tema, Strategi Penanggulangan Kemiskinan NTT, yang diinisiasi oleh Fraksi NasDem DPRD Provinsi NTT, Sabtu (29/5/2021).

“Dari data yang ada sebelum COVID-19 sejak awal tahun 2000-an sampai 2017, sektor yang berkembang cepat di NTT adalah sektor pariwisata, meskipun terlihat masih kecil maka perlu didorong sektor ini dapat digunakan sebagai sektor yang menarik tenaga kerja yang surplus di NTT dari sektor pertanian,” jelas Prof. Budi.

Menurutnya, potensi pariwisata di NTT yang banyak dan mencakup seluruh NTT, perlu diciptakan rantai Pariwisata dari NTT ke Norton Australia. Hal ini merupakan opportunity (peluang) untuk menciptakan satu rantai pariwisata yang unik di Indonesia dan Asia.

“Memang butuh modal tapi modal bisa menyusul dari sektor privat dan investasi, tapi butuh bahan dasar objek wisata dan itu sangat unik dan beragam dimiliki NTT. Dan yang paling penting adalah butuh tingkat proiduktivitas pengetahuan yang baik. Kenapa faktor pengetahuan menjadi kunci, pengembangan pariwisata adalah hal pelayanan (service) membutuhkan pengetahuan paling tinggi dibandingkan sektor lainnya. Pengguna sektor pariwisata adalah mereka yang relatif sudah makmur dan butuh pelayanan yang terbaik,” imbuhnya.

Sektor pariwisata, hingga sebelum COVID-19, berkembang dengan cepat, tapi masih perlu terus didorong  Bisa menjadi sektor alternatif untuk menyerap tenaga kerja dari sektor pertanian. Pihak swasta bisa berperan banyak di sektor ini. Bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dengan cepat dan mencapai tingkat yang jauh lebih baik.

Pariwisata di Bali, walaupun masih jauh di bawah Bangkok dan juga Kuala Lumpur, namun Bali merupakan pusat dan gerbang pariwisata untuk Indonesia. Sejak tahun 2015 sekitar 40 persen turis asing di Indonesia masuk melalui Bali, ada tumpahan dari turis yang datang ke Bali.

“Rantai perjalanan pariwisata ke NTT sudah terbangun, terutama ke Labuan Bajo. Potensi untuk mengembangkan rantai ini ke seluruh NTT ada. Bahkan hingga Australia bagian utara, penting karena turis Australia merupakan turis asing terbesar bersama turis Cina,” tegas Prof. Budi.

Untuk pengembangan sektor pariwisata NTT, Ia mengusulkan perlu investasi pendidikan pariwisata untuk membangun human capital sektor pariwisata di NTT. Mengembangkan pendidikan pariwisata di tingkat SMK, Akademi, dan menyediakan bea siswa khusus pariwisata.

Bukti besarnya potensi sektor pariwisata di NTT telah tergambar jelas pada data yang ada. Lebih dari 400 objek daya tarik wisata tersebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi NTT. Bahkan beberapa objek wisata tersebut cukup viral dan menjadi trending topic akhir-akhir ini, sebut saja Pulau Komodo dan Pulau Padar di Kabupaten Manggarai Barat, Air Terjun Tanggedu dan Bukit Wairinding di Kabupaten Sumba Timur, serta Danau Weekuri dan Pantai Bawana di Kabupaten Sumba Barat Daya. Masing-masing tempat wisata tersebut mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak dapat ditemui di objek wisata serupa di tempat lain.

Selaras dengan banyaknya objek wisata yang terdapat di NTT, kunjungan wisatawan ke NTT selama beberapa tahun terakhir juga menunjukkan tren positif. Selama tahun 2013-2017 jumlah wisatawan terus meningkat, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Pada tahun 2013, terdapat 397.543 wisatawan yang berkunjung ke NTT. Jumlah tersebut konstan mengalami kenaikan tiap tahun hingga mencapai 616.538 wisatawan pada 2017. Dengan kata lain jumlah wisatawan tahun 2017 naik 55 persen dibanding tahun 2013. Jika dilihat dari komposisinya, sebanyak 93.455 wisatawan atau 15,2 persen dari total wisatawan tahun 2017 merupakan wisatawan mancanegara. Jumlah tersebut mengalami kenaikan 42,7 persen dibanding tahun 2016.

Tren serupa juga terjadi pada sektor akomodasi (perhotelan dan penginapan). Jumlah fasilitas akomodasi berupa hotel dan penginapan meningkat cukup signifikan selama 2013-2017. Tahun 2017, terdapat 423 fasilitas akomodasi yang tersebar di berbagai wilayah di NTT, 27 diantaranya berupa hotel berbintang. Jumlah tersebut meningkat 33 persen dibanding keadaan tahun 2013. Fakta menarik terdapat pada akomodasi jenis hotel berbintang.

Selama tahun 2017 terdapat penambahan 8 hotel berbintang di NTT, atau bertambah 42,1 persen hanya dalam kurun waktu satu tahun. Pencapaian tersebut merupakan yang tertinggi selama 5 tahun terakhir, dimana sebelumnya jumlah hotel berbintang selalu konstan sebanyak 17 Hotel selama 2013-2016. Hal ini menunjukkan daya tarik investor terhadap sektor pariwisata di NTT tidak dapat diremehkan. Tentu investor bertindak demikian bukan tanpa alasan, potensi pariwisata di NTT yang semakin kentara menjadi penyebabnya.

Besarnya potensi pariwisata di NTT perlu dikelola dengan baik dan benar, sehingga berdampak positif terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Idealnya, besarnya potensi pariwisata di suatu wilayah, berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat sekitar. Provinsi Bali contohnya, salah satu provinsi dengan potensi pariwisata terbesar di Indonesia. Melalui pengelolaan wisata yang baik, Provinsi Bali telah berhasil menghantarkan masyarakatnya merasakan dampak positif berupa kesejahteraan dan perkonomian yang baik. Terlihat dari persentase penduduk miskinnya yang hanya 3,91 persen menempati urutan kedua sebagai provinsi dengan persentase penduduk miskin terendah di Indonesia, setelah DKI Jakarta. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Bali juga cukup tinggi, yaitu 74,3 (dari skala 1-100) menempati posisi tertinggi ke lima di Indonesia. Hal serupa bukan tidak mungkin terjadi di NTT. Dengan pengelolaan yang baik, niscaya dampak positif akan dirasakan oleh masyarakat NTT. Namun diperlukan berbagai optimalisasi pada beberapa sektor penunjang pariwisata serta kontribusi berbagai pihak untuk mencapai keadaan tersebut. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan