oleh

Pilihan Strategis Apa untuk PON 2028?

-Olahraga-354 Dilihat

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) secara resmi telah ditetapkan sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 dalam Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) KONI 2022 di Hotel Sultan, Jakarta, pada 13 September 2022.

Menjadi tuan rumah sebuah perhelatan besar membutuhkan persiapan yang matang. NTT dan NTB mempunyai waktu enam tahun untuk mempersiapkan diri menjadi tuan rumah yang baik sekaligus tuan rumah yang berprestasi. Waktu enam tahun adalah waktu yang relatif. Relatif artinya tergantung bagaimana kita menggunakan waktu itu. Kalau direncanakan secara strategis dan digunakan secara efektif dapat membuahkan hasil yang prima.

Namun jika direncanakan secara serampangan dan tidak dimanfaatkan dengan baik, akan terasa sangat singkat dan dapat menjadi bencana bagi penyelenggara. Lalu apa yang perlu direncanakan dan dipersiapkan secara baik agar waktu enam tahun ini efektif dimanfaatkan untuk kebaikan NTT sebagai tuan rumah? Pilihan strategis apa yg dapat diambil agar NTT bukan saja siap menjadi tuan rumah PON 2028 tetapi juga berjaya dalam event-event tertentu dalam PON ke 22 itu?

Hal yang pertama dan utama yang perlu diingat adalah membangun infrastruktur yang (1) sesuai standar event tetapi juga yang (2) strategis bermafaat bagi pembinaan cabang olahraga unggulan dan (3) tidak mubazir setelah pesta olahraga.

Ketika membangun infrastruktur untuk sebuah “pesta” olahraga adalah mencegah kemungkinan mubazirnya setelah “pesta” usai. Untuk mengatasi kemungkinan kemubaziran ini (yang sudah banyak terjadi di berbagai negara), yang perlu dilakukan adalah memilih menjadi tuan rumah (host) untuk cabang-cabang yang potensial dikembangkan di daerah kita atau cabang-cabang yang memang kita sudah kuat adanya.

Dengan memprioritaskan cabang-cabang olahraga (cabor) itu, kita mempunyai keuntungan ganda: (1) tidak akan dipermalukan karena kemungkinan adanya medali dari cabor-cabor itu ada dan; (2) kita akan mendapat after affect-nya karena fasilitas yang dibangun kemudian dapat digunakan oleh altet-altet di cabor cabor tersebut. Sekali merengkuh dua tiga pulau terlampaui. Dalam jangka panjang kita bisa menikmati hasil yang baik dari kehadiran fasilitas-fasilitas itu apalagi didukung oleh manajemen pembinaan atlet yang baik. Atlet yang baik itu tidak muncul ujug-ujug seperti malaikat dari sorga tapi dibina dan dilatih dalam sistem yang komprehensif dan proses yang sinergis antara semua pihak (dispora, induk olahraga, KONI dan masyarakat).

Oleh karena itu, untuk menyambut 2028 saya mengusulkan prioritas pada beberapa hal saja:

Pertama, bangunanlah satu stadion track and field di Kupang. Satu saja. Dan harus stadion track and field (athletik) karena potensi athlet di bidang athletik sangat besar dari NTT. Ingat, stadion track and field bukan stadion sepakbola. Sepakbola hanya satu emas, walaupun sumberdaya yang digunakan banyak. Kirim satu tim sepakbola sama dengan kirim 10 atlet athletik atau 10 petinju. Jadi harus stadion track and field yang di dalam ada kolam renang, ada track untuk athletik (lari, lompat, lempar), ada arena untuk martial art (tinju, taekwondo, karate etc). Semua venuenya harus standar olympiade. Itu saja. Itu saja sudah cukup. Stadion ini akan menjadi pusat pembinaan olahraga potensial NTT yang baik. Kita kuat di lari, lompat, lempat, pukul, tendang ya bikin arena untuk itu. Arena untuk yang lain seperti sepakbola nanti saja dululah. Toh investasinya mahal hanya untuk satu cabor. belum lagi kita liga tarkam (antar kampung) saja sudah berantem. Stadion sepakbola bolehnya tapi priototas kesekian. Untuk kolam renang nanti dululah. Air saja susah.

Kedua, mulailah bangun Wisma atlet. Ini penting sekali untuk penyelenggaraan multi event seperti PON tetapi juga bermanfaat untuk single-single event. Pemerintah akan lebih berhemat dalam banyak kesempatan karena wisma atau kampung athlet tersebut dapat digunakan secara multi event dan bahkan multi fungsi. Kalau ada event tunggal olahraga tak perlu lagi sewa hotel buang-buang APBD. Kalau ada event non-olahraga dapat juga dimanfaatkan. Duit masuk buat kas pemda asal di-maintenance secara baik. Dan wisma ini pula standarnya harus standarisasi olympic games.

Ketiga, tingkatkan jam terbang para atlet di cabang-cabanhg yang memang potensial seperti martial art (taekwondo, pencak silat, tinju dll). Selama ini persoalan paling ironis dari atlet di NTT bukan soal pembinaan, tapi soal mau ikut kejurda atau kejurnas saja tidak punya uang tiket. Itu ironi yang sering terjadi. Jadi bantulah atlet-atlet potensil agar punya pengalaman bertanding yang lebih. Jangan lagi kejadian seperti atlet Muaythai dan selancar terjadi lagi dan lagi. Kalau mau bertanding uang tiket saja susah, begitu menang banyak yang mengaku punya andil.

Keempat, juga hentikan janji-janji palsu dan tidak proporsional dan tidak mendidik kepada atlet. Janji bonus boleh saja, tetapi iming-iming untuk diterima jadi ASN atau karyawan BUMD harus dihentikan. Itu tidak mendidik, serta mencederai profesionalisme serta demokrasi. Biarlah orang menjadi atlet karena harapan yang benar bukan harapan palsu. Orang menjadi atlet karena benar kecintaan pada olahraga bukan karena iming-iming yang mencederai profesionalisme dunia kerja. Dengan menerima seorang juara secara otomatis sebagai karyawan sebuah lembaga belum tentu dia pas di situ. Itu mencederai profesionalisme. Biar dia bersaing sebagaimana wajarnya di dunia kerja, sebagaimana juga ia berjuang keras menjadi seorang atlet handal.

Prinsip-prinsip profesionalisme janganlah dilanggar hanya karena seorang menjadi pahlawan olahraga. Karena ada banyak juga pahlawan di luar sana selain pahlawan olahraga. Lagipula belum tentu dunianya pas di situ. Lebih mendidik dia menjadi atlet yang baik, jika mungkin masuk dunia pro (dalam tinju misalnya), dan mendidik dia mengelola hidup pasca atletnya dengan baik. Banyak atlet yang kemudian hidupnya terlunta-lunta karena tidak dibantu mempersiapkan hidupnya pasca menjadi atlet.

Kelima, bantulah upgrade dan persiapkan sejumlah official di berbagai cabang. Bantu akreditasi wasit-wasit misalnya, sehingga kita tidak akan banyak meminta tenaga penyelenggara dari luar.

Keenam, Media dan civil society perlu mengontrol terus-menerus planning dan eksekusi planning serta progresnya setiap saat. Jika didiamkan, bisa jadi kita terbangun dari tidur saat sudah terlambat semuanya. Dan akhirnya cerita kebut semalam yang akan dilakukan sehingga kualitas dan proses akan diabaikan sama sekali. KONI NTT perlu memaparkan ke publik apa yang mereka rencanakan dan akan mereka lakukan dalam hitungan 5-6 tahun. Komunikasi dengan IOC untuk standarisasi venue dan fasilitas perlu selalu dilakukan.

Itulah sekurang-kurangnya enam hal yang perlu diperhatikan dalam hal infrastruktur dan persiapan SDM jika mau siap dan tidak malu di tahun 2028 nanti. Soal venue untuk cabor lain seperti sepatu roda, layang gantung, olahraga air bisa dikemudiankan. Lagipula ada peluang share venue dengan NTB jadi biarlah mereka mengambil yang lain. kita pilih yang strategis buat kita. Strategis dari sisi pride, tetapi juga strategis dari sisi pembinaan ke masa depan. Pride-nya kita itu bukan bgm menciptakan Messi-Messi baru atau Cristiano Ronaldo-Cristiano Ronaldo baru. Pridenya kita itu bagaimana menciptakan Eduard Nabunome-Nabunome baru atau Welmince-Welmince Sonbai baru. Dan itu sudah terbukti possible dalam sejarah.

Nah, Kalau sudah punya fasilitas yang mumpuni, apa lagi yang kita ragukan? Memang olahraga bukan menyangkut barang mati saja, tapi saya percaya manusia. Ada pre-kondisi pasti ada kemauan dan peluang. Dan pre-kondisi itu harus jadi tanggungjawab strategis pemerintah daerah.

Mulai dengan roadmap yang jelas, pilih perencana dan pelaksana yang cakap, kerjakan secara bertahap, niscaya 2028 kita jadi tuan rumah yang terhormat dan bangga, bukan tuan rumah yang curang dan ngeles setiap saat.

 

Oleh: Matheos Viktor Messakh / Mantan Editor Sports koran The Jakarta Post

Komentar