oleh

Tragedi De Kuip

Juara Piala Dunia empat kali. Yes! Tapi jangan bilang Italia selalu bahagia karena sepak bola.

Euro adalah jalan sengsara bagi Squadra Azzurra. Jejak pilu berurai air mata dalam penggalan waktu lebih dari lima puluh tahun. Derita setengah abad yang belum berujung.

Setelah pesta gemerlap 1968 berkat kemenangan 2-0 atas Yugoslavia, dua kali Italia mencapai tangga puncak Piala Eropa. Namun, kegetiran menyelimuti justru ketika hampir semua orang yakin mereka meraih trofi juara.

Di antara via dolorosa Gli Azzurri, tak ada yang lebih perih ketimbang tragedi De Kuip. Sayatan sembilu itu masih membekas utuh di hati Paolo Maldini Cs meskipun sudah lebih dari seratus purnama berlalu.

Rotterdam Belanda 2 Juli 2000. Final Euro, Italia vs Prancis. Duel membosankan malam itu baru luruh terurai ketika pertandingan bergulir hampir satu jam.

Melihat rekannya Luigi Di Biagio, Stefano Fiore dan Francesco Totti kesulitan menembus benteng Prancis yang dikawal super ketat Lilian Thuram, Marcel Desailly dan Laurent Blanc, Gianluca Pessotto naik membantu.

Menit ke-55, Pessotto bergerak lincah dari sisi kanan lalu melepaskan umpan silang terukur ke kotak penalti lawan.

Marco Delvecchio yang lolos dari kepungan Thuram, Bixente Lizarazu dan Blanc, menyambar bola lewat sontekan cantik kaki kiri. Gol!

Fabien Barthez berdiri kaku dengan mulut sedikit terbuka. Terkejut menatap bola telah mencabik gawangnya. Laurent Blanc urung membuat ritual, mengecup kepala botak kiper Fabien Barthez.

Italia unggul 1-0. Pendukung Gli Azzurri tak henti bernyanyi di Stadion De Kuip Rotterdam. Fans Les Bleus membisu di seberang tribune. Hening.

Prancis asuhan Roger Lemerre berbalik menyerang. Berduel spartan dalam sisa waktu 30 menit. Akan tetapi Didier Deschamps dkk begitu sulit menembus pertahanan Italia yang digalang apik Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Mark Iuliano,dan Pessotto.

Italia memimpin hingga menit terakhir injury time 90 + 4. Sesaat lagi akan ada pesta di Roma, Milan, Turin, Napoli. Sementara ketegangan memuncak di Paris.

Tiga puluh detik menjelang Wasit Anders Frisk dari Swedia meniup peluit akhir, Fabien Barthez keluar jauh dari sarangnya.

Dia mengirim bola langsung kepada David Trezeguet yang berdiri sedikit di luar kotak 16 meter pertahanan Gli Azzurri.

Trezeguet menyundul bola umpan kepada Sylvain Wiltord yang bergerak di sayap kiri.

Dua langkah sesudahnya, Wiltord melepaskan tembakan mendatar kaki kiri yang indah mematikan. Bola menyusur tanah, melewati jangkauan kiper Italia Francesco Toldo.

Skor 1-1. Pertandingan harus berlanjut ke masa perpanjangan waktu memakai sistem golden goal (gol emas). Semangat bertanding Italia runtuh.

Les Bleus menggila. Tepat sebelum paruh waktu masa extra time, Robert Pires memotong bola dari kiri, memberikan kepada David Trezeguet yang sekali sentuh menembakkan gol emas lewat kaki kiri ke sudut atap gawang Toldo.

Sesuai aturan golden goal, Anders Frisk langsung meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga final. Squadra Azzurra terluka. Remuk redam dalam tragedi 30 detik yang menyesakkan dada. Kota Paris bercahaya. Duka Roma tak terkira.

Dunia mengelu-elukan Prancis. Zinedine Zidane dkk membawa pulang trofi Euro 2000 ke Paris, melengkapi kejayaan mereka dua tahun sebelumnya meraih gelar juara Piala Dunia 1998. Pesta kembang api menghiasi menara Eiffel dan Champs-Élysées.

Tragedi De Kuip paling menyakitkan bagi pelatih Italia saat itu Dino Zoff dan kapten tim nasional Paolo Maldini.

Dino Zoff menyebutnya sebagai takdir Gli Azzurri. Menurut pahlawan Italia di Piala Dunia 1982 ini, tim asuhannya memang ditakdirkan untuk kalah. “Tiga puluh detik menghapus kemenangan kami,” kata Zoff.

“Kami memiliki waktu yang hebat di final tersebut. Pemain kami sangat kompak dan segalanya berjalan baik hingga saat-saat terakhir,” kata Paolo Maldini seperti dirilis uefa.com.

“Hingga 30 detik sebelum berakhirnya final, kami merupakan juara Eropa. Namun, kami memang melawan tim yang tidak pernah menyerah dan mereka berhasil menyamakan kedudukan di 30 detik pertandingan,” ujar Maldini.

“Kami tiba-tiba langsung menyadari kami akan kalah. Itu bukan sekadar gol menyamakan kedudukan,” ungkap Maldini.

Setelah gol Wiltord, kata Maldini, dia berusaha memotivasi rekan-rekannya untuk terus berjuang hingga menit terakhir.

“Kami saling mengingatkan agar bangkit dan memenangi final. Tapi itu hanya kata-kata, karena di hati kami paling dalam, kami sadar gol Wiltord merupakan pukulan psikologis amat besar,” ujarnya.

Sistem gol emas sungguh menghadirkan sudden death. Meski masih tersisa waktu 15 menit, Italia tak punya kesempatan lagi untuk membalas gol Prancis.

Federation Internationale de Football Association (FIFA) mulai menerapkan golden gol tahun 1993. Usia aturan ini tidak panjang karena dianggap tidak adil. Pada tahun 2004 FIFA mencabut aturan gol emas tersebut.

Dua belas tahun setelah malam jahanam di Rotterdam, Kiev kembali menghadirkan harapan bagi Italia berjaya di Piala Eropa setelah 1968.

Mario Balotelli dkk lolos ke final Euro melawan Spanyol 1 Juli 2012. Apalah daya. Tim generasi emas La Furia Roja tampil begitu perkasa.

Sungguh sakti mandraguna. Final Euro 2012 menjadi momen antiklimaks yang memilukan. Spanyol menang telak 4-0.

Dalam waktu 90 menit, Gianluigi Buffon empat kali memungut bola dari gawangnya.
Gol Spanyol sumbangan David Silva (14′), Jordi Alba (41′), Fernando Torres (84′), dan Juan Mata (88′). Gol tercipta amat mudah.

Spanyol seolah tak mendapat perlawanan apa-apa. Itulah sebabnya Italia menerima kekalahan final 2012 dengan lapang dada. Tak seperih “takdir 30 detik” dua belas tahun sebelumnya di Belanda.

***

Malam ini 11 Juli atau 12 Juli 2021 waktu Indonesia, Italia menapaki babak grandfinal Euro yang keempat sepanjang sejarah Piala Eropa.

Mereka melawan Inggris yang bermain di kandang sendiri, stadion legendaris Wembley London. The Three Lions sedang berada pada level permainan terbaik. Penuh gairah yang meluap-luap karena untuk pertama kali mencicipi final Piala Eropa.

Italia dan Inggris sudah bertemu di berbagai event sebanyak 27 kali. Italia menang 11 kali, kalah 8 kali dan sisanya imbang. Rekor head to head yang menawan.

Khusus di ajang Piala Eropa dan Piala Dunia, Italia selalu mengalahkan Inggris dalam empat pertemuan mereka. Piala Eropa 1980 di Roma, Italia mengalahkan Inggris 1-0 di fase grup.

Italia menekuk Inggris 4-2 (0-0) lewat adu penalti pada babak perempat final Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina.

Saat perebutan posisi ketiga Piala Dunia 1990 di Roma, Gli Azzurri menang 2-1 atas Inggris. Teranyar, Italia mencampakkan Inggris 2-1 pada babak penyisihan grup Piala Dunia 2014 di Brasil.

Inggris baru sekali masuk final dan meraih juara Piala Dunia 1966 saat menjadi tuan rumah. Italia mencapai final Piala Dunia enam kali, dan empat di antaranya juara yaitu 1934, 1938, 1982 dan 2006.

Sejak tahun 2018, tim asuhan Roberto Mancini meraih 33 kemenangan beruntun termasuk enam pertandingan sejak penyisihan Euro 2020. Mancini memancarkan harapan baru pascakegagalan negeri itu lolos ke Piala Dunia 2018.

Sejak fase grup Euro 2020, Italia mencetak total gol 12 dan gawang Gianluigi Donnaruma hanya kebobolan 3 gol.

Hebatnnya lagi, lima pemain Italia masing-masing mencetak dua gol yaitu Lorenzo Insigne, Ciro Immobile, Federico Chiesa, Manuel Locatelli, dan Matteo Pessina.

Ada sedikit soal, Italia kehilangan bek kiri Leonardo Spinazzola yang cedera parah saat melawan Belgia. Posisi bek kiri kemungkinan diisi Emerson Palmeiri.

Kinerja Inggris pun fantastik. Tim Tiga Singa memenangi 11 dari 12 laga terakhir termasuk enam partai Euro 2020 dengan mencetak 10 gol dan hanya kemasukan 1 gol.

Dari 12 laga terakhir, skuat asuhan Gareth Southgate mencetak total 25 gol, mencatatkan 10 clean sheet, dan cuma kebobolan 2 gol. Pertahanan yang keren.

Penampilan Inggris terus membaik sejak menyingkirkan Jerman. Inggris memiliki lini belakang tangguh, baru kebobolan sebiji gol selama Euro 2020. Lini depan khususnya sang kapten Harry Kane, semakin tajam.

Kane sumbang empat gol dari tiga laga. Sementara Raheem Sterling yang sempat dicibir bikin diving melawan Denmark di semifinal, telah mengoleksi tiga gol.

Tidak ada pemain yang absen karena cedera atau hukuman kartu. Semua pemain Inggris siap tempur melawan Italia di Wembley.

***

Bagaimana kemungkinan duel malam ini? Hampir pasti berjalan alot selama 90 menit bahkan lebih.

Menarik untuk melihat siapa yang terbaik dalam lima lima pertempuran kunci di setiap lini. Yang pertama, duel antara Harry Kane vs Giorgio Chiellini.

Baik Kane maupun Chiellini tidak menikmati perjalanan mulus sepanjang turnamen ini, tetapi keduanya berperan penting untuk memenuhi harapan tim meraih trofi.

Kapten Inggris, Harry Kane adalah pencetak gol terbanyak di babak kualifikasi, tetapi tumpul di babak penyisihan grup.

Inggris bersyukur striker Tottenham yang memenangkan Sepatu Emas Piala Dunia 2018 itu, bangkit dengan mencetak empat gol dalam tiga pertandingan fase gugur.

Ketajamannya membawa Inggris ke final turnamen besar pertama selama 55 tahun.

Bek tengah veteran Italia, Chiellini pun lambat panas. Terutama sejak pertandingan Grup A Italia melawan Swiss sampai kemenangan perempat final atas Belgia.

Namun kapten Azzurri itu, bersama bek Juventus, Leonardo Bonucci telah memainkan peran besar membantu Italia menahan serangan gencar penyerang berbahaya Belgia di perempat final dan striker Matador di semifinal.

Duel berikutnya antara Raheem Sterling vs Giovanni Di Lorenzo. Pemain sayap Manchester City itu telah menjadi bintang Inggris sejauh ini.

Dia cetak gol kemenangan melawan Kroasia, saat melawan Republik Ceko di penyisihan grup, dan gol pembuka dalam kemenangan 2-0 atas Jerman di babak 16 besar.

Dia juga membantu Inggis saat mengalahkan Denmark di semifinal, setelah mencetak asis untuk gol pembuka Kane melawan Ukraina di perempat final.

Di Lorenzo kemungkinan ditugaskan Mancini untuk meredam pergerakan Sterling.

Bek kanan Napoli itu tampil baik meski sempat kesulitan meladeni kecepatan Jeremy Doku saat laga melawan Belgia, sehingga kebobolan gol penalti karena pelanggaran yang tidak perlu terhadap pemain remaja itu.

Duel selanjutnya adalah Kalvin Phillips vs Jorginho. Jorginho telah dianggap sebagai detak jantungnya lini tengah Italia.

Lini tengah Italia banyak ditentukan kiprah Jorginho. Pemenang Liga Champions itu tidak dominan di semifinal melawan Spanyol, ketika dia menghadapi pemain muda sensasional Barcelona, Pedri.

Jorginho dan Pedri lebih banyak bermain di turnamen ini daripada Phillips yang dilatih Marcelo Bielsa di Leeds.

Inggris akan berharap Phillips dapat menggunakan energinya secara baik demi meredam pengaruh Jorginho, seperti yang dia lakukan pada Luka Modric dalam pertandingan pembukaan melawan Kroasia.

Duel kunci berikutnya adalah Luke Shaw vs Federico Chiesa. Dua pemain bintang turnamen akan saling berhadapan di sayap kanan Italia.

Pemain muda Juventus, Chiesa telah menyiksa pertahanan lawan dengan kecepatan dan keterampilannya, termasuk saat mencetak gol brilian melawan Austria dan Spanyol.

Bek kiri Luke Shaw akan bertugas untuk menghentikannya. Bek MU itu juga menjadi ancaman saat menyerang. Dia telah menyumbang tiga asis di Euro 2020.

Kedua tim berharap bisa membuat lawannya lebih sibuk bertahan, daripada dibiarkan bebas berlari bersama bola menyerang ke lini pertahanan.

Duel kelima antara Harry Maguire vs Ciro Immobile. Immobile sejauh ini belum tampil maksimal di Euro 2020. Tetapi sudah mencetak dua gol dan memiliki rekor gol brilian untuk Lazio di Serie A.

Dia harus tetap dalam kondisi terbaik untuk menimbulkan masalah bagi Maguire, mengingat bek tengah Inggris itu tampil mengesankan sejak pulih dari cedera.

Immobile dapat berperan menekan Maguire selama mungkin sehingga bisa mencegahnya memainkan umpan ke depan yang sangat berbahaya.

Pertandingan final Minggu malam ini akan menjadi kesempatan tim Inggris untuk meraih gelar juara Eropa pertama kali.

Bagi Azzurri, laga final ini bisa menandai kelahiran kembali sepak bola Italia setelah masa kegelapan bertahun-tahun. Terutama setelah gagal tampil di Piala Dunia 2018.

Siapa pemenang di Stadion Wembley Senin dini hari nanti?

Apakah tragedi De Kuip kembali menghampiri Gli Azzurri?

Penggemar Inggris dan Italia silakan jawab sendiri ya. Selamat menonton!

 

Oleh: Dion D. Bata Putra

Komentar

Jangan Lewatkan