oleh

Meriana Ina Kii, Alumni Klimatologi Terapan IPB Pejuang Perubahan Iklim di Sumba

-News-731 views

RADARNTT, Waikabubak – Perubahan iklim merupakan fenomena global yang membawa dampak secara lokal. Demikian juga halnya dengan wilayah Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami krisis air sebagai dampak dari fenomena perubahan iklim. Kondisi ini menggerakkan penggiat iklim dari Sumba, Meriana Ina Kii untuk mengiplementasikan keilmuan yang diperoleh selama kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk terjun secara langsung dalam upaya mengatasi krisis air dalam pengelolaan lahan pertanian.

“Saya mengajak para generasi muda di NTT khususnya Sumba di kampung saya untuk peduli pada lingkungan khususnya dalam memanfaatkan air secara bijak untuk pertanian dalam menghadapi kekeringan sebagai dampak perubahan iklim,” demikian kata Meriana Ina Kii, alumni Program Studi Klimatologi Terapan (Prodi KLI), Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University dalam kegiatan bertajuk “Menyapa Negeri” yang merupakan acara talkshow yang digelar oleh Prodi KLI pada Jumat, 3 September 2021. Acara ini dilaksanakan secara online melalui zoom meeting dan live pada kanal youtube Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB.

Meriana juga mengungkapkan bahwa Pulau Sumba memiliki sumberdaya berupa lahan pertanian yang cukup baik dengan alam yang sangat indah. Namun demikian, lanjunya, wilayah tanah kelahirannya tersebut memiliki sumberdaya yang masih terbatas. Hal tersebutlah yang mendorongnya untuk terus memberikan kesadaran kepada masyarakat baik anak-anak, pemuda maupun orang tua akan pentingnya pendidikan khususnya pemahaman pengelolaan lingkungan yang baik.

Pemanfaatan sumberdaya optimal khususnya sumberdaya air telah mampu meningkatkan produksi pertanian di wilayah tersebut. “Ini sudah saya buktikan, dengan penerapan iklim mikro dan ilmu iklim yang saya peroleh selama kuliah di prodi KLI IPB, produksi pertanian tanah yang saya kelola memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Dan sekarang metode-metode pengelolaan lahan itu sudah mulai diadopsi oleh teman, tetangga dan masyarakat sekitar. Saya sangat bangga dengan hal itu. Pernah suatu waktu tanah kami mengalami kekeringan, saya mengatur aliran air dari sungai seoptimal mungkin hanya untuk menjaga kelembaban tanah sawah sehingga tetap berproduksi optimal,” ungkap Merriana dalam mejelaskan penerapan keilmuan iklim di lingkungan saat ini.

Sementara, Ketua Program Studi Klimatologi Terapan Dr. I Putu Santikayasa, yang merupakan penggagas acara ini mengungkapkan bahwa acara Menyapa Negeri memang diperuntukkan untuk mengangkat cerita-cerita inspiratif di masyarakat dalam kaitannya dengan ikim dan perubahannya yang harapannya memberikan dampak positif sebagai upaya bersama dalam menghadapi dampak perubahan iklim di berbagai sektor.

Kegiatan Menyapa Negeri ini diharapkan menjadi media untuk mengenalkan kembali keilmuan iklim di masyarakat terkait betapa pentingnya memahami iklim dalam pengelolaan lingkungan khususnya pertanian saat ini.

“Prodi Klimatologi Terapan baik magister dan doktoral memiliki visi menjadi program unggulan dan terkemuka serta memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional dalam bidang klimatologi terapan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Untuk itu kiprah prodi KLI ini sangatlah penting dalam upaya mendukung keberlanjutan pembangunan secara akademis salah satunya dalam upaya mengatasi dampak perubahan iklim dalam berbagai sektor,” ungkap Dr. Putu yang sekaligus sebagai host dalam acara Menyapa Negeri.

Dia juga berharap cerita-cerita yang muncul dalam kegiatan Menyapa Negeri ini bisa menjadi media informasi bagi pihak-pihak terkait sehingga menimbulkan kolaborasi dan kerja sama pada tahapan selanjutnya untuk memberikan dampak yang lebih luas akan pentingnya penerapan keilmuan iklim di masyarakat dan wilayah Indonesia pada umumnya.

Hadir pula Prof Daniel Murdiyarso yang memberikan apresiasi terhadap apa yang sudah dilakukan oleh seorang Meriana serta tanggapan bahwa Sumba memiliki kondisi alam yang sangat indah dan cantik, perlu pengelolaan dengan upaya-upaya tertentu yang tetap menjaga keindahan alam Sumba namun memberikan manfaat sebesar-besarnya pada masyarakat.

Prof Daniel menitipkan pesan untuk terus berupaya membangkitkan semangat pemuda Sumba untuk mencintai alam Sumba yang sangat indah tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Bapak Sudjarwo Marsoem alumni pertama prodi Agrometeorologi (sebelum menjadi departemen GFM saat ini) menanggapi bahwa ilmu iklim sudah mempengaruhi segala sektor tidak hanya lingkungan namun juga bisnis dan keuangan.

Kegiatan Menyapa Negeri diakhiri dengan harapan-harapan akan pentingnya pendidikan termasuk juga kesadaran tentang iklim dalam menjaga lingkungan ke depannya. Menggaungkan betapa pentingnya ilmu iklim bukan perkara yang mudah namun dengan upaya bersama dan disertai dengan optimisme maka pencapaian masyarakat yang sadar iklim bukanlah hal yang mustahil. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan