oleh

Hanai yang Menganyam Kaharingan

-News-132 views

Anak-anak rimba mulai terlena dengan liukan tangan si Hanai memberi nama barang-barang yang tergambar itu.

Gerak hidrotropisme tanaman epifit itu membuka pagi yang berembun segar. Sulur-sulur akarnya bergerak riang mencecap tetes embun yang membalur pepohonan. Begitu indah tak kentara.

Anggrek Meratus itu tak punya sistem saraf. Tetap punya kemauan untuk menerima rangsang dan memberikan reaksi terhadap rangsang embun segar untuk hidupnya.

Manusia, aku, yang bersistem saraf, kadang lupa bahwa air itu adalah emas.

“Mana yang namanya limpatu, marawin, kapul, kusit, karantungan, kulidang itu?” tanyaku.

“Ah, semua kau tanyakan!” seru Hanai.

“Biar,” kataku.

“Ayo, bergegas!” perintahnya.

“Sial Hanai!” pekikku. Sepertinya dia sengaja. Agar aku tak sempat menyimpan titik koordinat Dendrobium hepaticum yang endemik itu.

Kembali kuatur pikulan berat ini. Melangkah pelan ditahan tanjakan. Benar-benar disiksa hari ini untuk menjadi manusia hidrotropisme. Agar sadar, bahwa air itu emas.

Banyak yang asing bagiku di hutan hujan tropis ini. Yang epifit, terestrial, saprofit, pun litofit. Yang tak asing, ya, diriku sendiri. Makhluk semua matra, pengusik darat, laut dan udara!

Masih kupandangi gelantung anggrek itu. Benar, katanya sebagai simbol rasa cinta, kemewahan, dan keindahan selama berabad-abad lalu itu nyata di pelupuk mata.

Aku kecut, menunduk malu. Diriku, manusia, hmm, lambang perusak alam.

Tibalah di ujung gelap kanopi hutan hujan tropis. Cahaya matahari mulai bebas berbagi dengan lapisan humus yang menebal itu. Hingga sampailah aku di sebuah pelataran dengan beberapa bangunan kayu. Senyap, hanya beberapa ekor ayam berkotek menyambut kedatanganku.

Tidak ada welcoming drinks. Hanya kantong semar, tumbuhan bergenus Nepenthes yang monotipik itu, tersodor dari jemari lembut si Hanai. Isinya air segar.

Kemudian sayup terdengar seseorang merapal mantra. Bahasanya tentu tak kumengerti. Seaneh nama-nama tadi: limpatu, marawin, kapul, kusit, karantungan, kulidang.

Aroma dupa menguar keluar bangunan kayu berukuran 6 x 5 meter itu. Bagian depannya berhias patung-patung berbagai ukuran.

Di sudut lain, terlihat beberapa guci keramik dan beragam mandau tersandar begitu saja tanpa penataan dan ornamen.

Tanpa permisi, dengan kawalan si Hanai, perempuan yang tidaklah menyeramkan dan defensif seperti yang dikatakan kebanyakan orang, akhirnya aku dapat masuk saja tanpa ritual ke bangunan itu.

Di hadapan perapal mantra itu, terdapat beras ketan kuning yang ditaruh di atas mangkuk tembaga. Di atas beras itulah ditaruh sebatang dupa. Lalu ia meraup segenggam beras dan mendekatkan beras itu ke mulutnya, lalu berbisik dalam bahasa yang sudah tercampur.

Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing!” rapalnya bersemangat.

“Apa artinya?”

“Huh! Kau tanya lagi!”

Di kemudian hari kutahu artinya setelah bibirku hanya beberapa milimeter dari bibir si Hanai:

“Tetap bersemangat dan kuat seperti baja dari awal sampai akhir!”

Perapal mantra itu paruh baya. Penganut kaharingan yang berarti “hidup”. Imannya mencakup konsep Dewa Agung dan menekankan harmoni antara manusia dan alam. Hingga teguh menjaga warisan leluhur tetap lestari dalam menjalani kehidupan.

Sekali lagi aku terusik, tentang imanku. Yang katanya lahir dari mantra dan ritus impor padang pasir yang sama aneh bahasanya dan diklaim paling mulia itu. Praktiknya, aku saja, ya, bukan kalian, tak lebih dari tampilan luar.

“Hanai, sudah kau siapkan senjatanya?” tanya sang perapal mantra.

“Sedikit lagi, Kai!” jawabnya sambil terus menggerakkan tangannya dengan lincah. Sepertinya sibuk dengan sesuatu di lantai kayu itu.

Beberapa pewarna alami tercecer. Akar kunyit untuk warna kuning, buah pinang untuk membuat warna merah dan cokelat.

Sehelai kain putih terhampar. Tak satu pun ada goresan corak-corak tradisional. Dia memoles grafis yang sangat kukenal. Bahkan kalian yang awam pun paham. Betul, sangat paham!

Dalam hatiku: itukah senjatamu? Mana mungkin sehelai kain dengan grafis itu mampu jadi senjata yang siap membela diri? Tidakkah kau gunakan mandau-mandau tajam yang tersandar itu dengan seni bela diri khas kiinyah aduhai milikmu?

Atau, kau pinjam saja lengan si Kai, sang perapal mantra yang kekar penuh tutang atau tato bermotif burung enggang itu?

“Tidakkah kau tanya lagi apa ini, hai, tukang tanya?” Hanai membuyarkan semua penasaranku.

“Tidak! Sudah terbaca jelas apa yang kau goreskan itu,” jawabku.

Tak kukedipkan mataku sambil terus mengawasinya. Grafis itu memaksa prasangkaku tentang apa yang akan terjadi dengan sehelai kain yang akan berubah fungsi menjadi senjata yang mematikan itu.

Pandanganku makin nanar. Kain panjangnya yang tersingkap, mempertontonkan tato Tedak Kassa di atas mata kakinya. Konon itu menandakan bahwa perempuan tersebut telah dewasa.

Langsat kulitnya hasil pencampuran keturunan dengan Tionghoa yang mulai datang ke Indonesia sejak 1368 hingga 1643 itu sungguh menawan. Rambutnya, duh, aduhai. Perasan limau dan buah langer membuat rambutnya tetap harum, indah, panjang, dan berwarna hitam pekat.

“Hai!” Si Hanai memutus deskripsi liarku.

“Ehh, ya, anu.” aku tergagap.

“Bawa senjata ini ke si Bawin, si Enon, si Jenta dan si Hawon!”

“Siap!”

Dua hari sudah mereka membuat salinan kain bergrafis yang katanya “senjata” itu. Terkumpul lima helai lebar. Mereka melipatnya dengan sangat hati-hati bak kitab suci agung.

Apa yang akan mereka lakukan dengan itu semua? Magis apa yang akan keluar?

Kuselesaikan saja tugasku, memikul bungkusan besar yang aku tak tahu apa isinya. Cukup berat juga. Memikulnya dari pondokan kayu si perapal mantra hingga ke sebuah bangunan balai ulin mirip sekolahan di tengah belantara bukanlah olahraga yang mudah.

Saat tiba di bangunan balai mirip sekolahan itu, di hadapanku, berkumpul para Ulu Kampung dan Ulu Banua atau tetua adat.

Kilau kueh mambuka sekolahan?” tanya para tetua tertuju kepada si Hanai yang erat memegang senjata dari sehelai kain itu.

Apalagi yang dikatakan tetua itu? Aku mulai menganibal terjemahan. Mungkin artinya: bagaimana membuka sekolahan itu?

Sepertinya ini perangnya? Dua kubu berhadapan. Si Hanai dan teman-temannya berhadapan dengan tetua.

“Bukankah ini hutan adat, Hanai?” kata tetua.

“Wahai tetua, bukankah pendidikan juga adat kita juga?” balas si Hanai.

Duan kulate, ilihi batange!!” (Ambil jamur, tinggalkan pohonnya!) lanjut si Hanai sambil mengeluarkan senjatanya, kain yang bergrafis itu!

Dibukanya perlahan bersama teman-temannya. Bersamaan itu berhamburan kanak-kanak rimba menuju lembaran kain itu.

“Ini ikan, ini buaya, ini mawar, ini gedung, ini komputer, ini jembatan!” sorak-sorai anak-anak rimba itu menyebut gambar-gambar indah di kain putih itu.

Sekejap suasana hening. Anak-anak rimba mulai terlena dengan liukan tangan si Hanai memberi nama barang-barang yang tergambar itu dengan spidol.

Tetua menunduk. Aku berjingkrak. Alam tersenyum.

 

Oleh: Yudho Sasongko

 

Artikel ini sudah terbit di nalarpolitik.com

Komentar