oleh

Save the Children Bangun Inovasi Remaja Sumba

-News-404 Dilihat

RADARNTT, Waikabubak – Save the Children Indonesia melalui program Sumba Future Changemakers (SFC) yang merupakan bagian dari program pengembangan remaja menyelenggarakan Solve-A-Thon 2, kompetisi inovasi berjangka pendek bagi anak muda berusia 13–17 tahun di kabupaten Sumba Barat.

Kegiatan diselenggarakan pada Sabtu sampai Kamis, 26–30 Juni 2022 secara daring dan luring dengan lokasi di aula GKS Alfa-Omega dan Aula SMA Karanu.

Tujuan Solve-A-Thon 2 ini adalah untuk pertama, memfasilitasi pembelajaran aktif bagi paling kurang 45 anak Sumba Barat berusia 13-17 tahun dengan menggunakan pendekatan design thinking di mana anak-anak dilatih untuk menjadi kritis dan kreatif, sebagai agen perubahan sosial yang mampu mengajukan masalah, melahirkan ide pemecahan masalah, dan mengimplementasikan ide perubahan sosial mereka;.

Kedua, menyediakan ruang aman yang bermakna bagi anak-anak Sumba Barat untuk mengungkapkan diri dan terlibat dalam mencari solusi atas masalah-masalah sosial dan lingkungan yang menjadi kepedulian mereka; Ketiga, memupuk solidaritas lintas-budaya, lintas-etnis, dan kolaborasi di antara anak-anak yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda.

Hasil yang diharapkan dari Solve-A-Thon 2 ini adalah ke-45 anak yang terlibat melakukan praktek pemecahan masalah lingkungan yang mereka identifikasi dalam bentuk prototipe/contoh sederhana.

Pada kegiatan ini, Save The Children berkolaborasi dengan komunitas lokal seperti Gerakan Peduli Sumba Barat, English Goes to Kampung, dan Sumba Cendekia.

Dalam kegiatan hari pertama yang dilakukan secara daring pada hari Sabtu, 26 Juni 2022, 45 peserta yang dibagi ke dalam 16 kelompok terlibat dalam kegiatan. Agenda utama kegiatan hari pertama adalah perkenalan dengan penyelenggara, co-fasilitator, antar peserta, dan konsep Empati yang merupakan tahapan pertama dari proses design thinking

Tahapan empati ini adalah fase dimana peserta diajak untuk memahami masalah lingkungan yang hendak mereka pecahkan dari perspektif pemilik masalah atau pihak yang paling terdampak dari masalah tersebut. Setelah diperkenalkan dengan konsep

Empati, peserta diberi Tugas Rumah Seru untuk melakukan observasi (lihat-lihat), wawancara (tanya-tanya), dan riset meja (baca-baca) untuk mencoba memahami penyebab dan akar masalah lingkungan yang hendak mereka carikan solusinya.

Dalam kegiatan hari kedua, pada Senin 27 Juni 2022, dengan jumlah peserta dan kelompok yang sama, yang dilakukan secara luring di aula Alfa-Omega, peserta diajak untuk membagikan pengalaman mereka dalam melakukan tugas rumah seru Empati yang dilakukan pada hari sebelumnya, mendiskusikan penyebab masalah yang mereka angkat dan memilih salah satu penyebab masalah untuk dicarikan solusinya.

Proses pencarian solusi ini disebut sebagai tahapan Ideasi Buka dalam tahapan design thinking, dimana dengan menggunakan metode Bagaimana Caranya Kita, peserta menggagas ide sebanyak-banyaknya sebagai solusi potensial untuk akar masalah yang hendak mereka pecahkan.

Dalam kegiatan hari ketiga, pada Selasa 28 Juni 2022, peserta melakukan tahapan Ideasi Tutup dalam proses design thinking dimana mereka menyaring dan memilih ide yang akan dibuat prototipenya. Tahapan selanjutnya adalah mengembangkan prototipe atau contoh sederhana dari solusi yang mereka pilih.

Kemudian, prototipe ini ditunjukkan ke pemilik masalah untuk mendapat masukan dan diperbaiki. Kegiatan hari keempat, pada Kamis, tanggal 30 Juni adalah Hari Apresiasi dimana peserta mempresentasikan prototipenya untuk dinilai.

Selanjutnya, lima prototipe akan dipilih dan bersama dengan lima prototipe yang sudah dipilih pada Solve-A-Thon 1 dan lima prototipe yang akan dipilih dalam Solve-A-Thon 3, akan dikembangkan lebih lanjut dan diimplementasikan oleh anak-anak dalam periode inkubasi dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2022.

Seri kegiatan Solve-A-Thon satu sampai tiga ini merupakan salah satu kegiatan utama dari Program Sumba Future Change Makers dari Save the Children Indonesia yang berikhtiar untuk melatih dan meningkatkan soft skills anak-anak Sumba yang terdampak diskriminasi dan ketidakadilan untuk memampukan mereka berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkolaborasi untuk menghasilkan proyek yang dapat mereka implementasikan sebagai agen-agen perubahan sosial di lingkungan mereka.

Grace, salah satu pesrta didik SMA Negeri 1 Waikabubak menyampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan oleh Save Then Children sangat menarik dan menantang bagi anak-anak muda dalam menciptakan ide-ide baru dan dapat berinovasi. 

“Dari kegiatan ini kami menjadi lebih tertantang agar kami bisa lebih bersaing dengan teman sebaya kami dan juga menciptakan ide-ide cemerlang yang menarik untuk mendorong pemerintah yang akan kami gantikan posisi mereka kelak,” tandasnya.

Salah satu peserta didik SMA Swasta Kristen Waikabubak Elisabeth Supusepa, menyampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan Save The Children sangat bermanfaat bagi anak-anak yang ingin menyalurkan perasaannya. 

Menurut Elisabeth, melalui kegiatan tersebut ia dapat melihat langsung persoalan yang terjadi di lapangan. Dia bersama timnya mengidentifikasi masalah tentang cara memilah sampah yang baik di Kota Waikabubak.

Dian Victoria Laka Putri, salah satu peserta didik aktif SMA Swasta Kristen Waikabubak juga menyampaikan kegiatan sangat bermanfaat dan ia sangat senang mengikuti kegiatan tersebut.

“Kegiatan yang diselenggarakan oleh Save The Children sangat bermanfaat karena bisa memperoleh ilmu baru serta dapat menggugah ide dan gagasan kami sebagai anak-anak dalam mencari solusi suatu masalah di lingkungan sekitar,” katanya.

Ribka, salah satu pemudi Prairame Club juga menyampaikan hal senada bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat. 

“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Dari kegiatan ini saya mendapatkan pengalaman baru dan menambah ilmu pengetahuan dari para tutor,” tutur Ribka. 

Save the Children menginisiasi Program Sponsorship di Sumba Barat sejak tahun 2014 dan akan berlangsung hingga tahun 2024. Misi program yang didanai Sponsor adalah untuk memenuhi hak anak atas kesehatan dan kesejahteraan dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bertahan hidup, belajar, dan dilindungi.

Sumba Field Manager Save The Children Indonesia, David Wala kepada awak media menyampaikan bahwa program tersebut bertujuan untuk menjangkau 100.000 anak dan komunitas terkait anak dengan durasi program selama 10 tahun untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan anak-anak di kabupaten Sumba Barat dan Sumba Tengah.

David Wala juga menyebutkan bahwa program Sponsorship memiliki 5 program utama, yaitu: Program Kesehatan Ibu dan Anak, Program PAUD, Program Pendidikan Dasar, Program Kesehatan dan Nutrisi Anak Sekolah, dan Program Pengembangan Remaja. (AG/RN)

Komentar