oleh

Diduga Kelainan Mental, Bocah Diikat Di Depan Rumah

-News-2.616 views

RADARNTT, Borong – Menyedihkan, bagaimana tidak, seorang bocah berusia 10 tahun yang diduga memiliki kelainan mental sepanjang hari duduk menyendiri di depan rumahnya. Dengan seutas tali sekitar dua meter di pergelangan kakinya, dia diikat pada sebatang pohon.

Diketahui, bocah yang memiliki nama lengkap Fabianus Ali yang kini seharusnya duduk di bangku kelas empat SD, terpaksa harus diikat seutas tali pada sebuah pohon, lantaran dirinya kerap meresahkan keluarga.

Pada kunjungan media ini, Jumat siang (2/7/2021), tampak Fabianus duduk menyendiri di bawah rindangnya pohon kersen di depan rumahnya yang beralamat di Jalan Trans Flores, Kampung Golo Mongkok, Desa Watu Mori, Kecamatan Rana Mese Kabupaten Manggarai Timur. Terlihat rumah di tempat Fabi tinggal, sangat sepi. Melihat kedatangan awak media, tampak sepasang suami istri, dengan senyum agak bingung keluar dari pintu rumah dan menyambut kedatangan awak media ini.

Diketahui, keduanya adalah Kakek dan Nenek Fabianus. Diajaknya masuk ke dalam
kediaman mereka, dengan ramah, keduanya menyambut awak media siang itu. Kakek Hendrikus Gandut (67), bekerja sebagai petani dan penjual kayu bakar, begitu ia memperkenalkan diri kepada media ini. Sedangkan Istrinya adalah Nenek Martina Tamu, berusia 65 tahun.

Meskipun di usia lanjut, keduanya harus menanggung beban kerasnya hidup yang harus dijalani. Di dalam rumah yang berukuran 20 meter persegi itu, kakek Hendrikus dan Nenek Martina harus menanggung keenam anak dan cucunya.

Diantaranya, Fabianus sebagai cucu yang paling kecil, namun memiliki kelainan mental. Kepada media ini, dengan pilu, Hendrikus Gandut mengisahkan bahwa Fabianus adalah Cucu, anak kedua dari Anak Laki-lakinya, Stefanus Kanur (35).

Dikisahkan Hendrikus, putranya, Stef telah berpisah dengan istrinya sejak tahun 2013 silam. Memiliki dua orang anak. Anak pertama sudah kelas lima SD, sekarang sudah tinggal bersama ibunya. Lanjut Hendrikus, sedangkan Fabianus anak kedua, lahir pada tahun 2011.

“Pada usia dua tahunnya, Fabianus berangkat bersama ibunya ke kampung halaman ibunya. Sedangkan suaminya ditinggal. Baru tahun lalu (2020), Fabianus diantar pulang (ke rumah Hendrikus) dalam keadaan sakit cacat mental,” ungkap Hendrikus, kakek malang itu.

Diceritakan Hendrikus, putranya, Stefanus Kanur mengalami sakit yang sama dengan anaknya. Kata Hendrikus, selain Stefanus, ia dan istrinya juga tinggal bersama beberapa cucunya, lantaran orang tua dari cucunya sedang merantau di luar NTT.

Hendrikus kerap kali menghabiskan waktunya dengan mencari kayu bakar untuk dijual. Dikatakannya, sebelumnya ia bekerja sebagai petani sawah. Hendrikus melepaskan profesinya sebagai petani sawah, bukan tanpa alasan. Dikatakannya bahwa sawah yang dikerjakannya kering karena irigasi rusak.

“Selama tidak mengerjakan sawah, saya mencari kayu untuk dijual, sehari dapat dua ikat, seikat dijual dengan harga sepuluh ribu rupiah,” ungkap Kakek Hendrikus.

Sedangkan istrinya nenek Martina untuk menafkahi keluarga, harus menghabiskan waktunya untuk mencari kemiri di kebun, demi bertahan hidup keluarga.

Tak Punya Uang Untuk Mengobati Fabianus, Cucu Mereka

Hendrikus, sembari meneteskan air matanya, mengisahkan bahwa ia juga sangat bersedih melihat cucunya tersiksa, lantaran karena sakit gangguan mental.

“Sedih sekali Pak. Dia baru diikat seperti itu baru beberapa hari. Itu karena kami takut. Kalau lepas, dia sering jalan sembarang, lari seperti rusah di tengah jalan, tidak melihat kendaraan. Kadang juga lari kehutan. Jika di dalam rumah, dia sering berontak, apa lagi rumah kami ini kecil,” tutur Kakek Hendrikus.

Menambah apa yang disampaikan suaminya, Martina Tamu mengatakan bahwa selama musim kemiri, dirinya dan beberapa cucunya selalu ke kebun untuk mencari kemiri, untuk membeli beras. Hal itulah menurut dia, Fabianus ditinggal di rumah.

“Agar dia (Fabianus) tidak kemana- mana, dia diikat saja di depan rumah, bukan sengaja. Kalau di dalam rumah, kami takut pulang kebun rumah hancur ,” terangnya.

Dikatakan Nenek Martina kepada media ini, betapa mereka merindukan belaskasihan pemerintah dan pihak lain untuk membantu mereka yang kian berusia senja.

“Kami sangat rindu cucu kami ini sembuh, mendapat perawatan dan sehat biar cepat seperti anak-anak lain yang sekolah, tolong pak bantu kami,” tutur Nenek Martina mengetuk pintu hati.

“Jangankan membeli obat dan pakaian, untuk membeli beras menghidupkan keluarga, terkadang agak susah. Apa lagi salah satu dari cucu kami, bernama Sonia Merlinda Paskalia baru berusia 13 tahun ingin masuk sekolah SMP, kami belum punya uang untuk mendaftarkannya di sekolah,” tutur Nenek Martina.

Untuk saat ini, Stefanus Kanur dan cucunya belum memiliki dokumen data diri, seperti KTP dan Kartu Keluarga serta Kartu BPJS, Martina Sangat membutuhkan bantuan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur. (GN/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan