oleh

Diplomasi Politik Sarung Viktor Bungtilu Laiskodat

-Opini-1.831 views

Kebiasaan Bung Viktor B. Laiskodat mengenakan sarung dalam safari poltik mengingatkan saya pada Presiden Joko Widodo. Pada awal tahun lalu, Minggu (8/1), Jokowi membuat heboh jagad media sosial Tanah Air lantaran Sarung.

Dengan mengenakan Sarung Jokowi memberi salam kepada angota TNI sesaat sebelum menaiki tangga pesawat menuju Pekalongan. Saat itu Sang Presiden hendak mengunjungi Habib Lutfi bin Yahya, mursyid tarekat di Jamaah Nahdatul Ulama dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhhamad, SAW.

Tidak berhenti di situ. diplomasi Sarung ala Jokowi membangkitkan memori saya pada beberapa peritiwa lain terkait Sarung.

Pertama, tahun 1986 saat pertama kali meminggalkan Flores, di atas pesawat, saya menjumpai seorang Bapak asal Maumere yang mengenakan Sarung hitam hasil tenun khas dari wilayah itu.

Saya tidak sempat berkenalan dengan beliau, namun dari percakapan dengan orang di sampingnya diketahui kalau bapak ini adalah warga diaspora Flobamora (Flores, Sumba, Timor dan Alor, sebutan lain untuk NTT) yang bekerja di Batam. Sebuah penampilan yang penuh percaya diri.

Kedua, tahun 2001, saat bertamu di biara SVD Sant. Agustin, Bonn, Jerman. Ketika itu secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang aktivis msyarakat adat dari Kampung Rendu. Nagekeo, NTT. Namanya Vincent Sina (almarhum).

Dengan mengenakan sarung Mbay (Flores), dia mengelilingi sejumlah kota di Eropa. Lebih memukau lagi, Vincent tidak sekalipun mengenakan alas kaki . Dan, dari informasi sejumlah sahabat, kebiasaan seperti itu tetap dipertahankan saat Vincent terpilih sebagai anggota DPRD Ngada/Flores (saat itu Nagekeo masih bergabung dengan Ngada). Dia keluar masuk ruang sidang dengan mengenakan sarung. Penampilan penuh percaya diri kendati menuai olok-olokan dari sebagian masyarakat.

Ketiga, saat mengunjungi Yangon, Ibukota Myamar (dulu Birma) pada awal Juni 2015. Di sanalah saya menjumpai kalau sarung bukan hanya pakaian masyarakat umum kelas bawah, tetapi balutan resmi di kantor pemerintahan dan swasta.

Sebuah pemandangan yang mirip dengan keadaan masyarakat di NTT. Hanya saja di NTT, sarung adalah milik masyatakat pedesaan, orang kebanyakan dan hanya dikenakan dalam situasi infornal dan upacara-upacara ritual adat. Sedangkan pada aktivitas perkantoran dan acara formil lainnya, orang NTT masih terbiasa mengenakan pakaian modern.

Di sejumlah kabupaten sebenarnya sudah mulai menggunakan kain tenun berupa baju pada hari-hari kerja tertentu dalam sepekan. Hanya saja, saya belum pernah menjumpai (koreksi kalau saya keliru) seorang Bupati, Gubernur atau Pejabat lain di NTT yang mengenakan sarung saat bertugas resmi di kantor.

Maka adalah sebuah pemandangan yang menakjubkan, terutama bagi saya, ketika melihat foto-foto Bung Viktor Laiskodat, salah satu Calon Gubermur, mengenakan sarung saat berbicara di depan Komunitas Para Pastor di Ledalero (Maumere/Flores).

Dalam berbagai kesempatan sosialisasi di sejumlah tempat di NTT, Viktor memang tanpa ragu-ragu membiasakan diri mengenakan sarung. Namun, situasi di depan para pastor kian menegaskan hal itu.

Saya lalu membayangkan andaikan Tuhan merestui beliau menjadi Gubernur NTT dan kebiasaan ini dipertahankan, maka akan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk lebih berani dan sering memakai sarung dalam berbagai kesempatan formil.

Kebiasaan seperti ini tidak sekadar menghormati budaya dan mengarisbawahi identitas kultural, namun secara signifikan akan meningkatkan nilai ekonomis tenun ikat NTT. Produksi kain tenun akan meningkat karena makin banyak orang yang membeli kain-kain tenun ikat tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebenarnya sudah sejak istri Bung Viktor, Ibu Julie Sutrisno Laskodat melalui butiknya Levico, sudah mempromosikan kain tenun ikat melalui kemasan yang cantik sehingga layak dikenakan para pejabat dan tokoh publkk di Tanah Air.

Sebuah bukti bahwa kerja sederhana dan tekun Julie Laskodat ditambah diplomasi politik Viktor akan kian mengangkat derajat kain tenun dan para penenunnya.

Dan apabila inspirasi ini menular dalam sebuah kebiasaan yang masif, maka menjadi semacam gerakan swadeshi, semangat yang diserukan oleh tokoh perjuangan kemerdekaan India. Mahatma Gandhi, agar masyarakat hidup dari kekuatan dan produksi sendiri. Semoga. (*)

Komentar