oleh

Donatus Ola Pereda Jurnalis Artistik Media Indonesia Asal Adonara Berpulang

-News-978 views

KEMARIN pagi, Pemimpin Redaksi Harian Media Indonesia Gaudensius Suhardi menulis kabar itu. Donatus Ola Pereda, seorang rekan sesama pekerja media di Jakarta dari Nusa Tenggara Timur, kembali ke rumah-Nya. Ama Don ngepos di Media Indonesia, salah satu anak usaha grup milik Drs. H. Surya Palòh, politisi senior dan pengusaha sukses Indonesia. Tak sulit mendeteksi pekerja media, terutama dari Nusa Tenggara Timur, yang nyaris berkarya di hampir semua media cetak dan elektronik yang berbasis di Jakarta.

Pun para pekerja media-media asing liputan Jakarta. Jarang pula saya bertemu juga dengan rekan Don, sahabat sesama pekerja media kelahiran Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Begitu pula rekan-rekan sesama jurnalis dari Pulau Solor, Flores Timur atau Larantuka dan sekitarnya, ujung timur Pulau Flores. Beberapa nama di antaranya, sudah akrab saat saya masih bertaruh waktu merampungkan studi di Kùpang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya cukup akrab dengan sejumlah nama wartawàn senior NTT dari ujung timur Flores dan sekitarnya seperti Frans Padak Demon, Hermien Y. Kleden, Aloy Rebong, Yasir Nene Ama, Usman Kansong, Silvester Keda, Valentino Korohama Blikololong, Chun Aliandu, Benjamin Tukan, Ferdinandus Diri Amajari Lamak, Stanis Herin, Dionisius Pati Muda, Pius Klobor, John Laba Wujon, (sekadar menyebut beberapa di antaranya), dan lain-lain.

Namun, kemarin pagi kabar itu datang dari kraeng Gaudens Suhardi, orang nomor satu di jajaran redaksi koran nasional itu. Segera setelah itu, grup WhatsApp Wartawan NTT Sedunia yang digawangi Agustinus Gusti Adi Tetiro, produser berita di BeritaSatu TV, geger dengan kabar kraeng Gaudens, jurnalis senior dari Manggarai, ujung barat Flores. Ungkatan duka dan foto sahabat Don berseliweran. “RIP Donatus Ola Pereda. Rekan kerja asal Adonara, NTT, ini dikenal sebagai ‘orang Flores yang tidak bisa marah’. Kami menyapanya ‘kaka Don’. Redaktur Artistik Media Indonesia ini meninggal pada Senin (15/3) pukul 23.32 WIB,” kata Gaudens dalam cuitan di laman Facebook miliknya, kemarin.

Akun Gaudens langsung disemuti ucapan belasungkawa dari para sahabat ama Don. “Kawan baikku itu. Saya sering ledekin almarhum. Hebat kali orang Flores jadul, jago bikin layout, grafis, iklan. Lompatan pemikiran yang luar biasa, dari pacul-sekop ke teknologi canggih. Dia cuma senyam-senyum sambil isap Djisamsoe. Kesan semua orang di Media Grup, Don orang yang sangat baik, rendah hati dan tidak pernah marah. Semoga Don masuk dalam kerajaan surga bersama Kristus yang dia imani,” kata John Donbosko Adja, produser senior Metro TV, kolega Don. Kolega lain menulis berikut ini.

“Selamat jalan bro Donatus Ola Pereda, semoga kau tenang di sisi Tuhan YME. Aku bersaksi kau orang baik. Humble, down to earth, gak pernah marah,” ujar mas Wisnubroto Kristantyo.

Harian Media Indonesia menurunkan dua artikel terkait berpulangnya sahabat Don. Dua artikel itu masing-masing:
https://m.mediaindonesia.com/humaniora/390996/kaka-kembali-ke-adonara dan
https://m.mediaindonesia.com/humaniora/391116/isak-tangis-keluarga-sambut-jenazah-donatus-ola-pareda guna mengenang pekerja media yang berurusan dengan aspek artistik koran tua itu.

Esimu doan daen jam 03.00 WIB terbang dari Cengkareng ke Kupang. Nanti lanjut Larantuka baru ke Adonara,” kata Gusty Masan Raya, Pemimpin Redaksi Papua Bangkit di Jayapura mengutip kerabat Don. Jenazah Don segera meninggalkan Kedoya, kantornya dan segera melewati langit Jakarta menuju Larantuka hingga Adonara via bandara internasional El Tari Kupang, Timor.

Don Pereda ada dalam catatan Stefan ‘fadly’ Kelen, Pr, imam Projo Keuskupan Pangkalpinang sekaligus rekan sesama jurnalis saat tuan Stef merampungkan studi S-2 di Jakarta dan sempat magang di Media Indonesia. Romo Stef Kelen, imam asal Flores Timur menulis sekilas tentang Don. Sebagai seorang seniman, ia dipercayakan oleh manajemen Media Indonesia untuk menjadi redaktur artistik.

“Saya mengenalnya ketika magang di Media Indonesia, tahun 2011. Setelah itu kami sering berkolaborasi dalam urusan desain majalah, cover buku, logo, dll,” kata Romo Stef Kelen.

Ocha Ryo, kerabat dekatnya mengisahkan, Don lahir di kampung Homa, Kelurahan Lamatewelu, Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara. Don lahir sebagai anak sulung dari empat bersaudara pasangan suami-isteri Beda Ola Lamaewak & Gita Lamakadu. Ayahnya adalah mantan Kepala Desa Lamatwelu tempo doeloe sebelum desa itu ditingkatkan statusnya menjadi kelurahan.

Siang ini, Don na balik si Lamatwelu, kembali lewo, kampung di Lamatwelu. Para kerabat dan orang-orang terkasih, tengah memenuhi dermaga Tobilota, Adonara. Don akan melewati selat Gonzalu dari Larantuka, kota Reinha, kota Maria menepi ke Tobilota (baca juga https://m.mediaindonesia.com/humaniora/391215/jenazah-kaka-dona-diberkati-rekan-imamnya-di-bandara-larantuka) dan mobil segera menuju Lamatwelu.

Kata Romo Stef Kelen, persembahan Don untuk Yayasan Tunas Karya (YTK) Pangkalpinang sudah terhitung banyak. Logo ultah YTK dari ultah yang ke 60 sampai ke 62. Yang terakhir, kisah Romo Stef, berkolaborasi dengan Don “menyempurnakan” logo SMK Tunas Karya yang baru. Kemudian dalam proyek sosial sang pastor, beberapa minggu terakhir, Don sudah menyelesaikan desain baju seragam sepak bola yang akan dicetak untuk disumbangkan ke sebuah desa tertinggal di ujung timur Flores. Niatnya ikut memotivasi orang muda di sana.

Don digambarkan sebagai seorang pria pendia Don lahir di Adonara, pulau mungil yang banyak menghasilkan seniman baik musik, sastra, dan grafis. Bahkan intelektual kelas dunia juga lahir dari rahim Adonara, pulau yang dilihat dengan mata telanjang dari Kota Sau, ujung Timur Flores, di atas arus Gonzalu yang seksi. Pagi atau siang ini, Don segera menyapa nusa Tadon Adonara, tanah kelahirannya, seteleh pesawat mencium landasan pacu Gewayantana Larantuka. Dari Larantuka, mata iman Katolik, tengah membayangkan bahwa doa Don akan menyasar juga rekan-rekannya di Kedoya. Keahlian Don dalam urusan desain dan sosok almarhum akan selalu di hati rekan-rekannya.

“Saya sering ledekin kaka Don kalau lagi nongkrong. Ngero, kau belajar dari mana bikin grafis keren-keren. Hebat sekali lompatanmu, dari pacul ke komputer canggih,” kata John Don Bosko dalam grup WA Wartawan NTT.

“Keluarga besar MI kini mesti merelakan orang baik tersebut. Dini hari tadi, jenazahnya diterbangkan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, untuk kemudian menuju ke Larantuka. Di sana, ia akan menyeberangi lautan dan menyusuri daratan sebelum dikebumikan di tanah kelahirannya nan indah, Adonara. Selamat jalan, Kaka,” kata Briyanbodo Hendro dalam judul ‘Kaka Kembali ke Adonara‘ mediaindonesia.com edisi hari ini.

Selamat jalan, amane. Pana maan sare-sare. Semoga isteri, anak-anakmu terkasih, dan keluarga besar beroleh penghiburan. Semangatmu dalam dunia para kuli tinta adalah warisan kami semua mengabdi ribu ratu. Semoga Tuhan berkati dan lera wulan tana ekan merestui tugas serta karya kita.

 

Jakarta, 17 Maret 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan