oleh

Fima Inabuy Siap Replikasikan Surveilens Sekolah Berbasis “Pooled Test-qPCR” di Indonesia

RADARNTT, Kupang – Pakar Biomolekuler asal NTT, Fima Inabuy, PhD menyanggupi dan siap membantu Menteri Kesehatan (Mankes) Budi Sadikin untuk mereplikasikan model Surveilens Sekolah berbasis “Pooled test-qPCR” di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Secara resmi Menkes RI, meminta Fima Inabuy, PhD untuk tidak hanya memperhatikan dan bekerja untuk wilayah NTT tetapi juga mendesain program serupa, khususnya surveilens berbasis pool test di berbagai institusi pendidikan untuk wilayah Republik Indonesia.

Dalam pertemuan dengan Menteri Kesehatan RI secara virtual Jumat, 27 Agustus 2021 yang didampingi 20-an pakar kesehatan terkait, metode pool test yang dikembangkan Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT dipresentasikan oleh Fima Inabuy, PhD dan Alfredo Kono, PhD.

Keduanya juga dijanjikan Menkes akan mendapatkan bantuan alat tambahan untuk semakin mengembangkan Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT.

Fima Inabuy PhD dan Alfredo Kono, PhD bersama Dr.Elcid Li, mempresentasikan peran Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT sebagai ‘laboratorium percontohan’ tingkat nasional kepada Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

“Surveilens sekolah berbasis ‘Pool test-qPCR’ sudah kami implementasikan di 8 SMA di Kota Kupang, April -Juni 2021 lalu, sehingga model tersebut akan kita replikasikan di Provinsi lain, menyesuaikan dengan konteks masing-masing wilayah, bekerjasama dengan Pemda dan laboratorium-laboratorium setempat,” jelasnya.

Fima Inabuy menyatakan siap melaksanakan permintaan Menkes dengan berkaca dari pengalaman praktis yang sedang dikerjakan selama hampir setahun terakhir ini dalam mendirikan dan mengoperasikan Laboratorium Biokesmas Provinsi NTT.

“Kami menyanggupi dan membantu pak Menkes dalam mengembangkan metode pool test untuk surveilens berbasis sekolah di Indonesia,” tegas Ahli Boimolekuler jebolan Washington State University.

Secara teknisnya, kata Fima Inabuy, akan dibicarakan bersama teman-teman di Forum Academia NTT tempatnya berhimpun dan menggagas lahirnya konsep dan implementasi Laboratorium Biokesmas Provinsi NTT itu.

“Atas nama teman-teman, kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi niat baik pak Menkes yang sudah menawarkan beberapa gagasan untuk membangun metode pool test dalam rangka surveilens di tengah pandemi Covid-19,” kata Fima Inabuy.

Dia juga menegaskan bahwa Laboratorium Biokesmas NTT akan terus menjadi basis riset dan pengambangan metode-metode baru dalam penanganan penyakit berbasis public health.

“Saya akan tetap berbasis di Biokesmas,” tegas Fima Inabuy.

Pada hari yang sama juga dilangsungkan rapat dengar pendapat para pihak terkait Laboratorium Biomolekuler Masyarakat Provinsi NTT di Komisi V DPRD Provinsi NTT dengan menghadirkan perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dinas Kesehatan Kota Kupang, Universitas Nusa Cendana dan Forum Academia NTT.

Berdasarkan hasil dari kedua pertemuan itu maka, Forum Academia NTT (FAN) memberikan keputusan terkait Laboratorium Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT.

“Sesuai dengan perkembangan terbaru hasil pertemuan dengan Menteri Kesehatan Republik Indonesia terkait pengembangan metode pool test sebagai metode surveillance sekolah yang dirintis Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT akan dikembangkan sebagai metode yang akan diadopsi secara nasional terkait bersekolah di era pandemi, maka diputuskan lokasi laboratorium tetap akan dipindahkan ke lokasi baru milik Pemerintah Provinsi NTT yang sementara dipersiapkan. Selama persiapan lokasi baru laboratorium, pelayanan tetap dijalankan di lokasi lama, hingga lokasi baru selesai dipersiapkan sesuai standar,” demikian ditegaskan dalam pers rilis.

Selama masa persiapan pemindahan lokasi operasional Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT, pelayanan qPCR Pool Test, tetap dijalankan seperti biasa. Untuk mengakses dan melakukan pemeriksaan, warga silakan melakukan pendaftaran ke Bagian Humas Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT di no WA: 081339195746 . Pelayanan diberikan sesuai dengan prinsip kedaruratan dan diprioritaskan bagi yang paling membutuhkan.

Keputusan pemindahan ini dipandang perlu untuk memberikan kesempatan bagi Universitas Nusa Cendana untuk lebih fokus mengembangkan laboratorium klinis yang dipimpin oleh dokter patologi klinis.

Metode pool test sebagai tehnik surveillance yang dikembangkan oleh para ahli biomolekuler di lab ini merupakan strategi yang dirancang oleh para ahli kesehatan masyarakat dan ahli biomolekuler yang tergabung dalam FAN. Perbedaan konsep laboratorium ini membutuhkan tim kerja yang berbeda, karena tujuannya berbeda. Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT lebih fokus pada skema pencegahan di masa kedaruratan, sedangkan Universitas Nusa Cendana lebih fokus pada labotorium klinis.

Forum Academia NTT juga berterima kasih atas pernyataan Rektor Undana, Prof.Fred Benu yang menegaskan siapa pun yang melaporkan penanggungjawab Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT kepada pihak Poresta Kupang untuk segera mencabutnya.

“Kami menganggap insiatif ini merupakan sebuah langkah baik demi kerjasama yang lebih optimal di masa pandemi. Surat dari Polresta yang meminta penanggungjawab laboratorium untuk menghadap menurut hemat kami adalah salah alamat, sebab penanggungjawab laboratorium ini adalah Gubernur NTT,” tegasnya.

Kami meminta agar Dinas Kesehatan Kota Kupang dan Pemerintah Kota Kupang segera mengatifkan peralatan laboratorium yang sudah dikirimkan pemerintah pusat, agar pemeriksaan mandiri bisa segera dilakukan dan tanpa mengirimkan hasil swab kepada Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT. Sebab jika peralatan yang ada sudah dimanfaatkan itu akan sangat membantu warga dalam menghadapi pandemi COVID-19.

Kami meminta agar Dinas Kesehatan Kota Kupang dan Pemerintah Kota Kupang agar lebih memperhatikan prosedur administrasi dalam melakukan pengawasan laboratorium. Pihak Dinas Kesehatan seharusnya meminta pandangan dari Litbangkes Kementrian Kesehatan Republik Indonesia sebelum melakukan aksi penutupan yang tidak prosedural.

“Kami meminta agar Dinas Kesehatan Provinsi NTT khususnya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT membaca dengan saksama SK Gubernur nomor 250/KEP/HK/2020 tanggal 14 Agustus 2020, yang menyebutkan secara khusus keberdaan Forum Academia NTT sebagai pelaksana tim pool test. Untuk itu kami meminta seluruh urusan terkait Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT wajib mengikutsertakan Forum Academia NTT dalam pembicaraan. Keputusan yang diambil tanpa melibatkan FAN sebagai inisiator laboratorium, kami anggap bukanlah keputusan yang adil dan bermartabat.”

Forum Academia NTT tetap mempertahankan nama Laboratorium Biomoluker Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT, sebagai nama yang sah dan bersejarah sejak pertama kali diresmikan oleh Menteri Kesehatan RI pada tanggal 16 Oktober 2020. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan