oleh

Cegah “Learning Lose” Pakar Manajemen Pendidikan Untrib Kalabahi Dukung Vaksinasi Segmentasi Pelajar

-News-354 views

RADARNTT, Kupang – Pakar Manajemen Pendidikan dari Universitas Tribuana (Untrib) Kalabahi-Alor, Dr Fredrik Abia Kande, S. Pd., mendukung pelaksanaan vaksinasi kepada pelajar demi mencegah kondisi menurunnya minat belajar siswa atau “learning lose” yang berdampak pada hasil belajar.

“Kita mendukung upaya pemerintah dalam vaksinasi warga apalagi dengan pola segmentasi, khusus kepada para pelajar sehingga mereka juga bisa divaksin dan memiliki antibodi agar bisa kembali belajar di sekolah,” kata Fredrik Kande.

Sekalipun demikian, lanjut Kande, dibutuhkan dua hal untuk dapat menekan angka penyebaran Covid-19, di antaranya dengan penerapan disiplin dan peningkatan literasi warga sekolah.

“Pemerintah tidak boleh mengabaikan bidang pendidikan, karena bisa muncul apa yang disebut dengan “learning lose”, di mana menurunnya minat belajar siswa sehingga mempengaruhi hasil belajar,” tegas Pakar Manajemen Pendidikan jebolan Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Lalu, kata Kande, jangan sampai siswa tidak belajar tetapi diluluskan, karena jauh sebelum Pendemik pun fenomena itu sudah ada, teristimewa di daerah-daerah.

“Ini berbahaya karena kita menuju darurat capaian belajar. Kalau demikian, maka pendidikan bisa kehilangan fungsinya sebagai pusat penyiapan sumber daya manusia dan peradaban bangsa,” tandas Fredrik Abia Kande.

Senada dengannya, Ketua Ombudsman Perwakilan NTT, Darius Beda Daton mengatakan, vaksinasi segmen pelajar sejalan dengan perintah Presiden, jika anak bisa divaksin merata, sekolah tatap muka bisa dimulai.

Namun, ia juga mengkritisi kuota distribusi vaksin yang sangat terbatas dan manajemen vaksin yang belum tertata rapih.

“Tantangannya adalah apakah stok vaksin dan distribusinya cukup untuk semua anak kita. Dan manajemen vaksin kita hemat saya belum tertata rapi. Warga masih mencari sendiri di faskes mana dia bisa dapat vaksin,” kata Beda Daton.

Menurutnya, belum ada pengaturan per kelurahan atau RT RW. Sehingga banyak warga yang belum divaksin karena tidak tahu di mana dia divaksin dan kapan.

“Hemat saya, pelaksanaan vaksin ini agar dikembalikan ke otoritas kesehatan agar lebih tertata dan tidak hiruk pikuk seperti saat ini,” kata Beda Daton.

Dokter Asep Purnama dari RSUD TC Hillers Maumere mengatakan bahwa vaksinasi kepada anak usia 12-18 tahun sudah dibolehkan.

“Ada tiga solusi pencegahan dan penanggulangan Covid-19 saat ini yaitu: 5M, 3T dan Vaksin,” tegasnya.

Menurut dokter Asep Purnama, meningkatkan cakupan vaksinasi Covid-19 perlu dilaksanakan sembari masyarakat tertib menerapkan protokol kesehatan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas).

Sedangkan Pemerintah terus meningkatkan 3T (testing, tracing, treatment) agar segera memutuskan mata rantai penularan Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan NTT dokter Messe Ataupah mengatakan Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan capaian vaksinasi sampai 70 persen pada akhir Desember 2021.

“Untuk itu, semua orang diminta  mensukseskan rencana pemerintah tersebut,” katanya.

Pasalnya, sampai saat ini medio Agustus 2021 cakupan vaksinasi Covid-19 di NTT masih rendah yakni 16 persen untuk dosis pertama dan 8,9 persen untuk dosis kedua dari total sasaran 3,8 juta orang.

Menurutnya, ada beberapa hal yang memengaruhi laju vaksinasi seperti kekhawatiran mengenai keamanan vaksin, keresahan masyarakat tentang efek setelah divaksin, dan informasi negatif yang beredar liar mengenai vaksin tersebut.

Dia menyebutkan, sejak pandemi vaksinasi rutin terhadap ana-anak juga menurun dratis. Untuk itu, selain mendorong masyarakat agar tidak takut divaksin, juga mendorong orang tua untuk membawa anak-anak mereka ke puskemas dan posyandu untuk diimunisasi. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan