oleh

Tidak Percaya Korona, dr Lois Ditangkap Polisi

-News-626 views

RADARNTT, Jakarta – dr Lois Owien, yang kontroversial karena tidak percaya korona, ditangkap polisi. Polda Metro Jaya membenarkan isu tersebut, dan saat ini kasusnya telah dilimpahkan ke Mabes Polri.

“Iya, sekarang sudah dilimpahkan ke Bareskrim,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, Senin (12/7/2021).

Hal senada diungkapkan Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ramadhan. Ia turut membenarkan jika dr Lois memang ditangkap polisi.

“Iya, ditangkap,” kata Ramadhan.

Sebelumnya, seperti dilansir detikcom, dr Lois mengumbar sejumlah pernyataan soal korona. Di Hotman Paris Show, misalnya, pernyataan-pertanyaan tersebut kemudian dijadikan barang bukti oleh polisi, sampai dengan unggahan-unggahannya di akun media sosial seperti Instagram dan Twitter.

Dalam acara Hotman Paris Show, yang disiarkan pada 8 Juli 2021, Hotman Paris mengundang dr Lois sebagai bintang tamu. Hotman pun tanpa basa-basi mempertanyakan alasannya tidak percaya korona.

“Kalau tidak percaya, itu banyak (meninggal) sudah 50.000 kenapa gitu? Yang sudah dikubur. Ibu sebagai dokter, itu kenapa?” tanya Hotman kepada Lois.

Lois berargumen kasus meninggal ada di rumah sakit (RS). Meninggalnya pasien bukan murni karena virus korona, melainkan karena interaksi obat yang diterima oleh pasien.

“Interaksi antarobat. Interaksi antarobat. Jadi gini, makanya, kenapa katanya virus ini kalau menginfeksi pada orang komorbid akan parah…,” kata Lois.

“Jadi gara-gara obat yang dicampur-campur jadi mati gitu?” Hotman bertanya balik.

“Pak, kalau misal buka data di rumah sakit, itu pemberian obat itu lebih dari 6 macam,” ucapnya.

Setelah itu, Lois menyinggung soal ‘mitokondria discussion’ yang membuat kerusakan sel yang dipicu kekurangan oksigen. Belum selesai Lois menjelaskan, Hotman memotong dan menyebut bahwa kekurangan oksigen itu akibat virus korona yang menyebabkan gangguan pernapasan.

Setelah itu, Lois menyebut bahwa ada kondisi aneh sebelum program vaksinasi pemerintah Indonesia diberlakukan. Menurutnya, tiba-tiba angka kasus di Indonesia dan beberapa negara lain menurun.

“Kita buka grafik dunia di tanggal 10 Januari. Itu beberapa hari menjelang jadwal vaksinasi Indonesia. 10 Januari korona di lima negara penurunan grafik infeksi yang sama dengan kita. Saya tanya ke bapak lagi, apakah virus itu bisa janjian setiap negara di tanggal yang sama dia turun grafiknya itu bersamaan?” katanya.

“Menurut ibu penyebabnya apa kalau gitu?” tanya Hotman.

Lois menyebut bahwa dia meragukan alat tes PCR. Menurutnya, hasil tes dari alat PCR bisa direkayasa.

“Karena saya tahu dengan teknik diusap, swab ini kan berarti kan mengusap, ini berarti sel mukosa dengan teknik mengusap ini tidak akan mungkin ketemu virus karena alat yang sama PCR ini ada satu alat yang konsepnya sama dan itu hanya ada di California.”

“Hasil hari ini bisa berubah dalam hitungan menit. Ini si dokter-dokter sudah banyak yang buktikan misalnya gini, cek sebentar kemudian beberapa saat kemudian itu akan berubah negatif,” katanya.

Dokter Lois sering mengunggah pernyataannya di media Instagam, salah satunya video saat dia bernyanyi. Dalam video itu, ada tulisan yang menyinggung masalah vaksin, yaitu:

“Stop menyiksa dan membunuh dengan obat dan vaksin.”

 

 

(Sumber: nalarpolitik.com)

Komentar

Jangan Lewatkan