oleh

Pantai Selatan Timor, Malaka Surga Peselancar di Negeri Matahari Terbit

-Opini, WisBud-1.620 views

Oleh : Fridus Baurae

Konsep pariwisata yang dipadukan dengan kegiatan olahraga atau sport tourism, perlu dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Malaka demi mendongkrak kehadiran wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Ada dua sport tourism yang bisa dikembangkan nanti, yakni Balap Sepeda “International Tour de Masin Lulik” dan “Pantai Selatan Surfing International Competition”.

Sekiranya ini perlu ada perhatian serius dari Pemerintah Daerah dan kerja sama dengan masyarakat setempat untuk menggerakkan sektor pariwisata. Tentunya dari jenis perlombaan olahraga wisata ini mampu menyedot banyak pembalap sepeda asing untuk turut bertanding. Hasilnya, wisata Masin Lulik dan Pantai Selatan yang menjadi ikon Malaka semakin dikenal lantaran menjadi sasaran para pembalap. Hal ini kemudian juga bisa ditetapkan sebagai agenda tahunan.

Belajar dari Inggris dan Kanada, sport tourism digarap sangat serius oleh masing-masing pemerintah karena memang banyak mendatangkan keuntungan. The British Tourist Authority dan English Tourist Board menyatakan, 20% dari jumlah total wisatawan yang datang ke Inggris adalah wisatawan olahraga.

Sedangkan di Kanada, 37% perjalanan di negara itu dilakukan oleh wisatawan olahraga. Kenyataan dari kedua negara tersebut mengindikasikan, bahwa pariwisata sampai kini masih menjadi industri yang sangat diminati dan bisa mendatangkan keuntungan finansial tercepat dan terefisien. Selain itu, konsep sport tourism memiliki ceruk pasar tersendiri yang sangat potensial.

Berbicara tentang pariwisata Kabupaten Malaka tidak kalah jauh dengan daerah-daerah lain seperti Labuan Bajo (Manggarai-Flores), Banyuwangi (Jawa Timur), Bali, NTB dan daerah lainnya yang memiliki tempat-tempat wisata potensial.

Malaka memiliki beberapa pantai yang masih alamiah dan berpotensi menjadi pantai surfing karena memiliki ombak yang deras pada bulan-bulan tertentu. Seperti pantai Maubesi dan Motadikin di desa Fahiluka (Bolan) yang kaya akan pohon cemara.

Pantai Raihenek dan Lo’odik di Kobalima yang sementara lagi diminati pengunjung lokal serta Masin Lulik yang semenjak leluhur dikeramatkan oleh masyarakat setempat karena memiliki sejarah yang unik dan menarik untuk ditelusuri oleh wisatawan.

Selain dua paket olahraga di atas, sebagai ajang promosi tempat-tempat wisata Malaka ini, juga bisa ditambahkan sejumlah varian pariwisata, seperti Malaka Ethno Carnival yakni Paduan Peragaan Busana, Etnik dan Catwalk jalan raya, Tarian dan Likurai dan ritual adat Tebe Bei Mau yang di selenggarakan setiap tahun pada bulan Maret, pesta adat yang masih sakral dan kental dengan adat Wesei-Wehali.

Adapun berbagai keunikan artefak peningalan leluhur yang masih diabadikan di rumah adat se-Malaka. Pijakan dasar dari semua varian itu adalah ekowisata yang menyajikan alam apa adanya, namun mengakomodasi pengembangan budaya lokal.

Saya yakin, pengembangan wisata yang masif dan terencana membuat tingkat kunjungan wisatawan di Malaka akan mengalami kenaikan yang signifikan. Artinya anggaran pendapatan daerah dengan sendirinya bertambah dari belanja pengunjung lokal dan asing.

Misalkan saja, pengeluaran atau belanja para wisatawan asing (turis) di Malaka berkisar tiga juta per orang dengan lama kunjungan 2,5 hari itu berarti dana yang mengalir masuk ke kantong Malaka selama hari-hari tersebut dari turis asing berkisar Rp. 31,4 Miliar. Itu pun belum termasuk belanja pengunjung lokal.

Maka, pemerintah Kabupaten Malaka hendaknya lebih cerdas menyikapi sektor ini. Dan tidak perlu berkecil hati dengan minimnya dana promosi wisata. Hanya saja pandai menggandeng pihak lain untuk berpromosi, termasuk aktif di sosial media yang sangat cepat menyebarkan berbagai potensi destinasi Kabupaten Malaka tersebut. (***)

Komentar