oleh

Ketika Pilkada Beraroma Pilpres

-Opini-730 views

Musim panas yang mulai menerjang Flobamorata, seiring pula dengan panasnya suasana politik menjelang Pilkada di NTT 2018.

Kalau tibanya musim panas adalah fenomena alam tahunan yang bisa menimbulkan wabah berbagai penyakit; maka panasnya suasana politik yang merupakan siklus lima tahunan ini tidak saja mengancam rusaknya tatanan sosial, politik dan agama tetapi lebih daripada itu bisa mendegradasi nilai-nilai luhur yang dijunjung dan dipegang selama ini.

Inilah fakta yang tremendum et fascinosum (menarik sekaligus menakutkan). Menarik untuk direfleksikan tetapi sekaligus menakutkan bila membiarkan dinamika ini berlalu begitu saja sambil mencabik-cabik tatanan sosial yang sudah sekian lama dibangun namun kini diporakporandakan oleh kepentingan politik sesaat.

Hal yang menarik untuk direfleksikan adalah ketika setahun yang lalu dimana terjadi Pilgub di DKI dimana agama telah dijadikan sebagai alat propaganda politik dan nampaknya efektif karena berhasil menumbangkan Ahok pada putaran kedua. Semua orang di DKI pada waktu itu tentu tahu bahwa gubernur adalah jabatan politis, namun sebagian orang menyadari bahwa propaganda agama adalah cara paling efektif dikala itu untuk mencapai tujuan politis.

Maka jadilah agama sebagai tunggangan paling menarik untuk mencapai tujuan politik. Agama yang seharusnya menempati strata tertentu dalam relasi sosial, justru dijadikan alat propaganda politik demi merebut kekuasaan. Nilai sakralitas agama menjadi terpuruk diterjang oleh arus sekularisme dan pragmatisme dalam politik kekuasaan.

Dan entah disadari atau tidak, kondisi yang sama sedang menggerogoti dinamika politik dalam Pilkada di NTT dimana agama sedang dijadikan sebagai sarana propaganda politik. Hal yang ketika terjadi di DKI kita kritisi, namun kini kita lakoni karena ambisi kekuasaan telah menumpulkan nurani dan logika kita.

Selanjutnya terserah masyarakat Flobamora: apakah membiarkan agamanya dijadikan tunggangan politik untuk merebut kekuasaan; atau pada saat yang sama mau menjadikan diri sebagai tiang pancung untuk menegakan demokrasi sambil membebaskan diri dari pragmatisme dan oportunisme yang sudah menjadi penyakit menahun demokrasi; dimana isu agama sering dimafaatkan untuk memancing di air keruh.

Selain karena ambisi untuk merebut kekuasaan, panasnya dinamika politik dalam pilkada kali ini juga disebabkan pula oleh strategisnya hajatan politik ini menjelang Pilpres 2019.

Tak dapat disangkal lagi bahwa dinamika politik menjelang Pilpres 2019 sudah mulai menggeliat dan cukup ramai menghiasi pemberitaan di media massa. Para petinggi partai cukup giat dalam melakukan silaturahim antar pengurus partai dan tak ketinggalan aksi tebar pesona senantiasa mengisi lembaran pemberitaan media massa. Berita paling anyar adalah menyangkut pertemuan beberapa elit politik dengan sempalan FPI Habib Rizieq di tanah suci.

Konstelasi politik ini terus memanas sejak gerakan: 2019 ganti presiden, sementara kelompok yang lain tetap pada prinsip 2019 tetap Jokowi. Konstelasi dan manuver politik ini tak akan surut tensinya, bahkan akan semakin meningkat sekalipun pilkada Bupati dan Gubernur di NTT telah usai.

Maka tak dapat dipungkiri bahwa partai dan paket yang menang dalam Pilkada di NTT 2018 akan turut berkontribusi dalam pemenangan Pilpres 2019. Hal ini berarti pemenang dalam kontestasi Pilkada di NTT 2018 ini akan memberikan sinyal kuat bagi kemenangan partai dan paket Pilpres tahun 2019.

Kita perlu tetap waspada agar bangunan negara kesatuan Republik Indonesia ini tetap utuh. Aksi terorisme dan kelompok radikalis harus terus diawasi dan dipersempit ruang geraknya. Jangan lagi ada kelompok yang merasa dominan dan seenaknya mencederai/membunuh saudaranya yang lain. Dan tak dapat dielak lagi, kalau masalah radikalisme sudah masuk dalam ranah politik dan menjadi isu yang seksi dalam mencari simpati masyarakat.

Kiranya rakyat Flobamorata selalu satu hati untuk menjaga NTT sebagai Nusa Teladan Toleransi, dengan tidak terjebak dalam primordialisme sempit dan pragmatisme sesat. Hal ini perlu ditunjukan dengan Pilkada NTT 2018 dimana paket-paket dari partai nasionalis dan antiradikalis harus memenangkan Pilkada dalam bulan Juni ini. Karena Pilkada ini merupakan moment strategis sekaligus parameter bagi kemenangan paket presiden tahun 2019 nanti.

Apabila pilkada 2018 ini hanya dilihat sebagai hajatan lokal belaka tanpa korelasi dengan konstelasi politik nasional, maka sesungguhnya kita telah kehilangan moment strategis dan amunisi untuk memenangkan paket Pilpres 2019.

Maka pada tanggal 27 Juni 2018 ini, masyarakat Flobamorata tidak hanya memilih Bupati dan Gubernur tapi juga sekaligus menentukan sikap dan landasan kuat bagi Presiden pilihan di tahun 2019. Semoga…!!!

 

Oleh: Petrus Plarintus

(Penulis : Pegiat Literasi Keuangan tinggal di Kupang)

Komentar