oleh

Mutasi Virus Corona Pengaruhi Keampuhan Vaksin

-News-285 views

Berdasarkan hasil penelitian terbaru, diketahui varian baru atau mutasi virus corona mempengaruhi khasiat vaksin COVID-19. Herd immunity atau kekebalan kelompok pun diyakini akan semakin sulit untuk tercapai.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) diketahui bahwa varian baru atau mutasi virus corona berdampak pada keampuhan vaksin dalam melawan virus tersebut.

“Terkait penemuan ini, khususnya dampaknya terhadap efektivitas vaksin, WHO berdasarkan berbagai studi yang dilakukan beberapa peneliti, menyatakan bahwa beberapa varian memiliki besaran pengaruh yang sedikit hingga sedang terhadap angka efikasi tiap vaksin pada kasus positif dengan varian tertentu,” ujar Wiku dalam telekonferensi pers di Jakarta, Selasa (1/6/2021).

Dijelaskannya, sampai saat ini ada beberapa varian baru atau mutasi virus COVID-19 yang masuk kategori varian yang menjadi perhatian atau variant of concern, yakni B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, B11281 atau disebut P1 dari Brazil dan Jepang, dan B1617 dari India.

Variant of concern adalah varian yang berdasarkan penemuan ilmiah terbukti mengalami perubahan karakteristik baik satu atau lebih, di antaranya dapat bersifat lebih menular; menimbulkan gejala yang lebih parah; menurunkan efikasi vaksin; keandalan pengobatan, serta akurasi alat uji yang sudah ada.

WHO, ujar Wiku, menyatakan bahwa varian B117 mempengaruhi efikasi vaksin AstraZeneca. Varian B1351 mempengaruhi efikasi vaksin Moderna, Pfizer, AstraZeneca dan Novavax; sedangkan varian P1 dan varian B1617 mempengaruhi efikasi Moderna dan Pfizer

Meski begitu, ia menjelaskan bahwa pengaruh varian baru terhadap efikasi vaksin ini masih bersifat sementara dan kemungkinan masih bisa berubah, tergantung pada hasil studi lanjutan yang sedang dilakukan. Selain itu, kata Wiku, perubahan efikasi terhadap beberapa jenis vaksin ini terjadi dikarenakan seluruh vaksin yang sedang dikembangkan dan digunakan saat ini masih memakai virus yang belum bermutasi atau original variant dari Wuhan, China, di mana virus COVID-19 pertama kali ditemukan.

“Namun perlu diketahui bahwa perubahan efikasi vaksin atau kemampuan vaksin dalam mencegah penyakit pada penerima vaksin tidak membuat besaran efikasinya turun di bahwa 50 persen yang menjadi ambang batas minimal efikasi yang ditolerir oleh WHO untuk sebuah produk vaksin yang layak. Bahkan beberapa di antaranya masih memiliki efikasi di atas 90 persen,” jelas Wiku.

Maka dari itu, temuan hasil studi ini diharapkan bisa membuat seluruh lapisan masyarakat untuk semakin siaga dan antisipatif terhadap perebakan wabah virus corona, khususnya kasus positif yang berasal dari kasus importasi.

Wiku pun memaparkan beberapa solusi paralel untuk meminimalkan dampak dari varian baru tersebut. Pertama, yaitu mengefektifkan pengujian (testing) dan karantina pelaku perjalanan internasional demi menekan bertambahnya varian yang masuk. Pasalnya, saat ini ada empat varian yang terdeteksi dari total delapan varian baru COVID-19 berdasarkan hasil whole genome sequencing (WGS).

Kedua, menggiatkan WGS secara komplet untuk mengetahui distribusi secara tepat, sehingga dapat menjadi dasar kebijakan pengendalian yang spesifik, sesuai risiko per daerah.

Ketiga, penegakan protokol kesehatan di semua lini kegiatan demi menurunkan peluang kemunculan varian baru atau gabungan dengan kasus yang ada di Indonesia karena mutasi akan menjadi lebih masif saat penularan di masyarakat juga tinggi.

Keempat, ujar Wiku, melanjutkan vaksinasi karena vaksin yang digunakan sampai saat ini masih tergolong efektif untuk mencegah penyakit atau menghindari gejala parah.

Lanjutnya, berdasarkan data sebaran WGS komplet per provinsi di Indonesia per 30 Mei 2021, diketahui bahwa varian baru virus corona ini, terdeteksi di hampir semua pulau di Indonesia. Penemuan varian didominasi di beberapa daerah di Jawa.

Herd Immunity Semakin Sulit Dicapai

Sementara itu, ahli epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan hasil temuan studi perlu dicermati dengan menunggu hasil penelitian mengenai hal ini lebih lanjut. Menurutnya, sejauh ini tidak ada satu pun vaksin yang memiliki data yang mumpuni mengenai efektivitasnya merespons semua varian baru virus corona yang menjadi perhatian.

Dicky mencontohkan vaksin buatan Pfizer yang bisa merespons lebih banyak varian baru, tapi belum semua.

Meski begitu, temuan ini perlu menjadi perhatian masyarakat yang belum maupun yang sudah menerima vaksinasi COVID-19 untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Selain itu, penting bagi semua negara dan setiap level pemerintahan untuk memperkuat pengujian, penelusuran (tracing), isolasi, karantina, vaksinasi, dukungan perawatan dan tetap mengkampanyekan pentingnya protokol kesehatan di lingkungan masyarakat. Menurutnya, hal-hal tersebut bisa meminimalkan dan menurunkan potensi risiko varian baru ini menyebar atau bahkan menurunkan risiko timbulnya varian baru.

Apabila pemerintah, ujar Dicky tidak bergerak sigap dan cepat, permasalahan ini berpotensi menjauhkan terciptanya herd immunity atau kekebalan kelompok yang selama ini menjadi target seluruh pihak.

Varian-varian baru itu, papar Dicky, berpotensi menginfeksi ulang tidak hanya para penyintas COVID-19, tetapi juga orang-orang yang sudah divaksinasi,

“Saat ini kalau berbicara herd immunity saya bisa sampaikan, bukan impossible (tidak mungkin), tapi nearly impossible (hampir tidak mungkin). Jadi jauh banget karena adanya varian baru ini yang tidak terkendali, yang tidak terdeteksi,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, tidak hanya pemerintah pusat yang merespons target kekebalan kelompok WHO, tetapi juga pemerintah daerah.

“Karena kalau tidak ya varian baru ini terus menyebar, menginfeksi dan bahkan potensi lahirnya varian baru yang jauh lebih merugikan manusia yang artinya juga makin menjauhkan kita dari tercapainya herd immunity,” pungkasnya. (voaindonesia.com)

Komentar

Jangan Lewatkan