oleh

Koruptor : Sebaiknya Kembali ke Sopan-santun dan Rasa Layak Demokrasi

-Opini-1.500 views
Oleh : Fridus Baurae

Korupsi sudah sangat merajalela dan menyengsarakan rakyat, di sisi lain, menjadi tabiat dan hal lumrah bagi para pejabat negara ini. Fenomena ini sering menjadi persoalan krusial pemerintah, karena korupsi telah merasuk pada praktik administrasi publik dalam tata pelayanan pemerintahan kepada masyarakat.

Nah, jika korupsi telah sedemikian parah, sampai pada taraf memiskinkan masyarakat dan mencacati proses demokrasi, langkah apa yang bisa dilakukan untuk memberantas korupsi? Dari titik mana gerakan memberantas koruptor dimulai?

Tulisan ini mencoba mendiskusikan budaya politik yang salah. Hemat saya, perilaku mencuri uang negara adalah usaha instan nan murah menurunkan harga dirinya sendiri. Saya bukanlah ahli politik dan moral. Meskipun demikian, fenomena korupsi layak dibahas, terutama bagi kita di NTT yang memiliki banyak predikat minus.

Mengapa Terjadi Korupsi?

Hampir semua kita tahu, korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari wewenang dan jabatan oknum terkait demi mengeruk keuntungan pribadi dan kelompok. Pertanyaannya, mengapa para pejabat bisa seenak hati mencuri uang negara?

Pertanyaan di atas bisa menemukan jawabannya di sini, seperti keengganan atau masa bodohnya masyarakat (kaum muda) memerangi korupsi, Sistem akuntansi yang kabur, tidak ada transparansi dalam sistem hukum, Lemahnya kebijakan yang leluasa melahirkan para pencari rente, dan promosi karier (jabatan) pada pribadi yang salah (tidak berkualitas). Semua faktor di atas adalah penyakit lemahnya sistem kelembagaan.

Soal lemahnya aspek sosial budaya kita juga tidak bisa dianggap sepeleh: kurangnya peran media dalam menyoroti gerak-gerik serta duduk dan berdirinya para koruptor dan calon koruptor. Harus kita akui, media massa sendiri masih memberikan tempat terhormat bagi pejabat-pejabat, bahkan media-media tertentu rela ‘dibeli’ dengan nominal sekian ratus juta per tahun, hanya untuk menampilkan citra penguasa yang baik-baik saja. Belum lagi diperparah dengan budaya toleransi publik yang keliru dan salah tempat. Celakah beruntunlah republik ini.

Pada akhirnya, pertanyaan mengapa orang melakukan korupsi, dapat dirangkum dalam tiga point penting ini; sistem pemerintahan yang memungkinkan (hukum tidak keras dan tegas), Moralitas orang (oknum bersangkutan) yang rendah. Dan kontrol sosial masyarakat yang kurang.

Upaya Memerangi Korupsi

Bahwa korupsi merupakan salah satu penghambat perkembangan ekonomi, supaya ekonomi masyarakat bisa sedikit terangkat, maka langkah membenahi struktur adalah penting lewat ketegasan pemerintah dalam melaksanakan ‘law enforcement’, membenahi peraturan pemilihan umum, sehingga membuat wakil lebih dekat pada yang diwakili daripada kepada partai dan pemimpin partainya, resturkturisasi elite politik, sehingga elite yang berkuasa saat ini_yang diindikasikan sudah berkubang dalam tindak korupsi akut tidak lagi memiliki peluang untuk menduduki jabatannya kembali.

Partai-partai politik mesti didorong dan terdorong untuk mau membersihkan diri dari politisi-politisi dungu dan kotor, serta memiliki sistem akuntabilitas publik yang memungkinkan rakyat dapat mencopot wakil-wakil mereka di legislatif dan eksekutif yang mengkhianati kepercayaan publik. Dan secara umum, perlu dan harus menumbuhkan sikap saling mengamati dan memeriksa diantara para pejabat pemerintah (kontrol sosial), dan dari masyarakat kepada pemerintah.

Sudah semestinya, memberantasan korupsi perlu upaya sistematik dan berkelanjutan, bukan tambal sulam seperti menjahit kain sobek atau hangat-hangat tahi ayam. Bukan saja terkungkung dalam isu politik yang berkepanjangan, melainkan tindakan politik yang nyata. Bukan pula ilmu dan janji-janji muluk, melainkan komitmen dan aksi konstruktif.

Kembali pada Sopan Santun

Para elit politik dewasa ini, tampak darurat kehilangan standar politikus; mempunyai tujuan luhur, tidak terjebak dalam dendam politik pada lawan dan bersedia bekerja secara serius untuk melaksanakan beleid yang berguna bagi bangsa.

Krisis sosial, ekonomi dan politik yang sedang marak di negeri ini, hemat saya, berawal dari krisis kesadaran tingkah laku etis berpolitik, krisis rasa malu posetif sebagai bangsa mungkin sudah habis. Kita tidak lagi merasa malu memiliki bangsa berpredikat “paling korup di dunia” malah dianggap sebagai sesuatu yang wajar sehingga muncul pemeo: siapa yang tak ber-KKN, ia tak akan mendapatkan apa-apa. Atau orang yang jujur akan ter-bujur kaku dan ketinggalan gaya hidup.

Politisi-politisi, sebut saja seperti Setya Novanto (koruptor dari partai Golkar, sebagai Ketua DPR RI _terkait proyek pengadaan e-ktp) dan Balthasar Manek (anggota DPRD Malaka juga koruptor dari partai golkar yang telah mencuri dana pembangunan SMKN Raihenek – Kobalima, sewaktu masih menjabat sebagai kepala sekolah), serta ‘pencuri’ terdahulu lainnya, tidak lagi memiliki a kind of political shame – rasa malu politik. Jika tiada lagi rasa malu dan hilangnya rasa bersalah, maka orang  pun akan menjalankan kekuasaan dengan tebal muka dan tak tahu diri.

Segalanya bisa jadi buruk dalam politik bila tiada sanksi yang wajar dan pantas bagi yang bersalah dalam kejahatan politiknya- Nichts geht mehr ohne Busse in der Politik. Sehingga, tidak heran jika Balthasar Manek setelah keluar dari penjara (1 tahun 2 bulan), dengan senang hati harus melanjutkan tugasnya sebagai dewan terhormat di kabupaten yang baru seumur jagung tersebut. Dan Setya Novanto mesti sekuat tenaga, berusaha meloloskan diri dari jeratan hukum dengan aktingnya yang hampir saja sempurna hingga berujung pada tragedi tiang listrik, bulan kemarin.

Sementara, dalam berpolitik orang harus berani mengakui kesalahannya dan tahu diri untuk menerima sanksinya. Begitupun, hukuman yang sifatnya setengah-setengah, tidak pernah akan efektif. Maka, kepada pencuri-pencuri yang tebal muka dan gelap hati itu, anjuran yang pas untuk mereka ialah: “sebaiknya tuan-tuan terhormat menemukan kembali sense of decency – kembali kepada sopan santun dan rasa layak demokrasi.” Sadarilah kesalahan dan bertobatlah.*

Komentar

Jangan Lewatkan