oleh

Tani Kebo dan Jamuan Ayam Kampung

-News-283 views

BOTO setiap waktu selalu terkepung dingin saban waktu. Begitu pula desa-desa yang menempel di lereng gunung Labalekan, wilayah pedalaman selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Baik di wilayah Kecamatan Wulandoni maupun Nagawutun. Desa-desa di wilayah itu berhadapan langsung dengan laut Sawu.

Dingin mendera. Mirip kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Pun Boto mengalami dingin serupa. Maklum, berada di kawasan lereng dengan hutan yang masih perawan. Boto adalah sebutan jamak untuk tiga dusun: Boto (Desa Labalimut), Kluang dan Belabaja (Desa Belabaja), Kecamatan Nagawutun.

Boto kian melambung namanya (kalau tak keliru) karena menjadi Pusat Paroki Santu Joseph Boto, salah satu paroki tua di wilayah Keuskupan Larantuka. Boto kian mentereng dengan fasilitas Gereja lainnya seperti Poliklinik St Rafael milik Keuskupan Larantuka.

Pun setelah digandakan berdirinya SMP Lamaholot Boto hasil olah pikir tiga kepala kampung dan warga tempo doeloe. Boto juga menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Nagawutun (meliputi Wulandoni) sebelum kota kecamatan bergeser ke Loang, di bibir pantai menghadap Pulau Solor dan Adonara di Flores Timur.

Belakangan setelah Lembata “merdeka” menyusul pisah dari Flores Timur, sebagian desa di Nagawutun “merdeka” dan membentuk Wulandoni, kecamatan Wulandoni dengan ibukota Wulandoni yang sudah dikenal luas sebagai pasar barter yang masih bertahan hingga saat ini.

Pasar yang pedagangnya mulai bertransaksi setelah pluit panjang ditiup petugas. “These villages from Lewoleba to Lamalera in Wulandoni are very interesting. Not only Lamalera as a unique world tourism destination, Boto is so beautyfull and potential place,” ujar Thilo, wisatawan asal Jerman saat ngobrol santai di Wunopito sebelum kami melanjutkan perjalanan.

Thilo kembali Jerman via Kupang dan Ngurah Rai Airport setelah mengunjungi Lamalera. Kesan potensial bule dari negeri Kanselir Angela Merkel itu bisa saja bertolak dari pemandangannya melihat sepanjang jalan mulai Belame hingga Imulolong banyak pohon kemiri milik warga lereng Labalekan.

Kunjungi sesepuh

Menghabiskan waktu libur saya di Boto, rasanya tak lengkap kalau mengunjungi orang-orangtua sepuh sekelas magun Petrus Samong Mudaj, bapa saya yang dikenal piawai urus kebun dan tangkap binatang hutan seperti babi, rusa, ayam dan lain-lain. Stanis Kebo de Ona, adalah seorang tokoh masyarakat dan tokoh adat di kampung Kluang (Boto). Usianya tak terpaut jauh di bawah ayah saya.

Kawasan pertanian semisal di Klebo, Kmerung, Kasa, Tebo, Rusar Sipet, Adum, Rotok, Ilmum, dan beberapa kawasan sekitarnya kaya dengan hewan liar. Baik ayaj saya dan magun Stanis juga punya hobi memasang jerat. Nyaris uang sekolah saya mulai SD hingga kuliah, adalah hasil buruan hewan hutan.

“Magun Stanis punya kelebihan menangkap babi atau rusa. Setiap dua minggu dia akan mendapat buruan. Beliau sangat mengakrabi alam tanpa merusak sehingga berkat selalu dia dapat. Kita mesti menjaga alam agar alam juga menyediakan berkat kehidupan,” kata ayah saya saat kami dua santai di kawasan silang Monas Jakarta, tahun 2000.

Suatu hari saat liburan di kampung, magun (orangtua) Stanis Kebo de Ona saya tahan sejenak. Mestinya beliau hendak mengunjungi kerabatnya di dusun Belabaja. Saya beralasan ada perlu. Ada hal yang mau dibicarakan. Beliau tak keberatan. Saat duduk di beranda beliau sepertinya tak tahu ada tanda-tanda penghuni rumah lainnya.

“Guru Paul masih di sekolah. Tuan rumah lagi istirihat menjaga kesehatan. Kita ngobrol sebentar. Kalau tuan rumah dengar kita omong berarti dorang bangun. Ade guru juga sebentar lagi pulang sekolah,” kata saya. “Ada yang sudah kasi makan engko?,” tanya magun Stanis. “Kami tamu sesuaikan tuan rumah,” kata saya. Magun Stanis ketawa ngakak.

Tak lama guru Paul, adik saya muncul. Setelah salaman ia mengganti baju. Segera mengamankan urusan dapur. Maklum, semua adik dan kakak perempuan sudah menikah sehingga urusan kelancaran makan minum di-handle guru Paul dan Bob, adik saya.

“Tugas saya cuci piring. Untuk makan minum guru Paul dan Bob. Dorang dua ambialih. Tuan rumah, dilarang kerja lagi,” kata saya. Sejak mulai sepuh dan tak kuat fisik lagi, bapa dan ibu dipensiunkan dua adik ini dari urusan kerja di dapur. “Engko ada tamu ini siapa yang putar kopi kamu dua minum,” tanya bapa saya setelah bangun.

“Kamu dua magun omong serius sekali macam kamu ini pejabat negara,” kata bapa saya sambil menempati kursi kosong di samping magun Stanis. Magun Stanis ketawa. “Kita dua ini mantan pejabat urusan jerat di wilayah Kasa dan Tebor,” timpal magun Stanis. “Anakmu omong kita dua kalau sudah tua, urus jerat tidak ada manfaat lagi. Nanti kita tersesat di hutan. Sudah tua duduk diam di rumah supaya diatur,” kata magun Stanis kepada bapa saya.

Saya memilih bolak balik ruang tamu ke dapur. Magun Stanis minta bapa saya cerita saat beliau di Jakarta. “Kereta api kalau kita ukur pake depa, bisa satu hari. Dorang punya rumah tinggi sekali. Dia bilang itu Bank BRI Pusat,” kata bapa saya. Mereka dua ketawa. Dari dapur saya dan adik guru juga ketawa. Panjang kereta pake ukur pake depa.

Ayam kampung segera kami atur masak. Tak pake bakar. Siram air panas agar tak ketahuan kami lagi siapkan jamuan ayam kampung. Kalau dibakar pasti kecium. Nanti macam-macam komentar. Khawatir juga magun Stanis pamit pulang. Diskusi mesti dilanjutkan terutama pengalaman mereka saat masih berkebun di wilayah Kasa dan sekitarnya untuk menghidupi keluarga mereka masing-masing saat mereka masih kuat fisiknya.

Hidangan makan siang stand by di meja belakang ruang makan. “Kita makan baru lanjut cerita. Guru sudah siapkan. Kita tamu tinggal makan,” kata saya setelah adik guru bisikkan makanan sudah siap. Ayam kampung rebus bermodal garam dan bawang. Abai lombok atau sereh. “Kami tuan rumah sudah dipensiunkan dari masak di dapur. Mereka yang ambil alih,” kata bapa saya.

Saya taru nasi dan disiram kuah ayah untuk magun Stanis, bapa dan ibu saya. “Saya rasa malu. Kita tida kerja baru dikasi makan daging ayam kampung,” kata magun Stanis. “Saya juga malu karena saya dan isteri hanya tau saja makan,” kata bapa saya.

“Saya juga malu karena sebagai tamu saya dikasi makan daging ayam kampung,” kata saya. Magun Stanis dan bapa masih ketawa usai makan. Kami macam sama-sama menghadirkan kata “malu” dalam urusan makan.

Suatu waktu, saat mengunjungi Bibia de Ona, puterinya di depan rumah adat duku Pukan, kisah ayam rebus diulang magun Stanis. Kisah ini saya ingat kembali karena Minggu (25/7) magun Stanis berpulang menyusul koleganya, ayah saya. Damai di sisi Bapa di Surga, bapa Tani.

 

Jakarta, 25 Juli 2021
Oleh: Ansel Deri
Orang udik dari kampung;
Mengenang magun Tanis Kebo

Komentar