oleh

Irjen Pol. Raja Erizman Harus Menghentikan Proses Penghancuran Idealisme Mahasiswa PMKRI di Manggarai

-Opini-1.080 views

Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) sangat menyesalkan peristiwa pemukulan terhadap aktivis Mahasiswa PMKRI Manggarai yang terjadi pada tanggal 7 Januari 2018 dini hari, karena pemukulan yang dilkukan pada dini hari, tepatnya pada pkl 01.00 yang menimpa Mahasiswa PMKRI Cabang Manggarai itu sudah masuk kategori pelanggaran hukum yang dikualifikasi sebagai kejahatan penganiayaan. Yang jadi soal besar adalah tindakan oknum pelakunya diduga bertujuan untuk “membunuh” Idealisme Mahasiswa PMKRI, diduga berasal dari institusi Polri, yang dalam bertindak seharusnya tetap berpegang teguh atas dasar hukum, bersifat melindungi dan dengan tetap menjunjung tinggi hukum dan HAM seseorang. 

Sikap anggota Polisi yang berbalik bertindak brutal berdasarkan dendam dan telah membawa korban pada anak muda Mahasiswa PMKRI yang penuh idealisme harus dipandang sebagai ada niat untuk membunuh idealisme yang sangat kuat dimiliki oleh Mahasiswa PMKRI, yang hingga saat ini masih tetap konsisten berjuang menuntut perbaikan pelayanan Penegakan Hukum, Keadilan dan Kebenaran, sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam penegakan hukum. Sebuah sikap yang sudah langka dimiliki oleh generasi muda saat ini, karena dimakan oleh sikap pragmatisme yang melanda sebagaian besar anak bangsa termasuk diinternal Polri, tetapi masih kuat dimiliki oleh PMKRI.

Padahal dua kasus sebelumnya berupa pengniayaan terhadap Mahasiswa PMKRI Cabang Manggarai pada tanggal 9 Desember 2017 oleh oknum Polres Manggarai dan kasus OTT Propam Polda NTT terhadap Iptu Aldo Febrianto, Kasatreskrim Polres Manggarai, belum ditangani dan dipertanggungjawabkan secara hukum, kini muncul lagi kejadian yang sama yaitu penganiayaan terhadap Mahasiswa PMKRI Cabang Manggarai yang terjadi pada tanggal 7 Januari 2018 dini hari, tepatnya pukul 01,00 wita., dimana Warga Masyarakat Manggarai Seharusnya mendapatkan perlindungan dari Polisi pada dini hari itu dari segala aktivitas yang sah, tetapi malah mendapat perlakuan keji dianiaya oleh Oknum yang diduga anggota Polres Menggarai.

Peristiwa penganiayaan ini jelas telah membuat noda hitam dalam karir profesi mantan Kapolres Manggarai Marselis S. Karong, yang baru saja dimutasi dan akan menjadi kampanye buruk dalam Pilkada, karena Marselis S. Karong akan menjadi calon Bupati Manggarai Timur, sekaligus memberi beban psikologis kepada Kapolda NTT yang baru Irjen Pol. Raja Erizman, karena peristiwa ini telah menghadapkan Institusi Polri di satu pihak dan Institusi PMKRI serta Masyarakat Manggarai di pihak lain secara head to head mengenai tuntutan terhadap Polres Manggarai untuk tetap konsisten melakukan Pemberantasan Korupsi dan Pungli yang marak terjadi di internal Polres Manggarai. 

Sikal oknum Polres Manggarai terhadap Mahasiswa PMKRI Cabang Manggarai, merupakan potret wajah Polri yang buruk di mata masyarakat NTT, karena dalam banyak kasus ketika menghadapi aksi Mahasiswa PMKRI dalam Isu tentang Pemberantasan Korupsi, Polisi selalu hadapi dengan perilaku represif dan melanggar hukum. Padahal UU, Perkap dan Pimpinan Polri dengan tegas melarang keras sikap represif dari petugas Polri terhadap aksi unjuk rasa. Karena itu sangat beralasan jika sikap represif oknum Polri terhadap aksi Mahasiswa PMKRI Ini dipandang sebagai cara sistemik  untuk menghancurkan idealisme anak muda PMKRI Cabang Ruteng, calon pemimpin masa depan bangsa oleh oknum-oknum dari Institusi Negara yang terhormat dan untuk kepentingan siapa. 

Karena itu TPDI meminta agar Pimpinan Pusat PMKRI di Jakarta segera melakukan dialog dengan KAPOLRI, meminta agar KAPOLRI segera menata kembali pola penindakan dan pengamanan unjuk rasa di NTT yang dalam banyak peristiwa aksi damai, selalu dihadapi dengan cara kekerasan oleh hampir semua oknum Polisi di semua daerah di NTT. Pertanyaannya adalah apa yang salah dengan PMKRI ketika aktivitas anak muda yang penuh idealisme itu dilaksanakan secara proporsional dan prosedural  demi perbaikan kinerja Polisi dalam pelayanan publik, mengapa Polres Manggarai menghadapinya dengan cara-cara represif, menganiaya dan teror mental berdasarkan dendam.

Peristiwa pemukulan yang terjadi pada tanggal 7 Januari 2018 dini hari itu, meskipun belum jelas betul siapa pelakunya, namun demikian sekiranya peristiwa pemukulan ini benar-benar dilakukan oleh Oknum Polres Manggarai, maka hal ini diduga kuat masih ada hubungannya dengan aksi demo Mahasiswa PMKRI Manggarai pada tanggal 9 Desember 2017 saat Peringatan Hari Anti Korupsi dan disusul dengan adanya OTT Propam Polda NTT terhadap Aldo Febrianto, Kasatreskrim Polres Manggarai yang diduga melakukan pemerasan dan/atau pungli terhadap masyarakat Manggarai. 

Penanganan kasus pemerasan yang diduga dilakukan Iptu Aldo Febrianto yang terjadi pada tanggal 11 Desember 2017 yang lalu dan di OTT oleh Propam Polda NTT dan aksi penganiayaan terhadap beberapa orang Mahasiswa PMKRI pada aksi damai di depan Kantor Polres Manggarai tanggal 9 Desember 2017, oleh beberapa oknum Polres Manggarai sebagaimana penganiayaan dimaksud telah dilaporkan ke Polres Manggarai, namun hingga saat ini dibiarkan ngambang, bahkan disusul dengan kejadian penganiayaan pada tanggal 7 Januari 2018 pukul 01.00 dini hari. Ini akan menjadi pekerjan rumah Kapolda NTT yang baru Irjen Pol. Raja Erizman. Selamat mengabdi Pak Kapolda Irjen Pol. Raja Erizman, TPDI mendukung tugas Bapak di NTT semoga sukses.

(Penulis adalah Koordinator TPDI dan Advokat PERADI)

Komentar