oleh

Kunker di Nagekeo, Gubernur NTT Tekankan Kolaborasi BUMDes dan Koperasi Bangun Desa

-News-543 views

RADARNTT, Mbay – Untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat di desa, perlu desain kerja sama kelembagaan ekonomi di tingkat desa antara BUMDes dan Koperasi, mengingat banyak masyarakat belum memiliki pengetahuan bisnis yang memadai. Demikian ditegaskan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat saat melakukan kunjungan kerja di desa Solo, kecamatan Boawae, kabupaten Nagekeo, Senin (24/5/2021).

Menurut Gubernur Viktor, terkait BUMDes kita harus mampu memilah program dengan pemahaman dan karakteristik masyarakat kita yang belum memiliki pengetahuan bisnis yang mumpuni sehingga BUMDes tidak bisa maksimal dalam mengolah potensi ekonomi di desa. Padahal kita ini provinsi dengan memiliki koperasi-koperasi besar di dalamnya. Pada konsepnya masyarakat sudah paham karena sebagian besar dari kita adalah anggota koperasi, tetapi butuh pembekalan ekonomis, perencanaan bisnis, perencanaan keuangan, dan dikolaborasikan dengan BUMDes.

‘Saya ingin di NTT, Koperasi dan BUMDes dikolaborasikan karena BUMDes tergantung pada kepala desa yang paham tentang kewirausahaan dan visioner, kalau tidak paham maka kegagalan yang terjadi, kalau koperasi, pemilik saham adalah anggotanya, satu orang satu suara sehingga kalau terjadi perubahan pada kepemimpinan di desa dan gesekan antara pengurus dengan kepala desa, lembaga koperasi ini tetap hidup,” ungkap orang nomor satu NTT.

Untuk itu, lanjutnya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) segera membawa konsep ini ke Kementerian Desa dan PDT, desain penggabungan BUMDes dan Koperasi, pelajari dan kolaborasikan dengan Dinas Koperasi Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dengan demikian, ada keterpaduan gerak mengembangkan potensi ekonomi desa yang sangat kaya dan beragam seperti pertanian, peternakan, pariwisata dan nilai budaya.

Sementara itu, Bupati Nagekeo, Yohanes Don Bosko dalam sambutanya, menggambarkan dukungan dan sinergitas dalam pembangunan Pariwisata di kabupaten Nagekeo. Kunjungan kerja kali ini rasa tamasya tapi tetap fokus pada pembangunan NTT.

“Desain pariwisata di Nagekeo dapat dijabarkan dalam beberapa ring yakni di desa solo tempat kita mlaksanakan kegiatan termasuk ring Ebulobo dengan atraksi wisatanya tinju tradisional yang dilaksanakan setiap bulannya, ring Amagelu dengan atraksi wisatatinju tradisional, ring Lena dengan atraksi wisata rohani, ring inde dengan atraksi wisata alam dan budaya, dan ring Mbay dengan atraksi ritual adat dan tenun ikat,” ungkap Bupati Don Bosko

“Daerah kita sangat memungkinkan untuk kita kaya raya, asalkan kita tidak malas dan bekerja cerdas, cepat dan tepat, prinsipnya pelaksanaan pembangunan di wilayah Kabupaten Nagekeo kita berkolaborasi secara bersama-sama untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkap Bupati Yohanes.

Saat dihubungi terpisah, Korprov KPW V NTT, Kandidatus Angge mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh pak Gubernur itu baik dan ini bisa dikomunikasikan dengan Kementerian Desa. Bahwa sesungguhnya baik BUMDes maupun Koperasi adalah bentuk Kelembagaan Ekonomi di desa dan bisa saling bersinergi.

“Skema teknisnya nanti diatur oleh Kementerian Desa, terutama menyangkut asas kepemilikan aset. Kerena seluruh Aset BUMDes adalah merupakan aset desa. Sedangkan Koperasi asetnya adalah milik Anggota Koperasi. Sangat memungkinkan untuk dikolaborasikan. Dan dari program provinsi menyambut baik, dan kita menunggu petunjuk. Kolobarasi ini bisa saja dengan menjadikan Koperasi sebagai salah satu unit Usaha dalam Bumdes atau lainnya, kita menunggu petunjuk,” kata mantan Faskab Integrasi PNPM-MPd Kabupaten Nagekeo.

Untuk kabupaten Nagekeo sampai dengan Maret 2021 jumlah BUMDes mencapai 89 BUMDes dari 97 Desa. Dengan jumlah BUMDes aktif mencapai 76 BUMDes dan yang sudah terintegrasi secara online mencapai 20 Bumdes. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan