oleh

PILGUB NTT : Kutak-Katik Pemain di Injury Time

-Opini-1.163 views

Oleh : Petrus Plarintus

Geliat politik mulai mengerucut. Beberapa kontestan yang selama ini bermanuver ke berbagai pihak kini mulai berhitung mundur. Ada yang terlihat sumringah karena sudah melihat secercah harapan di depan mata. Namun ada juga kontestan yang terpaksa gigit jari lantaran merasa ditinggal kereta; karena kendaraan politik yang selama ini ditumpanginya; seakan ingkar janji. Namun lebih memprihatinkan lagi, karena ada penumpang gelap yang hingga kini masih berusaha mencari tumpangan.

Ternyata hitungan politik sama rumitnya dengan hitungan matematika. Namun dalam perkara kepastian, keduanya bisa bertolak belakang. Matematika bisa dibilang sebagai ilmu pasti, namun politik bisa dibilang sebagai ilmu paling tidak pasti. Matematika merupakan ilmu yang tersusun secara beraturan, logis dan berjenjang namun dalam politik semua aturan bisa ditabrak, dikangkangi dan bahkan tidak memakai logika; terutama dalam konteks menjaring para kontestan dalam pemilu. Panorama ini jelas terlihat dalam kontestasi politik menjelang pilkada dan pilgub NTT tahun 2018.

Realitas politik seperti ini disatu sisi tidak hanya merupakan gambaran dari pragmatisme dan oportunisme yang berkembang dalam etalase politik di bumi Flobamoratas; namun jauh lebih memprihatinkan daripada fakta tersebut adalah bahwa politik kita telah kehilangan marwahnya. Check point-nya adalah kita seakan sangat kesulitan ketika harus membuat daftar politisi yang aspiratif dan mendapat kepercayaan besar dari masyarakat.

Begitu juga dengan kontestan dalam pilbup dan pilgub; tidak ada yang sangat spesial dan menonjol. Belum lagi peran partai politik yang menyerupai macan ompong karena tidak berani secara terang-terangan memberikan kriteria dalam proses kontestasi sekaligus melengkapi kader terbaik andalannya dengan amunisi secukupnya untuk fight dalam proses pemilihan kepala daerah.

Tragisnya lagi, sepertinya proses kaderisasi itu hanya sebatas wacana sehingga sebagian besar figur yang ditawarkan standarnya hanya rata net. Bahkan partai sendiri tidak yakin dengan kader yang disusungnya sendiri. Tidak ada strong point untuk dijadikan sebagai senjata pemungkas.

Sekalipun praksis politik kian memprihatinkan karena ulah politisi dan partai yang sering mencederai nurani rakyat; namun the show must go on. Pemilukada dan pilgub sudah di depan mata dan itu harus dieksekusi. Apalagi proses politik di tahun 2018 merupakan barometer terhadap eksistensi politisi dan partai dalam hajatan politik di tahun 2019. Itu berarti partai politik harus segera membuka mata untuk berinvestasi secara baik dan benar untuk memastikan eksistensinya di tahun 2019.

Tantangan terberatnya adalah partai yang saat ini sedang leading di bumi Flobamoratas; apakah ia akan tetap bertahan hingga pileg 2019; ataukah terhempas setelah terkenal. Untuk tetap bertahan di tahun 2019, maka keywords-nya adalah: soliditas. Hal ini karena pecah kongsi bisa berlanjut dengan pecah kapal. Dan kapal pecah, ujung-ujungnya hanya menjadi kapal karam. Sulit untuk kembali berlayar.

Tentu tak ada satu partai pun yang mau menjadi kapal karam. Karena itu perlu segera dibangun konsolidasi dan soliditas partai; terutama partai yang menjadi leading di NTT saat ini. Salah mendaratkan pilihan dalam pemilu eksekutif di tahun 2018, bisa berefek buruk dalam pileg 2019. Apalagi jarak antara kedua hajatan ini cukup dekat waktunya.

Dengan adanya manuver Iban Medah dari Golkar ke Hanura, indikasi pecah kongsi mulai nampak. Giliran berikutnya adalah partai besar lain yang hingga kini belum mengumumkan jagoannya di pilgub 2018. Apakah juga akan pecah kongsi atau akan menjadi team kuda hitam.

Partai Nasdem; sesuai informasi yang berkembang, akan segera melakukan deklarasi paket calonnya. Itu berarti dari kontestan yang ada sudah semakin mengerucut. Ini bisa menjadi keuntungan sekaligus kerugian bagi partai yang terlambat menentukan paket calon.

PDIP, Demokrat dan Poros Baru bisa saja sedang melakukan kocok ulang para kontestan. Bisa jadi, proses kocok ulang kontestan setelah deklarasi paket Nasdem-Golkar, dapat menghasilkan paket kuda hitam. Namun bisa juga kocok ulang ini tidak memberikan dampak apapun. Maka bersiaplah masyarakat NTT untuk menerima gubernur baru NTT “apa adanya” dan bukan “ada apanya”.

Mari kita bersama menanti sambil berharap para grand master mengutak-atik dan berhasil meloloskan kuda hitamnya.

 

Komentar

Jangan Lewatkan