oleh

Pilkada Mabar,”Genta Kematian Demokrasi”

-Opini-935 views

Oleh :  Febri Edo

RadarNTT.com-Sejak 2005, proses seleksi kepemimpinan di tingkat daerah terus mengalami kemajuan dengan segala tantangannya. Penyelenggaraan pilkada di Manggarai Barat relatif berjalan damai meskipun banyak tantangan yang dihadapi oleh KPU dan memberikan kesempatan memilih kepala daerah secara langsung, meskipun masih menyisakan persoalan yang memerlukan perbaikan di berbagai segi.Manggarai Barat, yang memasuki periode ke-3,pemilihan bupati dan wakil bupati banyak hal yang membuat publik resah janji palsu sang kandidat ketika mereka duduk kursi nomor satu Manggarai Barat.Apalagi geliat tim sukses,seakan-akan merekalah yang memiliki kedaulatan rakyat.

Melihat sistem politik birokrasi daerah di antara masyarakat maupun di dunia maya(perspektif komununikasi), tulisan ini mencoba mengangkat fenomena  sebagai isu yang layak didiskusikan terutama di Manggarai Barat. Dewasa ini, mau tidak mau, para pengamat akan melihat pilkada sebagai sebuah isu menarik dan sekaligus merefleksikannya dengan pemahaman kontemporer, setidaknya di dua sisi, yaitu politik partisipasi dan birokrasi. Berbeda dengan kebanyakan pendapat yang melihat fenomena ini sebagai referensi.Tulisan ini ingin membedah dari sisi kritis apa yang sebenarnya terjadi dalam pemahaman akademis yang perlu juga diketahui oleh khalayak publik, terutama secara komunikasi.

Partisipasi warga adalah formasi penting dalam sistem politik. Dalam banyak hal, khususnya di negara berkembang, penghargaan atas partisipasi warga ternyata masih sangat kurang. Pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up), yang selama ini banyak didengungkan, dalam realitasnya tak lebih dari sebuah ritual yang wajib dijalankan dalam tahun anggaran.Serupa, citizen charter (perjanjian warga) adalah juga bentuk partisipasi yang selama ini muncul di daerah sebagai wujud akuntabilitas pejabat publik kepada masyarakatnya. Singkatnya,transparansi ke publik sangat penting,bukan perjanjiaan elite semata.

Di banyak negara maju,  system birokrasi pemerintah berjalan dengan baik. Jarang sekali ditemui penyelewengan-penyelewengan secara personal, lebih-lebih secara sistematis. Di Indonesia, reformasi birokrasi adalah salah satu cita-cita reformasi yang harus diwujudkan. Pilkada tahun ini harus bisa menjadi fenomena reformasi birokrasi yang bermartabat dan efektif dan perlu diberi telaah mendalam, diberi kritik yang membangun, dan tentu saja disumbang dengan ide-ide perbaikan di dalamnya. Jangan sampai, setelah naik menjadi Bupati dan wakil bupati tidak ada, organisasi birokrasi kembali mengalami disfungsi.

Analisis Komunikasi Pilkada Mabar

Dalam  konsep politik komunikasi melalui Media Teknologi “Cybercomunity”.

Mengamati group di media sosial facebook dan sejenisnya maupun konstruksi media lokal di NTT dan Manggarai Barat khususnya, menjadi perhatiaan masyarakat. Secara perspektif komunikasi menatap konsep ini sebagai cybercomunity untuk mengekspresikan diri mereka di mata masyarakat maya.Group di facebook dan media social lainnya,  masing-masing calon mempublikasikan diri dengan cara dan konsep yang begitu afdeling (seksi) menarik perhatiaan komunikan sebagai representasi dengan stimulus respon maupun konstruksi media sebagai sarana mereka untuk memperkenalkan diri sebagai pemimpim Manggarai Barat.

Tak dapat dipungkiri kegesitan masing-masing calon maupun tim sukses mengasa pikiran dengan ide,pola komunikasi simbolik maupun lambang komunikasi massa(foto masyrakat kecil maupun kampanye).Ini pola komunikasi yang perlu dianalisis mendalam tentang pola politik masyarakat primitif maupun politik masyarakat berkembang.Dalam hal ini, saya mengutip buku dari Phillip Althoff dan Michael Rush di mana,,Robert Le Vine menyelidiki sosialisasi di kalangan dua suku bangsa di Kenya barat-daya:kedua suku bangsa tersebut merupakan kelomok-kelompok yang tidak tidak tersentalisisr dan sifatnya patriarkis,mempunyai dasar penghidupan yang sama ditandai ciri karekteristik dengan permusuhan berdarah.Di Amerika Seikat dalam komunikasi politik yang dikembangkan oleh Michael Rush dalam sosialisasi masyarakat berkembang dimana,proporsi tertinggi dari anak-anak Amerika yang menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengemukankan pendapa-pendapatnya 18% dan proporsi yang menurun dengan cepat sejajar dengan kenaikan kelas.

Dari cuplikan di atas, komunikasi cyberlaw sebagai konsekuensi cybercrime bisa mempengaruh cybercomunity dalam perpektif berpikir masyarakat khususnya Mabar.Manggarai Barat dengan letak secara geografis maupun aspek sosiologis sebagai representasi untuk menatap pola kepemimpinan dan kekuasaan daerah(lokal).Berbagai isu di Manggarai Barat secara aspek komunikasi hyper reality(sisi lain masyarakat maya),mengekspresikan diri(Sang kandidat) merekalah yang benar-benar bersih dan pro rakyat.Tampilan dunia maya sekan-akan menodai calon tertentu tanpa menggunakan argumentasi yang sunstansial bahkan yang paling tidak manusiawi dengan kata-kata kotor.Untuk itu,tendensius berpikir dalam melihat pola komunikasi masing-masing calon bupati maupun tim sukses erat kaitannya dengan proses komunikasi yang mereka bangun di dunia maya untuk menarik simpatisan masyarakat maya.Dan masyarakat maya bisa menjadi mediator untuk memperlancar uses information yang mereka pakai.

Distribusi wacana ke tengah masyarakat pada era post-moderen ini,dilaksanakan secara strategis melalu media.Banyak calon yang maju, di Manggarai Barat dengan ‘acting’  bahkan ada isu Pantai Pede dijadikan alat politik oleh kandidat tertentu,seakan-akan jika mereka terpilih Pantai Pede akan menjadi ruang publik,sehingga menggugah hati masyarakat betapa kedaulatan rakyat ada pada diri mereka.Ini sudah masuk dalam kategori “elemen taktis” untuk memepengaruhi pola pikir masyarakat,ini semua terkait dengan pembangunan sebuah dominasi dan pelestarian kekuasaan. Tesis ini,dituangkan dengan menggunaka pendekatan dan contoh kasus yakni:Analisa Priming . Proses analisis priming ini lebih berfokus pada sebagian isu dan tidak pada isu lainya,dan dengan demikian mengubah standar yang digunakan orang untuk mengevaluasi suatu peristiwa atau orang.

Contoh kasus :di Amerika (1993),Lyegar dan Simon menyelidiki priming dalam liputan berita Perang Teluk 1991.Terlihat bahwa selama krisis Teluk,opini kerja luar negeri Bush lebih kuat berhubungan dengan evaluasi Bush secara keseluruhan ketimbang kinerja ekonominya.Berbeda fase sebelum krisis,opini kinerja ekonominya lebih penting dari pada opini kebijakan luar Negeri.

Melihat konsep analisis priming(teori komunikasi) dalam ruang lingkup pilkada di Manggarai Barat,ada calon bupati dimana karakter wakil bupati menjadi bahan sorotan publik karena bagian dari politik gender dan isu ini beredar di masyarakat Mabar,perempuaan yang satu-satunya bahkan jika terpilih menjadi perempuaan pertama menduduki jabatan wakil bupati di Manggarai Barat.Persepsi publik yang diangkat dalam analisis priming tidak mengesampingkan isu yang layak didiskusikan terutama ketokohan sang bupati yang notabene pernah menjabat menjadi seorang bupati(lihat lima tahun yang terlewati).Ada kandidat tertentu,berkoar-koar mengkritisi sang bupati(Agustinus CH.Dula) dan dengan lantangnya mengatakan “kalau saya terpilih Pantai Pede akan menjadi ruang publiK”,tegas Maksimus Gasa.Dalam analisis priming,dimana isu sebagaiaan isu yang tidak pada isu lainnya dengan kata lain,Maksismus Gasa sebagai wakil bupati tidak pernah mengakomodir fungsi kepala daerah yang diatur dalam UU dan secara tak langsung beliau mengkritisi dirinya sendiri karena beliau masuk dalam sebuah sistem tersebut yakni mempertahankan Pantai Pede sebagai ruang publik.Dinamika politik datang dari sang kandidat Mateus Hamsi,dengan gagah dan perkasanya mengatakan depan media,”Saya maju menjadi DPR untuk mencari kekuasaan,sedangkan saya maju menjadi bupati sebagai pengabdian”tegas Mateus Hamsi.Jelas dan gamblang pernyataan ini retorika tingkat tinggi(high class).Mengapa dikatakan seperti itu?,fungsi dan wewenang beliau,kurang lebih 3 periode menjabat sebagai DPRD bahkan ketua DPRD Manggarai Barat.Dan pertanyaan lanjutan,apakah menjadi seorang DPR hanya mencari kekuasaan?,bukankah DPR sebagai wakil rakyat atau penyambung lidah rakyat?.

Dalam political communication and public opinion di Amerika (1978),tujuan politik komunikasi adalah pembentuk pendapat umum.Dalam usaha membentuk opini ini,umumnya melakukan tiga kegiatan sekaligus.Pertama,menggunakan symbol politik(language of politic).Kedua,melaksanakan strategi pengemasan berita dan agenda-setting function.Ada calon dikenal dengan kecerdasan terutama dalam strategi berpolitik,karena ada calon bupati dan wakil bupati,dengan berbagai cara mempengaruhi persepsi publik.Di sini,dibutuhkan sejumlah usaha mendestruksikan isi pernyataan Sang Kepala daerah,apakah dalam bentuk yang tampak(manifest),konteks,maupun makna simboliknya,sehingga ditemukan”pesan” sesungguhnya.Untuk menganalis ini,saya menggunakan metodologi analisis isi(content analysis),frame analysis dan agenda-settinganalysis. Ketiga analisis ini secara sederhana,Sang Kandidat mencoba untuk membangun sebuah komunikasi-bahasa,visual,dan pelaku untuk menyampaikan kepada pihak lain atau bisa jadi menginterpretasikan dan mengklarifikasikan informasi media.Sebagai masyarakat cerdas,kita harus bisa memetakan isi berita yang berkualitas dan masuk akal dengan isi berita yang diciptakan karena adanya will politics.Michael Foucault menjelaskan bahwa,fenomenal dari wacana beserta dengan potensi politis dan kaitan dengan kekuasaan sebagai “elemen taktis yang berkaitan dengan kancah relasi kekuasaan”.Antara wacana dengan kekuasaan memiliki hubungan timbal balik,dimana”elemen taktis”ini sangat terkait dengan kajian strategis dan politis.Oleh Karen itu, mengenai konsep yang dideskripsikan oleh Michael Foucault adalah alat dari kepentingan kekuasaan,hegemoni, dan ilmu pengetahuan.

Marilah kita membedah satu persatu politik yang bermoral dan berbudaya agar kita semua bermain yang bersih jauhkan politik provokatif,fitnah,”caci maki”,supaya masyarakat jangan lagi dibodohi (burden of proof) oleh actor intelektual rakus kekuasaan.Mari kita elaborasi pikiran kita,Menjadikan Pilkada Mabar Berbudaya dan Bermoral.”Nai Ca Anggit Tuka Ca Leleng,Neka Nepo Leso,Neka Ringing Tiis”.Goet Manggarai yang mengajarkan tantang budaya politik yang menjunjung tinggi kekeluargaan,ramah,sopan santun dan masih banyak hal lain yang nenek moyang(Lopo) kita ajarkan tentang kekeluargaan.Mari kita satukan pikiran,harapan,niat baik menuju Manggarai Barat yang lebih baik. (*Penulis adalah Mahasiswa Komunikasi(Jurnalistik),IISIP Jakarta)

Komentar