oleh

Labuan Bajo, Mesti Diproyeksikan Jelas sebagai Ibukota Pariwisata NTT

-Opini-737 views

Oleh : Antonius Doni Dihen

Komodo menjadi magnet utama. Tetapi keindahan alam Manggarai Barat juga begitu wah, mungkin terindah menurut pengalaman dan cita rasa keindahanku, entah nanti kalah dengan Raja Ampat yang belum kukunjungi.

Lekak-lekuk bukit yang begitu seksi, dengan pulau-pulau kecil di depannya, di sebelah barat, utara, dan selatan Labuan Bajo, menghadirkan titik-titik selfie yang tak kunjung habis.

Kataku, kita laki-laki umuran saja mau selfie ulang-ulang begini, apalagi nona-nona.

Terobosan infrastruktur sudah menghadirkan tata ruang berasa Bali di sekitar Labuan Bajo. Caranya membelah bukit cukup tertimbang dengan hitungan-hitungan keindahan.

Dan rambatan infrastruktur ke arah selatan ke arah Desa Kenari dan Desa Golomori menghadirkan prospek perkembangan wilayah yang luar biasa.

Saya membayangkan di perlintasan Kenari-Golomori dengan pemandangan pantai dan pulau yang sangat indah ini ada semacam Eden Valley, Bukit Firdaus, yang dapat didudukkan setara Tanah Lot atau Bedugul atau Kintamani di Bali. Bukit Firdaus karena benar-benar sangat indah. Dia melengkapi Kampung Ujung di Labuan Bajo yang sudah kelihatan akan menjadi seperti Legian di Kuta Bali.

Otak nakalku membayangkan di daerah ini akan dihadirkan para perempuan perawan tercantik dan terseksi. Entah dari mana. Berpakaian terseksi tapi eksotik, dengan motif Manggarai atau daerah lain di NTT. Melengkapi alam cantik itu dengan pekerjaan menenun tenun-tenun Flobamora dengan motif terbaik, di bawah pondok-pondok terindah. Perempuan-perempuan cantik dari surga kebudayaan Flobamora yang tidak boleh tersentuh. Dipandang boleh, diajak ngobrol oke. Selebihnya no.

Atau, apapun konsepnya. Kita ajak pemimpi-pemimpi terbaik, memobilisasi mimpi terbaik mereka untuk pengembangan daerah ini. Memadukan konsep pariwisata modern dengan kearifan lokal.

Saya membayangkan perlu ada badan otorita untuk urusan ini. Atau perusahaan daerah di bidang kepariwisataan yang dibentuk untuk urusan ini. Yang merupakan simpul kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk investor dari luar. Dialah yang akan menggerakkan konsorsium industri kawasan wisata ini. Menggerakkannya dengan konsep pengembangan terbaik, yang inklusif dengan sharing kepemilikan Pemda dan masyarakat yang mumpuni. Pemda langsung memberinya dukungan partisipasi modal agar cepat bisa menguasai tanah di sana.

Bukit Firdaus. Sebuah mimpi tentang kemartabatan daerah masa depan, yang jika tidak diantisipasi, akan mendudukkan masyarakat dan orang-orang lokal hanya sebatas penonton yang tak berdaya, yang menonton dalam kelumpuhan kapasitas.

Dan tanda-tanda kelumpuhan kapasitas itu ada. Karena kita baru memiliki hanya sekadar kapasitas menjual tanah, kapasitas berharap pada uluran tangan pusat, kapasitas berpasrah pada otoritas pusat dalam mengelola Taman Nasional Komodo dan Dermaga Labuan Bajo.

Sementara banyak dari kita orang lokal –politisi, birokrat dan kelas menengah lain–masih terkungkung pada mentalitas sektor primer. Yang tdk sensitif pada standar pelayanan bandara, hotel, perbankan, rumah sakit, birokrasi. Juga kebersihan, keindahan, keramahan.

Saya membaca data sekunder, dan satu dua opini. Manggarai Barat memiliki terlalu banyak. Mungkin bahkan dapat menjadi sumber solusi sebagian persoalan kemiskinan NTT. Dari tidak hanya industri kepariwisataan itu sendiri. Tapi juga industri tarikannya. Industri pertanian, peternakan, dan perikanan. Yang masih dapat berkembang jauh untuk memenuhi kebutuhan daging, sayuran dan buah-buahan seiring perkembangan industri kepariwisataan. Sementara ini, memang, impor dari seberang adalah cerita yang masih lestari.

Dan ketika akan menganjakkan kaki dari Labuan Bajo, saya ingat sumber daya kemajuan yang tidak kalah penting. Di Jakarta sana, ada Pak Rikard Bagun, Pak Don Bosco Salamun. Juga banyak tokoh muda. Orang-orang Manggarai yang hebat-hebat. Orang-orang NTT yang hebat-hebat. Ketokohan intelektual mereka, posisi strategis mereka sebagai orang media, modalitas jejaring sosial mereka, mestinya dapat dikapitalisasi untuk percepatan kemajuan daerah ini.

Semua ini tentu tergantung dari the art of collaborating. Dan kesediaan berkolaborasi. Entah siapa yang harus memulai inisiasinya. Semoga ada yang cepat berani mengambil inisiatif memimpin orkestra ini.

Terima kasih Labuan Bajo untuk pengalaman bermimpi ini. Dan terima kasih untuk PKB Manggarai Barat, yang sudah mengundang saya sebagai salah satu ketua DPP PKB, untuk hadir dan membuka Musyawarah cabang. Proficiat untuk Kraeng Sirilus, Sang Wartawan, yang telah terpilih sebagai ketua Dewan Tanfidz. Semoga menjadi unsur aktif dalam kemajuan Manggarai Barat. (*)

Komentar

Jangan Lewatkan