oleh

Pariwisata Timor Ibarat Induk Ayam Ditinggal Sukses Anaknya

-Opini-859 views

Oleh : Fridus Baurae

Ketika Flores, Rote, Alor dan Sumba bergerak lebih cepat mengembangkan pariwisata, pulau Timor seperti induk ayam ditinggal sukses anak-anaknya. Betapa tidak, Timor yang diplot sebagai Ibu kota propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),  seperti mati surih manakala ajang pariwisata nasional 2016 melambungkan nama NTT. Tidak ada satu juga wisata pulau Timor yang muncul sebagai pemenang. Sementara, bisa dibayangkan, Timor adalah pusat pemerintahan propinsi. Segalanya ada. Perdagangan, ekonomi, bisnis, perikanan, pantai, budaya serta kekayaan lainnya.

Prestasi Kemirisan Pulau Cendana

Beramai-ramai berita disiarkan di stasiun televisi nasional dan beberapa media online, poskupang.com dan antaranews.com (16/09/2016). Dari 10 kategori yang dilombakan dalam ajang pariwisata nasional tersebut, NTT masuk dalam nominasi enam kategori dan berhasil menjadi juara umum Anugerah Pesona Indonesia (API-2016).

Kategori tempat wisata yang berhasil diraih NTT adalah kategori tempat berselancar terpopuler (Most Popular Surfing Spot), juara satu berhasil diraih oleh pantai Nemberala, kabupaten Rote Ndao. Kategori tujuan wisata terpopuler kebersihannya (Most Popular Cleanlinnes), juara satu berhasil diraih oleh pantai Nihiwatu, kabupaten Sumba Barat.

Kemudian untuk kategori situs sejarah terpopuler (Most Popular Historical Site), diraih oleh situs Bung Karno di Ende, Flores. Kategori menyelam terpopuler (Most Popular Diving Spot), juara satu berhasil diraih oleh pulau Alor.

Sedangkan untuk kategori atraksi budaya terpopuler (Most Popular Cultural Atraction), atraksi budaya pasola di Sumba Barat Daya berhasil menempati urutan kedua, sementara kategori dataran tinggi terpopuler (Most Popular Highland), danau tiga warna di gunung Kelimutu Ende, menempati urutan ketiga.

Disimak secara keseluruhan, yang mendominasi juara umum mewakili NTT adalah pulau Flores, Sumba, Alor dan Rote. Dan pemprov NTT boleh berbangga dengannya. Akan tetapi dalam euforia kebanggan itu, hadir pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik hati: bagaimana dengan pariwisata Timor? Atau dengan kata lain, dimana peran potensi wisata pulau Timor?

Benarkah Timor yang terdiri dari beberapa kabupaten (Kupang, TTS, TTU, Belu, Malaka) tidak memiliki pariwisata? Ataukah memang potensi-potensi itu belum dimaksimalkan, hingga pulau lain (dalam NTT) bahkan dobel juara. Apa kontribusi pulau ini, nihil? Hanya untuk meraih dan menjadi wisata yang popular kebersihannya saja pun tidak mampu. Ajang pariwisata nasional memang mengangkat nama nusa ini, namun disatu sisi adalah sebuah tamparan telak untuk pemerintah propinsi (Pemprop) dan Pemkot/Pemkab yang ada di pulau cendana ini. Kalau demikian, siapa lagi yang bertanggung jawab?

Minimnya Gairah Pemerintah

Ada beberapa potensi wisata Timor, sebut saja; pantai, ritual dan juga situs-situs budaya yang sebenarnya sudah harus dimaksimalkan sebagai destinasi baru. Pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten harusnya melek mata dan akal, bahwa sektor pariwisata di pulau ini cukup menjanjikan. Ia lebih punya masa depan dibandingkan industri manufaktur, anggur merah dan lain-lain. Tinggal saja bagaimana pintar-pintarnya pemda meminta dukungan atau bekerja sama dengan kementrian pariwisata (Kemenpar). Bisa lebih kreatif ciptakan satu wadah seperti “Timor Cultural Wave” (TCW), sebagai media untuk mengenalkan berbagai kekayaan alam, budaya, man made (atraksi), di NTT khususnya daerah-daerah di pulau Timor ini.

Untuk bisa menggenjotnya, dibutuhkan sinergitas yang aktif diantara pemkab masing-masing dan masyarakatnya. TCW bisa dijadikan kegiatan tahunan. Di sana, semuanya dipertontonkan sekaligus dipasarkan pada pegiat atau pengunjungnya. Apalagi pulau ini dikenal sebagai bekas tempat jajahan bangsa Portugis dan Belanda. Sejarahnya akan sangat menarik dan memiliki nilai jual tinggi di level internasional, jika saja pemerintah berniat dan lebih bersemangat dalam menata dan meramunya.*

Komentar