oleh

Setiap Hari Ada Korban Perdagangan Orang 

-News-72 Dilihat

RADARNTT, Kalabahi – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi dengan jumlah kasus korban perdagangan orang (Human Trafficking) tertinggi di Indonesia. Setiap hari ada korban perdagangan orang, namun kita tidak pernah mengetahuinya, sebab kita ingin tetap berada di zona nyaman. Artinya kita tidak mau mencampurinya karena kita berpikir itu bukan urusan kita atau bukan keluarga kita yang menjadi korban.

Demikian kata Pater Agus Alfons Duka, SVD saat menyampaikan materi Sosialisasi Perdagangan Orang di ruang Gereja Paroki Santa Maria Fatimah Kalongbuku-Moru, Desa Moramam Kecamatan Alor Barat Daya, Jumat petang (3/3/2022).

Tindak Pidana Penjualan Orang (TPPO), lanjut Pater Agus, merupakan kejahatan kemanusiaan, sehingga menjadi kewajiban semua orang untuk mencegahnya dan melakukan pendampingan bagi korban TPPO.

Gejala-gejala TPPO menurut Pater Agus, antara lain, telah lama meninggalkan kampung untuk bekerja di luar negeri dan tidak pernah ada kabar atau informasi keberadaannya serta tidak pernah mengirimkan uang kepada keluarga. Gejala-gejala ini menunjuk yang bersangkutan berpotensi korban TPPO.

TPPO ini dilakukan oleh jaringan mafia yang melakukan pendekatan-pendekatan terhadap korban melalui bujukan atau janji mendapat gaji yang tinggi dibanding tinggal di kampung. Modus TPPO bisa melalui pertemanan lewat media sosial, bea siswa bahkan lewat mimbar agama.

“Jumlah Korban TPPO lebih banyak meninggal di luar negeri dan diduga menjadi korban penjualan organ tubuh. Sedangkan yang pulang banyak mengalami cacat tubuh akibat penganiyaan bahkan gangguan kejiwaan,” jelas Pater Agus Alfons Duka.

Untuk itu, Ia harapkan para orang tua, pimpinan gereja, masjid dan pemerintah serta semua pihak berkewajiban untuk memberikan pencerahan kepada anak-anak dan keluarga untuk waspada dan berupaya bersama mencegah terjadinya TPPO di Alor.

Lebih lanjut Pater Agus katakan, bekerja di luar negeri atau dimana saja tidak dilarang namun harus dilengkapi dengan dokumen perjalanan yang sah atau resmi sehingga tidak terjerumus dalam sindikat perdagangan orang.

“Sebagai pedoman atau cermin bagi kita, Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Bagi umat Kristen bercerminlah pada Kitab Suci,” tutup Pater Agus Duka.

Hadir pada acara ini antara lain,sejumlah pimpinan gereja GMIT,Tokoh Pemuda Gereja, Remaja Mesjid, Orang Muda Katolik, Kepala Desa Moramam, Kepala Desa Wolwal Selatan, Lurah Moru, Pejabat dari Kecamatan Alor Barat Daya dan umat Katolik Paroki Santa Maria Fatimah Kalongbuku-Moru.

Pastor Paroki Santa Maria Fatimah Kalongbuku-Moru, Romo Dedy Lajar, Pr mengatakan peserta sangat antusias mengikuti materi sosialisasi Human Trafficking yang dibawakan oleh Pater Agus Alfons Duka untuk membangun kesadaran dan pemahaman bersama tentang masalah perdagangan orang yang marak terjadi di lingkungan masyarakat.

“Kita harap dengan sosialisasi ini terbangun pemahaman dan kesadaran bersama antara masyarakat dan semua pihak dalam mencegah terjadi kasus perdagangan orang di lingkungan masing-masing,” tegas Romo yang belum genap sebulan bertugas di Paroki Santa Maria Fatimah Kalongbuku-Moru.

Hingga tahun 2021, Rumah Harapan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) sudah menjemput 104 jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dipulangkan ke NTT, terdiri dari 29 perempuan dan 75 laki-laki.

Sementara, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) NTT memfasilitasi pemulangan lanjutan 105 PMI Terkendala dan anak dari Kupang ke 12 Kabupaten/Kota asal PMI tersebut di Provinsi NTT.

Para PMI Terkendala dan anak tersebut dipulangkan dari Malaysia melalui debarkasi Nunukan selanjutnya dipulangkan ke NTT oleh pihak UPT BP2MI Nunukan dan UPT. BP2MI Makassar dengan KM Bukit Siguntang melalui dua Pelabuhan yaitu Lorens Say Maumere sebanyak 68 orang berasal dari lima Kabupaten di Pulau Flores dan 37 orang dari 6 Kabupaten/Kota di Pulau Timor serta Kabupaten Alor. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan