oleh

Menjinakkan Kepentingan Diri, Menumbuhkan Kepedulian

-News-219 views

Pendahuluan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa di dunia saat ini ada sekitar 195 Negara berdaulat. Indonesia adalah salah satunya. Indonesia memproklamirkan diri sebagai sebuah negara (state) merdeka per 17 Agustus 1945. Pertanyaannya, pernahkah kita merenungkan: Mengapa ada negara? Apa tujuan negara bagi kita sebagai warga? Bagaimana kehidupan bersama dalam sebuah negara mesti dikelola? Para pemikir politik Yunani Kuno telah lama mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Plato (abad 4 SM) berpendapat bahwa negara ada karena tak seorang pun mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.

Oleh karena itu, negara dibentuk agar para warga saling melengkapi kebutuhan sesamanya. Negara hadir untuk membantu mengelola kebutuhan para individu secara adil agar tidak terjadi ketidakadilan yang bisa berakibat chaos (kekacauan) dalam masyarakat. Itulah sebabnya, sejak Plato dan Aristoteles, tema keadilan menjadi isu penting dalam filsafat politik.

Pemikir politik modern, seperti Thomas Hobbes, berpendapat bahwa adanya negara adalah akibat dari self-interest (kepentingan diri) dalam diri manusia. Apa itu kepentingan diri? Filsuf Inggris abad ke-17 itu mengatakan bahwa kepentingan diri adalah hasrat untuk memelihara dan mempertahankan diri dengan mencari kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Kepentingan diri itu bersifat egois, karena mengejar kenikmatan semata, dan menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. Kepentingan diri juga meliputi segala keinginan dan hawa nafsu manusia.

Kepentingan diri bukan hanya menyangkut kebutuhan untuk survive (bertahan hidup), tetapi juga nafsu untuk menguasai segala sesuatu (hasrat akan kekuasaan), mengambil lebih dari yang dibutuhkan, menumpuk kekayaan sebanyak mungkin untuk diri dengan segala cara, dan akibatnya, tak peduli pada sesama. Bahkan bila perlu, sesama dikorbankan asalkan kepentingan diri dipuaskan. Kepentingan diri yang tak dikendalikan dapat membuat individu menjadi pribadi yang egois (selfish), tamak, serakah, jahat, dan tak punya empati dan kepedulian terhadap sesama.

Hobbes berpendapat bahwa kepentingan diri menyebabkan perang semua melawan semua (bellum omnes contra omnia). Sebabnya sederhana, bahwa masing-masing individu berjuang mengejar kepentingan dirinya, dan ternyata kepentingan diri seseorang akan bertabrakan dengan kepentingan diri orang lain, sehingga terjadi persaingan di antara para individu. Akibatnya konflik dan perang antar manusia tidak terhindarkan. Hobbes berpendapat bahwa dalam persaingan itu, manusia saling memperebutkan sumber-sumber daya alam, mempertahankan apa yang sudah dikuasainya, dan bahkan saling menundukkan/saling menaklukan. Akibat kepentingan diri itu, Hobbes berpendapat bahwa manusia rela menjadi homo homini lupus (serigala bagi sesamanya).

Hobbes berpendapat bahwa untuk mencegah perang yang disebabkan oleh kepentingan diri itu, umat manusia mendirikan negara. Dengan kata lain, negara didirikan dengan tujuan mengekang egoisme manusia, menjinakkan nafsu kepentingan diri individu, agar tidak terjadi perang satu terhadap yang lain. Itulah sebabnya Hobbes mengatakan bahwa negara haruslah kuat, absolut, dan boleh bertindak kejam agar para individu bisa dikendalikan. Hobbes melukiskan negara sebagai Leviathan, binatang raksasa paling menakutkan di Laut. Dengan kata lain, negara adalah sarana untuk mengekang dan mengendalikan kepentingan diri para individu yang saling bersaing, agar tercipta stabilitas sosial dan perdamaian.

Ide imajinatif Hobbes itu boleh diragukan, tetapi tesisnya bahwa kepentingan diri merupakan penyebab adanya pertikaian dan perang sulit disangkal. Setuju tidak setuju, nampaknya masalah kepentingan diri itu juga mau diatasi Paulus dalam bacaan hari ini.

Penjelasan Teks

Kota Filipi yang tampil dalam Perjanjuan Baru adalah ciptaan orang Roma. Bahkan Filipi adalah sebuah kota Romawi. Tidak hanya sebagian besar penduduknya orang Roma, tetapi juga gaya kota dan pemerintahannya meniru ibukota Roma. Penduduk Filipi pun menikmati macam-macam hak istimewa, antara lain pemerintahannya sendiri dan bebas pajak negara. Karena kebebasan dan keistimewaan itu, maka  hidup keagamaan di kota Filipi sangat hangat, tetapi juga serba majemuk. Penduduk kota Filipi suka mencampuradukkan berbagai macam agama dan dewa. Dewa/i Roma seperti Yupiter, Mercurius, Mars, Yuno dan Minerva dipuja sebagaimana diharapkan orang-orang Roma. Kaisar Roma pun dipuja sebagai dewa. Orang-orang Filipi juga terbuka pada agama-agama impor dari luar.

Di kota Filipi inilah Injil diberitakan oleh Paulus bersama Silas dan teman-teman. Inilah jemaat pertama yang didirikan Paulus. Mengingat suasana umum di kota Filipi sebagaimana telah digambarkan, tanggapan positif masyarakat terhadap pemberitaan injil sangat baik. Tidak sulit bagi orang-orang Filipi yang mendengar berita Injil untuk bergabung menjadi sebuah persekutuan. Bahkan beberapa orang yang telah menjadi percaya, ikut membantu pelayanan Paulus selama di Filipi, termasuk Euodia dan Sintikhe, dua perempuan yang dikemudian hari bertikai.

Hubungan antara Paulus dan jemaat Filipi sangar erat dan mesra. Surat Filipi ditulis Paulus dari dalam penjara. Walaupun dipenjara, Paulus sangat bersukacita karena jemaat Filipi menjadi teladan dalam hal iman dan kasih. Paulus memuji jemaat Filipi sebagai jemaat yang patut diteladani oleh jemaat-jemaat lain. Sebab berulang kali mereka memberi sumbangan keuangan kepada Paulus. Mereka secara konsekuen menolong Paulus dalam pekerjaan pemberitaan Injil. Oleh karena sikap mereka yang terbuka dan ramah, Paulus yakin bahwa kehidupan Kristen mereka akan ditandai dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah (Fil. 1:11).

Namun tidak semua anggota jemaat Filipi orang suci yang mamadai cita-cita Kristen. Dalam pasal 3:18-19 Paulus mengecam beberapa orang dengan pedas karena cara hidup mereka tidak sesuai dengan salib Kristus, yaitu mereka yang belum meninggalkan gaya hidup kafirnya atau jatuh kembali. Mereka belum mampu menyangkal diri sebagai pengikut Kristus. Selain itu, beberapa orang Kristen bertikai satu sama lain. Dua wanita terkemuka dalam jemaat: Euodia dan Sintikhe bertikai dan perlu didamaikan satu sama lain (pasal 4:2-3).

Menanggapi ketegangan itu, dalam bacaan hari ini Paulus mengingatkan jemaat bahwa di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (ay.1). Oleh karena itu jemaat diminta untuk menjaga kesatuan hati dan pikiran, dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan (ay. 2). Dan untuk itu, kepentingan diri harus disingkirkan. Paulus menegaskan bahwa kesatuan dan kedamaian hanya dimungkinkan apabila masing-masing mengabaikan kepentingan diri, atau tidak hanya memperhatikan kepentingan dirinya, tetapi sebaliknya mau memperhatikan kepentingan sesama juga (3-4).

Ajakan untuk bersatu padu dalam iman dan memperhatikan kepentingan orang lain bukan tanpa dasar. Dasarnya adalah Yesus sendiri. Paulus mengutip sebuah madah pujian kepada Kristus yang kiranya sudah dikenal jemaat (ay. 6-11). Pertama-tama jemaat mesti menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus. Mereka harus meneladani Yesus. Sebab sebagaimana digambarkan dalam madah pujian itu, bahwa walaupun Kristus adalah anak Allah, setara dengan Bapa-Nya, serupa dengan Allah, namun Ia rela mengosongkan diri, menyangkal diri, merendahkan diri bagaikan seorang hamba, menjadi manusia, merelakan diri-Nya menderita di atas kayu salib demi keselamatan manusia. Yesus menyerahkan segala-galanya ketika Ia menjadi manusia; bukan hanya tubuh-Nya, darah-Nya, tetapi juga nyawa-Nya. Sikap Yesus yang mengosongkan diri-Nya (kenosis) demi kepentingan manusia, menjadi teladan bagi setiap pengikut Yesus.

Oleh karena itu, menjadi Kristen berarti harus bersedia menyerahkan diri dan keberadaan hidup kepada Kristus. Itu berarti kepentingan diri harus diabaikan karena mau hidup sesuai kehendak Kristus, yaitu rela memberi diri bagi sesama, agar kesatuan dan kedamaian terwujud di antara jemaat. Pertikaian akan muncul apabila masing-masing hanya fokus pada kepentingan dirinya.

Paulus sendiri menanggalkan kepentingan dirinya, rela menderita dalam penjara, demi Kristus. Perjumpaan dengan Yesus dalam peralanan ke Damsyik membuat Paulus mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Kristus. Paulus mengatakan: “karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Fil 1:21). Dengan demikian, sebagai pengikut Kristus, jemaat harus rela menyangkal diri, menafikan kepentingan diri dan mau memperhatikan kepentingan sesama. Ketika masing-masing pihak mampu mengabaikan kepentingan diri, dan mau peduli pada kepentingan sesama, kesatuan dan kedamaian mudah terwujud, dan Kristus dimuliakan, sebab jemaat mampu menunjukkan sikap hidup sesuai teladan Yesus. Kepedulian terhadap kepentingan sesama adalah panggilan bagi pengikut Kristus.

Penutup

Para pemikir politik benar bahwa dalam diri manusia ada kepentingan diri yang liar yang dapat menyebabkan perang satu sama yang lain. Solusi terhadap situasi chaotik itu adalah dibentuknya negara untuk menjinakkan self-interest. Negara memang hadir untuk membendung keliaran self interest, sekaligus mengelola sumber daya yang ada secara adil demi kesejahteraan bersama. Namun, berhasilkah negara mengekang kepentingan diri liar para individu? Tidak sama sekali.

Di masa Orde Baru, walaupun Suharto memerintah dengan tangan besi, KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) begitu besar. Memasuki era Reformasi,  selain lembaga peradilan yang sudah ada,  dan adanya kontrol sosial yang tinggi dari masyarakat dan pers, didirikan juga KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dengan tujuan bisa mengekang tindakan korupsi. Tapi kenyataannya korupsi masih merajalela. Akibatnya bangsa Indonesia masih sangat tertinggal dalam segala bidang kehidupan: pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dll. Mengapa? Akarnya adalah kepentingan diri (self-interest). Adanya negara sebagaimana dikatakan Hobbes untuk membendung kepentingan diri nampaknya tidak mampu. Lembaga-lembaga hukum negara, sekeras apapun tidak bisa menghentikan tindakan korupsi apabila kepentingan diri tidak dikendalikan.

Ini menunjukkan bahwa upaya menghilangkan pencurian, tidak cukup dilakukan dengan patroli aparat keamanan yang kuat, atau membangun tembok yang tinggi, atau membuat gembok yang kuat. Sebab sehebat apapun penjaga keamanan, setinggi apapun tembok dibangun atau gembok dikunci, selama hasrat kepentingan diri menguasai individu, maka tembok dan gembok akan diterobos, dengan segala cara.

Dalam pergumulan seperti itu, kebenaran firman Tuhan hari ini relevan, setidaknya bagi warga gereja. Sebab sebagaimana diketahui publik, NTT yang adalah pusat Kekristenan, medan pelayanan GMIT, ternyata banyak terjadi korupsi. Ini indikasi bahwa self-interest warga gereja masih begitu tinggi. Benar bahwa kepentingan diri adalah sesuatu yang inheren (melekat) dalam diri individu, tetapi sebagai orang percaya, Paulus menegaskan bahwa di dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan (ay.1). Itu berarti kepentingan diri mesti ditakhlukan pada Kristus, dan dijinakkan melalui nasihat/ajaran tentang kebenaran, dan dialihkan menjadi sebuah empati (belas kasih) kepada sesama. Sebagai bagian dari bangsa ini, kita selaku gereja mesti menunjukkan teladan sebagai pribadi-pribadi yang benar, jujur dan bersih.

Tindakan Yesus yang mengosongkan diri, rela menderita, merupakan teladan bagi kita untuk melakukan hal yang sama. Kita mesti berjuang mengendalikan kepentingan diri, mawas diri terhadap keserakaan yang muncul dari keinginan-keinginan daging, dan mau peduli terhadap kepentingan sesama. Kita mesti mengekang kepentingan diri berupa nafsu akan kekuasaan dan kekayaan agar kita tidak jatuh dalam tindakan-tindakan kotor dan jahat.

Kita mesti membatasi diri, dan  mesti sadar bahwa bukan hanya kita yang berkebutuhan, tetapi ada begitu banyak sesama anak bangsa. Maka kita mesti membatasi ambisi untuk mengejar kekuasaan dan menumpuk kekayaan untuk diri sendiri. Kita mesti memanfaatkan jabatan publik kita untuk kepentingan banyak orang.

Kita mesti bekerja dengan komitmen membangun kesejahteraan bersama. Di tengah pandemi Covid-19 ini, semua mesti menahan hasrat kepentingan diri yang mau memanfaatkan keadaan untuk memperkaya diri dengan mengorbankan pihak lain. Tindakan meng-covid-kan para pasien untuk memperoleh keuntungan material harus dijauhi oleh warga gereja.

Ketika kepentingan diri dijinakan, dikendalikan, maka empati dapat dipupuk. Semua mata dan hati perlu dilatih untuk peka pada kepentingan banyak orang, pada penderitaan sesama, terhadap kebutuhan mereka. Sebagai persekutuan orang percaya, gereja dapat mewujudkan kepedulian terhadap sesama dengan membuka mata terhadap jemaat/masyarakat yang berkekurangan dan menderita, dan membantu mereka.

Diakonia karitatif maupun diakonia transformatif dapat dilakukan gereja terhadap sesama, baik di dalam jemaat sendiri maupun jemaat-jemaat lain di luar, bahkan masyarakat umum, agar beban mereka menjadi ringan. Sebagai warga bangsa, peduli terhadap sesama dapat diwujudkan dalam sikap membangun toleransi dan perdamaian, serta kerja-kerja kongkrit yang mendatangkan kesejahteraan bagi banyak orang.

Mau tidak mau, kepedulian terhadap kepentingan sesama perlu dipupuk. Sebab dengan cara itu, kita sudah meneladani Kristus yang rela mengorbankan diri demi menyelamatkan kita. Dengan begitu kita layak disebut pengikut Kristus. Dengan peduli pada kepentingan sesama pula, kita sudah ikut membangun kesatuan dan damai sejahtera di tengah masyarakat dan bangsa. Sebab dengan peduli terhadap kepentingan sesama, kita terhindar dari sikap egoistik yang menjadi penyebab konflik dan pertikaian.

Sebaliknya, dengan mengendalikan kepentingan diri dan mau peduli terhadap kepentingan sesama, kita sudah ikut membangun bangsa ini. Maka sekali lagi, mulailah peka terhadap kebutuhan sesama, latihlah empati pada penderitaan orang lain, dan lakukanlah sesuatu yang menolong mereka. Pupuklah kepedulian terhadap sesama dengan tiga langkah tersebut, sekali, dua kali, tiga kali, hingga menjadi kebiasaan.

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-76 tahun. Tuhan memberkati kita. ***

 

Dasar Biblis: Filipi 2:1-11

 

Oleh: Pdt. Gusti Menoh

 

Artikel ini diambil dari website sinodegmit.or.id

Komentar

Jangan Lewatkan