oleh

Menpora: Turnamen Piala Menpora Lulus, Kompetisi Liga 1 dan 2 Bisa Jalan

RADARNTT, Jakarta – Turnamen pra musim Piala Menpora dijadikan ajang ujian untuk terselenggaranya Kompetisi Liga 1 dan 2. “Kalau ini (Turnamen Piala Menpora) lulus, kompetisi (Liga 1 dan 2) bisa jalan,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali dalam acara diskusi daring “Kompetisi Sepakbola di Tengah Pandemi Covid-19”, Sabtu petang, (6/3/2021).

Piala Menpora bakal digelar pada 20 Maret hingga 25 April 2021. Implementasi protokol kesehatan menjadi perhatian utama Menpora dalam pelaksanaan Piala Menpora. Simulasi pelaksanaan protokol kesehatan itu kemarin sudah diterapkan dalam uji coba tim nasional pada 5 dan 7 Maret.

PSSI dan PT Liga sebagai panitia penyelenggara diuji untuk menyiapkan dan disiplin dalam protokol kesehatan saat tim nasional bertanding uji coba melaan Persikabo dan PS Tira.

“Maka, kemarin (5 Maret) saya pantau langsung. Jam 5 saya sudah di sana (Stadion Madya Senayan), pantau semuanya. Di mana kamar ganti pemain, di mana parkir ambulans. Semua saya cek,” kata Zainuddin.

Kata Menpora, pemerintah sadar, pembinaan olahraga prestasi mesti sudah dimulai. Tak cuma Kementerian Pemuda dan Olahraga yang mendesak kompetisi bisa digelar. “Presiden Jokowi juga minta digelar. Presiden dukung penuh,” kata Menpora. Karena itu Zainudin berinisiatif menemui Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, untuk membahas pelaksanaan kompetisi Liga 1 dan 2.

Kompetisi penting, karena menjadi latihan bagi pemairn Indonesia untuk kembali terbiasa bermain. Apalagi Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-19. “Kita perlu turnamen, pertandingan. Kan ujung dari pembinaan sepakbola adalah prestasi. Kompetisi adalah bagian dari pembinaan,” kata Menpora.

Menpora juga menegaskan bahwa pelatih tim nasional Shin Tae Yong keluhkan ke Timnas perlu pertandingan.

Uji coba tim nasional yang mulai digelar pada 5 Maret 2021 dan berikutnya pada 7 Maret 2021 merupakan bagian dari menguji fisik dan mental para pemain, setelah tak berkompetisi selama setahun. Pertandingan penting bagi tim nasional supaya siap bila harus bertanding di Piala Dunia U-19.

Tak adanya kompetisi selama setahun dikeluhkan pelatih tim nasional asal Korea Selatan, Shin Tae Yong. Karena kesulitan mengukur kemampuan para pemain untuk bertarung dengan para pemain negara lain.

“Bagaimana saya bisa membuat tim Anda jadi bagus, kalau kesempatan pertandingan tidak ada? Bukan uji coba biasa. Saya butuh atmosfer yang pemain bersedia mati-matian di lapangan,” kata dia.

Uji coba menjadi pembuka dalam rangkaian untuk memulai kembali kompetisi sepakbola di Indonesia. Kompetisi sudah mendapat restu dari Kepolisian. Setelah Presiden Joko Widodo menyatakan mendukung kompetisi digelar dengan disiplin protokol kesehatan. “Presiden bilang, mau main (sepakbola) di bulan pun, saya dukung.”

Menurut Zainuddin, setelah uji coba berlangsung lancar penerapan protokol kesehatannya, diharapkan bakal menjadi parameter untuk pelaksanaan Turnamen Pra Musim Piala Menpora pada 20 Maret-25 April 2021 di empat kota. Setelah dinyatakan lancar, barulah Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 dianggap bisa digelar.

Sementara itu, Aktivis dan Relawan Covid-19 dokter Tirta Mandira Hudhi menilai mengatakan pertandingan Sepakbola itu obat Pandemic Fatique.

Dokter Tirta menilai kompetisi sepakbola Liga 1 dan Liga 2 perlu digelar pada 2021. Karena pertandingan sepakbola adalah obat untuk pandemic fatique.

“Di mana ada acara yang bisa mengalahkan acara sinetron kemarin malam (5 Maret 2021)? Ya sepakbola,” kata Tirta.

Menurut dia, setahun lebih masyarakat disuguhi ketakutan dan kejenuhan atas situasi pandemi. Apalagi situasi sosial di Indonesia saat ini, menurut Tirta, isinya hanya debat politik.

“Masyarakat bosan. Capek melihatnya. Yang ramai buat masyarakat ya sinetron dan tayangan La Liga (Liga Spanyol) dan EPL (English Premier League),” kata dia. Para penggemar sinetron selama ini terhibur. “Tapi yang laki-laki, lelah, tidak ada hiburan. Mereka butuh olahraga (sebagai hiburan), basket, bulutangkis, sepakbola. Ini juga berlaku buat generasi mudanya, generasi Z,” kata dia.

Tirta menilai saat ini sudah waktunya kompetisi kembali digelar, karena PSSI dan para pihak yang terlibat sudah paham konsekwensi bila protokol kesehatan diabaikan. Ada suporter, pemilik klub, dan juga panitia.

“Mereka semu sudah paham. Nah kalau ada yang nobar (nonton bola bareng) di satu tempat, itu tugasnya Satgas Covid-19 (untuk membubarkan),” kata dia.

Saat ini, yang jadi masalah ada di Kepolisian. “Polisi kasih izin (pertandingan) atau tidak, itu yang jadi ganjalan selama ini. Polisi takut dicopot. Karena memberi izin, ada kerumunan, terjadi pelanggaran. Mereka melihat ada contohnya, soal Petamburan, kan ada (petunjuk pemerintah pusat), tetap saja kena copot.”

Pesan Epidemiolog ke Kompetisi Liga1 dan 2: Perhatikan Lima Titik Rawan Penularan Covid-19.

Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 yang bakal digelar setelah Turnamen Pra Musim Piala Menpora, mesti dilaksanakan secara hati-hati. Panitia penyelenggara, PT Liga Indonesia Baru harus memperhatikan lima titik rawan penyebaran Covid-19. Hal ini disampaikan epidemiolog dari Griffith University, Queensland, Australia, Dicky Budiman, dalam diskusi daring yang digelar Kelompok Kerja Al Ikhlas, Sabtu petang.

“Setiap titik rawan itu mesti meminimalisir kontak,” kata dia.

Lima titik rawan itu yakni, keluarga pemain dan pelatih. Kedua, training camp atau tempat latihan, ketiga kelompok fans atau suporter, keempat stadion, dan kelima, di tempat untuk menyegarkan diri alias leisure time bagi pemain dan pelatih untuk rileks.

“Semua ini bisa memunculkan kerumunan, dan kontak erat,” kata dia.

Contoh, kata Dicky, pemain bisa tertular dari keluarga saat mereke bertemu, atau sebaliknya. Demikian juga saat suporter melakukan nonton bareng allias nobar.

“Semua tempat ini mestinya dilokalisir. Maka saya setuju bila kompetisi Liga 1 dan Liga 2 saat ini dilakukan dengan sistem bubble seperti di Amerika Serikat (NBA),” kata Dicky.

Usulan menjalankan sistem bubble, juga diutarakan Tirta Mandira Hudhi, dokter yang juga relawan Covid-19. Menurut Tirta, bila dilakukan dengan sistem bubble, maka semua bisa dikontrol. Termasuk orang dari luar bisa ketahuan, dan dites PCR.

Dicky menyatakan di sistem bubble, para pemain dan pelatih serta ofisioal dikarantina dan tidak bisa bertemu siapapun. Apa yang mereka lakukan hanya untuk pertandingan saja. Serta setiap kali sebelum bertanding, “Mereka dites saliva (ludah), bukan antigen lagi. Jadi lebih ada jaminan, karena selalu tes setiap hari.”

Dengan sistem bubble, kata dia, sebetulnya bisa ada penonton. Namun dibatasi. Baik jumlah serta jarak antar penonton. Selain itu, “Penonton yang masuk stadion harus betul-betul dites Covid-19 langsung di tempat.” Tapi menurut dia, tahap itu adalah langkah berikutnya. “Sekarang yang dilaksanakan, tanpa penonton dulu. Kita disiplin dulu ikut aturan.” (Yophie/Kompas/Tribunnews.com)

Komentar

Jangan Lewatkan