oleh

Meneropong Peta Kontestasi Dalam Pilgub NTT 2018

-Opini-936 views

Oleh: Petrus Plarintus

Gong kompetisi pilgub mulai ditabuh. Beberapa paslon sudah melangkah semakin pasti, seiring dengan penetapan dari DPP partai pendukung.

Dari keempat paslon yang sudah mengerucut, nampaknya paslon dari PDIP-PKB yang hingga kini masih menuai kontroversi baik dari masyarakat akar rumput maupun dari internal partai di daerah. Pasalnya kedua kandidat tersebut bukannya representasi dari aspirasi rakyat melainkan keputusan sepihak berdasarkan otoritas DPP partai.

Alasan yang paling mendasarnya adalah bahwa kedua calon yang ditetapkan DPP PKB-PDIP tersebut bukan berasal dari kader terbaik melainkan hasil karbitan yang tidak memiliki basis suara signifikan untuk meraup kemenangan dalam kontestasi pilgub mendatang.

Jangankan berbicara tentang kemenangan, kegiatan deklarasi untuk konsolidasi awal saja nampaknya akan menjadi problematis untuk pasangan kejutan ini.

Sementara itu masa pasangan VBL dan JNS akan membanjiri lapangan Sitarda Lasiana Kupang dalam deklarasi paket tanggal 20 Desember 2017. Sebuah event deklarasi yang tidak hanya fenomenal namun mampu membius perhatian masyarakat NTT. Sebuah show force awal yang membuat pasangan ini layak diperhitungkan dalam kontetasi pilgub ini dengan menghadirkan 20.000 massa dari berbagai kalangan dan daerah.

Lain halnya dengan pasangan Esthon-Chris yang sudah jauh-jauh hari mendeklarasikan diri. Walaupun pergerakan akhir-akhir ini sepertinya adem ayem saja, namun pasangan ini layak diperhitungkan dengan operasi senyapnya.

Paslon buntut yang akan ikut kontestasi pilgub adalah BKH dan BL. Pasangan ini walaupun masih proses konsolidasi namun layak diperhitungkan karena dari faktor popularitas keduanya sudah cukup dikenal di masyarakt.

Kalau dilihat dari peta kekuatan yang ada nampaknya konsolidasi kekuatan merupakan problem dasar dalam team pasangan MS dan EN.

Sementara pasangan lain konsolidasi internal lebih mudah untuk dilakukan sementara faktor kemenangan sangat ditentukan oleh strategi yang akan dimainkan. Di sisi lain kondisi geografis dan SARA menjadi isu yang menarik untuk dikemas dalam mendulang suara di proses pemilu kelak.

Patut disesalkan bahwa dalam proses kontestasi ini yang terjadi bukan perang visi misi, melainkan politik transaksional dan isu-isu murahan yang terkesan sudah basih. Kondisi ini memperlihatkan betapa rendahnya kualitas demokrasi kita dan mandeknya pendidikan politik untuk masyarakat akar rumput.

Apalagi kalau kita berbicara tentang proses kaderisasi. Semua hanya pemanis di mulut dan indah sewaktu pidato.Faktanya masih banyak dusta di antara kita. Oh, ternyata hasil tak bisa membohongi proses (*)

Komentar

Jangan Lewatkan