oleh

Ironi Sagu

-Opini-1.643 views

Organisasi Pangan Dunia (FAO) mengingatkan bahwa produksi pangan dunia harus meningkat 60 persen pada tahun 2050. Saat itu, jumlah penduduk diperkirakan 9,3 miliar orang dibandingkan saat ini 7,7 miliar jiwa (FAO, 2015).

Laju pertumbuhan penduduk menjadi tantangan karena produksi pangan stagnan, bahkan cenderung turun. Pada tingkat global, juga nasional, produksi pangan dihadapkan pada berbagai persoalan besar. Di antaranya, semakin terbatasnya lahan dan air untuk pertanian, erosi dan intrusi air laut, serta perubahan iklim yang memicu ledakan hama dan mengacaukan budidaya.

Dalam kesuraman ini, Indonesia, tepatnya Papua, menyimpan jawaban bagi pemenuhan pangan global, setidaknya pangan nasional. Tahun 2050 penduduk Indonesia diperkirakan 366 juta jiwa, bandingkan dengan populasi saat ini 263 juta jiwa.

Isao Nagato, pendiri the Japan Fund for the Sago Palm Research Promotion, termasuk yang meyakini bahwa sagu (Metroxylon sagu) bisa menjawab krisis pangan ke depan. Jepang kini memimpin kajian tentang sagu, sekalipun tanaman ini sulit ditumbuhkan secara alami di negeri subtropis ini.

Nagato lulusan Tokyo University of Agriculture and Technology. Ia mengenal sagu saat menjadi staf Nangoku Industrial Company Ltd di Jawa tahun 1920-an. Dia mengelola aneka jenis tanaman tropis dari kopi, kakao, hingga karet di Jawa selama 20 tahun. Namun, Nagato jatuh cinta pada sagu. Dia mengenalkan sagu ke pasar Jepang 20 tahun lalu dan tiap tahun negeri ini mengimpor 2.000 ton sagu dari Malaysia dan Indonesia.

Keunggulan sagu sebagai sumber pangan masa depan dirangkum dalam buku Sago Palm: Multiple Contributions to Food Security and Sustainable Livelihood, terbitan Springer tahun 2018. Inilah kumpulan paper ilmiah 78 ahli sagu dalam Simposium Internasional Sagu ke-12 tahun 2015 di Tokyo.

Sagu mampu tumbuh di rawa-rawa dan lahan gambut, ketika tanaman lain tidak bisa tumbuh. Sagu juga memiliki produktivitas sangat tinggi, 150-300 kilogram tepung sagu per tanaman. Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 30 juta ton padi, dibutuhkan sawah 12 juta hektar. Untuk hasil sama, hanya dibutuhkan 1 juta hektar lahan sagu. Sagu juga bisa diolah menjadi gula cair.

Data dari Mochammad Hasjim Bintoro, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, luasan sagu di Indonesia saat ini 5,2 juta hektar, lebih dari 60 persen cadangan sagu global. Lahan sagu 4,7 juta ha terdapat di Papua dan 0,5 juta ha di Papua Barat. Sisanya di Maluku, Kepulauan Riau, dan Mentawai.

Sebagian besar tanaman sagu di Papua yang saat ini siap panen dibiarkan di alam sehingga terancam mati sia-sia. Ironisnya, sebagian besar sagu berada di Kabupaten Asmat, yang baru-baru dilanda bencana kesehatan dan gizi buruk.

Padahal sagu sebenarnya merupakan salah satu makanan tertua di Nusantara, jauh sebelum beras, jagung, atau singkong. Sagu merupakan tanaman endemis Asia Tenggara yang jejaknya bisa ditemukan di Thailand sebagai sa khu, di Myanmar disebut sa kuu, dan Filipina disebut sago. Artinya, sagu jadi sumber pangan amat awal di kawasan ini, di era transisi dari berburu dan meramu, sebelum mengenal pertanian 10.000 tahun lalu.

Beberapa kajian menunjukkan, komposisi pangan yang paling sehat untuk manusia modern adalah yang dimakan nenek moyang kita di era berburu dan meramu, misalnya dalam buku Paleo Diet dari Loren Cordain (2002). Dalam buku ini, kemunculan penyakit seperti diabetes, jantung, darah tinggi, hingga kanker terjadi seiring perubahan pola makan yang didominasi karbohidrat dari biji-bijian, gula, dan lemak jenuh.

Sekalipun saat ini sagu lebih banyak ditemui di Papua, Maluku, dan Sumatera, di masa lalu tanaman ini tersebar luas, termasuk di Jawa. Survei terakhir oleh Nadirman Haska dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1982 menyebutkan, luas lahan sagu di Jawa Barat tinggal 292 ha. Sementara kajian dari Haryadi (2004), hingga tahun 2002, sagu masih dibudidayakan di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dengan sebutan kersulu atau ambulung.

Jauh sebelum mengenal beras, orang Jawa pemakan sagu. Pemakaian kata sega dalam bahasa Jawa untuk menyebut nasi, menurut JB Ave (1977) berasal dari sagu. Di Jawa Barat, nasi disebut sangu. Menurut Haska, akar kata itu juga dari sagu. Dalam bahasa Jawa, sangu ialah bekal. Mengacu K Tan (1980), olahan sagu kering dibentuk bulatan kecil jadi bekal utama bepergian, disebut sangu. Jejak sagu juga terlihat dari banyaknya temuan cetakan sagu—sejenis farno dari Maluku—dalam situs-situs arkeologis di Cirebon dan Banten (Sonny Wibisono, 2018).

Sebagai salah satu sumber pangan potensial, sagu tak seharusnya disingkirkan dengan kebijakan bias beras seperti sekarang. Sagu harus dipertahankan di masyarakat yang masih mengonsumsinya dan secara lingkungan cocok dikembangkan. Pencetakan sawah-sawah baru di area ekologi dan budaya sagu, seperti Papua, sebaiknya tidak dilanjutkan.

Sagu saja jelas tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan pangan global. Kuncinya adalah kembali pada konsep keragaman pangan. Dalam sejarah manusia terdapat 7.000 jenis tanaman yang dibudidayakan untuk konsumsi. Keberagaman pangan ini membantu manusia melewati berbagai perubahan lingkungan.

Namun saat ini hanya ada sekitar 30 jenis tanaman pangan yang dibudidayakan untuk memenuhi 95 persen kebutuhan pangan global. Empat di antaranya beras, gandum, jagung, dan kentang, menyumbang 60 persen pasokan pangan.

Keseragaman pangan hanya berisiko menimbulkan bencana, terutama jika terjadi kegagalan panen pada pangan utama.

Komentar