oleh

Eropa Ada MotorGP, Kami di Kabupaten Malaka NTT Ada ‘TraktorGP’

-Opini-1.643 views

Opini oleh: Fridus Baurae
Tokoh Mudah Asli Malaka

RADARNTT, Opini, Demi menyukseskan Revolusi Pertanian Malaka (RPM), awal tahun ini (2017), pemerintah kabupaten(Pemkab) Malaka Nusa Tenggara Timur(NTT)mendapat bantuan 57 unit traktor roda empat. Dengan rincian, 25 unit dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia dan 32 unit dari Pemkab Malaka. Dukungan menteri pertanian begitu besar, karena RPM ini sejalan dengan program pemerintah pusat (Jokowi – Revolusi Pertanian) yang bertujuan selain untuk memperluas olahan lahan kering, juga untuk meningkatkan mutu dan penghasilan masyarakat setempat.

Terkait program Bupati Malaka, Stef Bria Seran, mari sejenak kita flashback ke masa 3 tahun lalu (2015-2017) semenjak  RPM bergulir, hampir 100% gagal panen. Pertanyaannya, mengapa bisa gagal? Bukankah RPM telah menelan biaya yang cukup besar? Apa karena masyarakatnya malas? Atau memang karena program itu belum benar-benar matang dan menyentuh mental masyarakat Malaka? Atau mungkin, kurangnya sinergitas pejabat dan petani? Bila demikian, Bapak Presiden sering-seringlah bertolak lebih dalam (duc in altum) ke daerah-daerah, mendisiplinkan mental pemimpin serta memantau anggaran belanja keuangannya (adakah transparansi birokrasi di daerah?).

Celoteh lepas mengatakan, “Ada sebagian masyarakat setelah lahan diolah dan ditanam, semangat untuk merawat berkurang dan curah hujan juga tidak maksimal, sebaliknya hujan yang berlebihan mengakibatkan banjir yang merusaki lahan petani, sehingga gagal panen”. Ini seperti kata-kata cuci tangan, sebuah mekanisme pembersihan diri. Mengapa? Sebab jika program RPM benar-benar matang, maka para ahli dan pencetus RPM sudah sejak awal menyiasati kondisi alam (cuaca) dan mentalitas masyarakatnya. 

Nah, lalu mengapa ketika gagal panen, dengan seenak mulut menyalahkan pihak lain? Sementara di satu sisi, pupuk bersubsidi di lapangan, jumlahnya sangat terbatas. Sesuai SK jumlahnya hanya 900 ton. Sehingga diduga kuat yang mendapatkan pupuk itu hanya petani-petani ‘satu arah.’

Ragam Komentar Terkait Dua Tahun RPM Gagal Panen 

“Nasib RPM…traktor tambah terus tapi hasil NOL BESAR” (status Ipi Klau di Grup Faceook, Pilkada Malaka, 22/05/2017). Terkait status itu, netizen yang merasa memiliki Malaka, mempertanyakan hasil dari revolusi SBS-DA, seperti kata Linus Frido, “hasilnya yang traktor banyak-banyak, nama program revolusi pertanian tetapi gagal tanam, sukses hanya di pengadaan.” 

Artinya, bahwa biaya besar terbuang percuma. Gagal panen seperti ini, sia-sia. Jangankan 57, 1000 unit traktor pun hanya akan menghabiskan uang Negara, andai asal jadi dan terburu-buru ibaratnya ‘ejakulasi dini.’ 

Roy Bria mengatakan, “pemerintah su kasih bantu balik lahan, dibiarkan tidak pernah dibersihkan, bantu benih, pupuk, obat-obatan, traktor tangan, pompa air, rontok tapi kebanyakan salah sasaran juga, karena ada kepentingan dalam pembagian bantuan-bantuan itu. Intinya masih terbawa politik pilkada kali lalu. Ini kenyataan di lapangan. RPM juga kurang disosialisasikan kepada masyarakat petani. PPL itu kurang kerja.” 

Pertanyaan, mengapa banyak yang menulis status dan berkomentar yang cukup ‘keras’ demikian? Karena rasa peduli dan prihatinnya terhadap nasib pertanian Malaka? Aatau karena rasa dendam politik terhadap pemerintah SBS-DA, sehingga ditanggap tegas oleh Syprianus Manek Asa (SMA), bahwa postingan Ipi sangat tidak berdasar. SMA meminta Ipi untuk membeberkan hasil kajiannya agar bisa sampai pada kesimpulannya dan bermuara pada pernyataannya di grup facebook. 

“Mungkin juga baik, mohon bantuan kaka Syprianus Manek Asa membeberkan kesuksesan RPM agar bisa menhkounter info-info tidak berdasar demikian. Kita tidak disajikan fakta dan angka yg membuat semua kita hidup dalam rumor dan prasangka.” urai saudara Herman Seran (HS), menanggapi pernyataan SMA. 

Bukannya menjawabi, saudara SMA justru keluar dari jalur diskusi, melenceng dari pertanyaan HS. Jawabannya, bahwa postingan Ipi sangat melecehkan wibawa pemerintah dan atau orang per orangan. Karenanya, ia meminta Admin Grup Pilkada Malaka 2015 untuk menghapus keanggotaan oknum-oknum yang menyerang pemerintahan SBS-DA. 

SMA bukan lagi menjawabi HS malah balik menuduh IK sebagai oknum yang melecehkan wibawa SBS-DA. Sengaja ataupun tidak, SMA jelas-jelas tidak mampu menyajikan fakta dan angka dari program RPM. Tanggapannya, bak lain gatal, lain garuknya. Gatal di mulut, garuknya di testa. Diharapkan tetap waras. 

Yo Kenedy Bere (YKB) ikut meminta SMA menampilkan data keberhasilan RPM di desa Sanleo dan Numponi sebagai mantan pejabat di dua desa tersebut. Sehingga menurut YKB, SMA bisa membantah postingan-postingan yang mengkritisi RPM pemerintah. “kalau RPM hanya pamer traktor dan balik tanah, bisa saja saudara Ipi Klau yang benar.” kata Kenedy. 

“Minta supaya omong pake data, lah data2 keberhasilan RPM diminta untuk dipublikasikan sampai saat ini hanya pajang traktor. Semua kritik thd RPM tujuannya supaya jangan gagal lagi, haruskah masyarakat diam?” tambah Sang Alang. Ia meminta SMA untuk memosting data Revolusi Pertanian tahun 2016 dan 2017 dari dokumen ilmiah RPM, biar masyarakat tahu persis seperti apa program kerja yang katanya dikaji dan disusun oleh pakar-pakar pertanian. Panen bukannya meningkat malah gagal beruntun? 

Evaluasi Kritis

Mengingat sudah dua kali berturut-turut gagal panen, tentu ada yang salah. Lantas, adakah langkah pemerintah mengadakan evaluasi kritis untuk target tahun ini? Sebab, menyuarakan sebuah revolusi tidak sebatas menggerakan bibir. Butuh rencana dan pendampingan yang profesional kepada para petani. Mindset masyarakat tradisional perlu dituntun perlahan. Jika disuruh jalan secara buru-buru masuk ke dalam sebuah ‘kandang’ yang baru, itu seperti memaksa sebatang kayu keras yang bengkok jadi lurus.

Sejalan dengan sebuah kalimat yang seringkali diremehkan orang. Jika ada pakar pertanian yang bicara tentang “pertanian”, maka dia akan  disalahkan oleh mereka yang tidak paham pertanian. Bahkan tak jarang ucapan-ucapan pakar RPM mendapatkan tawa sinis. Padahal, seseorang yang benar-benar memahami ilmu pertanian tentu tahu, bahwa yang menyalahkan pendapatnya 100% adalah orang-orang yang tidak paham ilmu pertanian.

Karena itu, hal pertama yang dilakukan adalah mencuci otak mereka (sosialisasi berkala) agar masyarakat sungguh-sungguh tahu tentang ‘kandang baru’ tersebut. Cara berpikir dan bertani masyarakat mesti ditata dahulu biar tidak gagal paham. Langkah selanjutnya baru tahap praktek kerja dengan pengadaan sarana seperti traktor, pupuk, bibit dan lain-lain. 

Kedua, pemerintah harus berjiwa besar untuk transparan terkait kegiatan teknis dan pengelolaan anggaran program RPM. Jangan sampai dari tahun ke tahun tidak ada hasil yang luar biasa namun anggaran terus diminta tambah. Seperti yang dikatakan Yulius Krisantus Seran (anggota DPRD Malaka), untuk bawang dianggarkan 5 Milyar, pemerintah minta tambah menjadi 12 Miliyar untuk tahun anggaran 2018.

Singkatnya, RPM mesti diarahkan lewat grand design yang matang lewat riset sebelum percaya diri mengajak masyarakat untuk bekerja mencapai golden goals-nya. Sehingga, orang kerja dengan tujuan dan pengertian yang benar tentang visi dan misi pemerintah agar tidak sampai terjadi seperti yang ditulis Ipi Klau. Senangnya, pajang traktor berjejer dengan warna dan jokinya masing-masing tapi kasihan, lupa pamer master plan dan hasilnya. Ironis bukan?

Begitulah adanya ‘sirkuit balapan’ RPM. Wajar jika Viytho Bria menulis di status facebooknya, “Klo di eropa ada motor GP, maka kami di Malaka ada traktorGP…”(27/05/2017). Ini menampar, sungguh! (***)

Komentar