oleh

“LONTAR” nan Aduhai dan Tidak Membumi

-Opini-561 views

Oleh: Gentry Amalo

RADARNTT , Opini – Bagi warga Rote Ndao, baik yang bermukim di Pulau Rote maupun di Pulau Timor bagian Barat, pohon atau lontar (Borassus flabellifer) ibarat ibu yang memberikan kehidupan. Bagaimana tidak, dari pohon lontar ini orang Rote menghidupi diri dan keluarganya, mulai dari menyadap tuak manis, yang dapat diolah menjadi sirup gula yang dikenal dengan istilah tua (gula).

Sirup gula lontar inilah yang dikonsumsi sehari-hari saat sedang petani bekerja di sawah atau ladang hanya dengan mencampurnya dengan air putih yang dikenal dengan tua hopo. Tua ini digunakan sebagai bahan racikan bumbu saat membuat dendeng atau pun daging se’i yang merupakan makanan khas asal Rote. Dari sirup gula ini bisa diolah lagi menjadi gula lempeng atau gula semut. Tidak heran jika Prof. James J. Fox, guru besar antropologi Australian National University (ANU) menyebutkan bahwa orang Rote meminum makannya. Dari tuak manis, dapat juga diolah menjadi dua jenis minuman keras, yakni laru dan sopi. Laru adalah minuman hasil fermentasi tuak manis yang direndam bersama kayu laru dan akar-akaran tertentu, sedangkan sopi merupakan hasil pemanfaatan teknologi destilasi atau penyulingan dari rendaman laru, dan sopi ini dapat disejajarkan dengan minuman keras asal Rusia vodka.

Selain itu, orang Rote pun memanfaatkan daun lontar yang berbentuk kipas untuk beragam kebutuhan, seperti atap rumah yang disebut fi’i, wadah air yang disebut dengan haik. Demikian pula dengan rumah tradisional orang Rote pun menggunakan bebak yang adalah pelepah dari daun lontar, bahkan batang kayu lontar pun kerap digunakan sebagai bahan bangunan rumah adat. Beragam fungsi lontar inilah yang membuat pohon lontar memiliki arti penting di dalam kehidupan sehari-hari orang Rote selama berabad-abad..
Karena memiliki arti dan makna yang penting inilah, maka salahsatu pasangan kandidat Bupati dan wakil Bupati Rote Ndao, yakni Bima Fanggidae – Ernest Z.S. Pella, menggunakan nama LONT4R, sebagai nama paket yang diusung tiga partai politik yakni, Partai Gerindra, Partai Demokrat dan PAN dalam perlehatan Pilkada serentak 2018 ini. Dalam visi misinya paket LONT4R menjanjikan sebanyak 15 program kerja dalam 100 hari pertama.

Tulisan ini merupakan rangkuman diskusi terbuka hasil tanya jawab saya di group Facebook “Anak Rote Anti Korupsi” (ARAK). Dimana saya melakukan proses diskusi terbuka dengan Koordinator Tim Sukses paket LONT4R saudara Alfredo Wawan Mesah. Setidaknya ada beberapa visi misi paket LONT4R yang menggelitik isi kepala saya, yakni visi misi nomor 1, 3 dan 4.
Pada visi misi nomor 1 paket LONT4R disebutkan bahwa “.. menjamin ketersediaan pupuk bagi petani dan nelayan..”. Frase ini tentu bias makna karena dapat ditafsirkan bahwa LONT4R akan menjamin ketersediaan pupuk bagi petani dan juga nelayan. Padahal di dalam melakukan pekerjaan selaku nelayan tentu saja tidak membutuhkan pupuk, seperti halnya petani yang bekerja di sawah dan kebun. Menurut Wawan Mesah, visi misi paket LONT4R dibuat berdasarkan kajian atas dasar upaya pemenuhan “kebutuhan” masyarakat Rote Ndao yang harus diperhatikan oleh pemimpin yang melayani dan pelayan yang memimpin, agar masyarakat Rote Ndao menjadi sejahtera dan bermartabat. Karena itulah paket LONT4R menjanjikan Kartu GOTONG ROYONG PETANI & NELAYAN (disingkat GONG TANY).

Paket LONT4R menjamin ketersediaan pupuk bagi petani, alat atau sarana penunjang tangkap bagi nelayan tangkap, bibit, dll bagi nelayan budidaya, termasuk petani/nelayan Rumput laut. itulah maksudnya. Namun Wawan juga tidak menjelaskan perbedaan antara kartu GONG TANY ini dengan kartu petani dan kartu nelayan yang telah diinisiasi dan disediakan pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Berikutnya dalam visi misi nomor 3 paket LONTAR disebutkan bahwa mereka akan menyediakan lapangan pekerjaan bagi 50.000 warga pencari kerja di Rote Ndao. Tidak dijelaskan apakah 50.000 ini angka yang akan dicapai dalam 100 hari kerja atau angka selama lima tahun berkuasa.

Kemudian muncul pertanyaan, lapangan kerja seperti apa yang akan disediakan paket LONTAR di Rote Ndao ini? Jika angka 50.000 ini adalah angka selama lima tahun berkuasa maka pertanyaan berikutnya industrialisasi jenis apa yang akan dibangun untuk memenuhi 10.000 lapangan kerja setiap tahunnya selama 5 tahun LONT4R memimpin Rote Ndao, sehingga terpenuhi lima puluh ribu lapangan kerja setiap tahunnya.
Menurut Wawan Mesah, terkait 50.000 lapangan kerja tersebut jangan dipahami secara sempit bahwa lapangan kerja itu hanya di sektor formal saja seperti menjadi PNS / ASN dan Tenaga Kerja Daerah (honorer daerah), tetapi secara makro penciptaan lapangan kerja adalah memberikan edukasi atau bimbingan kepada masyarakat petani, penyadap lontar atau tuak, pemasak gula air, gula lempeng, gula semut, sehingga mereka menjadi masyarakat produktif dan mempunyai value added, sekali pun itu hanya berbasis home industri, tapi mereka mempunyai penghasilan tetap yang berkelanjutan, pada akhirnya menjadi masyarakat sadar dan wajib pajak yang memiliki NPWP, sehingga itu menjadi dasar hitung statistik terhadap angka pengangguran, yang dievaluasi berkala setiap tahun.

Apa yang dijelaskan Wawan Mesah di atas belum menjawab pertanyaan saya, dimana justru karena saya memahami visi misi LONT4R nomor 4 tersebut secara luas, sehingga saya bertanya, soal dasar perhitungan angka 50.000 pencari kerja itu, yang bagi saya adalah angka yang absurd dan tidak masuk akal, angka yang dikarang-karang yang akan dikerjakan dalam 100 hari kerja atau pun lima tahun berkuasa. Mengapa demikian karena angka lulusan SMA/SMK di Rote Ndao setiap tahunnya tidak sampai lebih dari 2000 siswa setiap tahunnya. Diantara lulusan ini sudah pasti kuliah di luar Rote atau menjadi TNI-POLRI dan mendaftar sebagai ASN, sisanya akan merantau ke Bali, Lombok, Kalimantan dan Papua sebagai pekerja di sektor perikanan tangkap, pariwisata atau pun perkebunan, artinya angka 50.000 ribu itu tidak akan pernah dicapai atau diwujudkan.

Penjelasan Wawan Mesah justru meletakkan angka 50.000 tersebut sebagai kegiatan memberikan edukasi dalam bentuk bimbingan kepada masyarakat petani, penyadap tuak, pemasak gula air, gula lempeng, gula semut. Frase yang dituliskan Wawan Mesah tersebut seolah-olah mengkategorikan “… petani, penyadap tuak, pemasak gula air, gula lempeng, gula semut…sebagai profesi yang berbeda, padahal itu satu profesi yakni petani.. Karena petani di Rote, disaat sedang tidak bercocok tanam, sebagian waktunya mereka gunakan untuk menyadap tuak untuk dimasak jadi gula air yang kemudian diolah lagi menjadi gula lempeng atau gula semut.

Dalam hemat saya, para petani yang juga penyadap gula lontar ini justru tidak memerlukan bimbingan teknis dari pemerintah terkait proses penyadap nira lontar yang kemudian diolah menjadi gula lontar, karena ini merupakan profesi yang sudah dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dan sudah sustained sejak berabad-abad.. Artinya penjelasan Wawan Mesah tetap tidak menjawab persoalan karena profesi petani saat ini semakin kurang diminati oleh generasi muda yang cenderung memilih untuk bekerjadi sektor formal (ASN, TNI, POLRI), kuliah diluar pulau atau merantaumencari pekerjaan ke luar pulau.
Dalam visi misi nomor 4 paket LONT4R disebutkan bahwa paket LONT4R menjamin ketersediaan BBM bagi masyarakat Rote Ndao dengan membangun kilang penampungan BBM (jobber) dan pembangunan SPBU di tiga titik wilayah yakni timur, tengah dan barat Rote Ndao. Di dalam penjelasannya, Wawan Mesah menyebutkan bahwa jobber adalah yang biasa dan bukanlah hal yang spektakuler. Jobber bisa saja dibangun oleh pemerintah daerah, atau memberikan kesempatan kepada swasta dalam hal ini investor.

Wawan mencontohkan bahwa di jaman Bupati Christian N. Dillak sudah pernah dilakukan kajian AMDAL dan studi kelayakannya. Bahkan sudah ada pemenang tender seharga Rp 20 milyar di masa itu. Wawan menerangkan namun entah mengapa, proyek itu diendapkan dan tidak jadi dibangun. Paket LONT4R memastikan bahwa paket LONT4R, di dalam 100 kerja setelah pelantikan, melalui jaringan kemitraan yang mereka punya akan membuat Floating Bunker atau bunker terapung di Rote, agar dapat menyediakan kebutuhan BBM, sekaligus untuk mendapatkan perhitungan jumlah kebutuhan kuota BBM masyarakat Rote Ndao dalam satu bulan. Dengan ratio perhitungan kebutuhan itulah, akan dipastikan besarnya daya tampung jobber yang mesti dibangun, sehingga ketersediaan BBM bagi masyarakat selalu tersedia dan tidak akan terjadi kelangkaan sekalipun ada kondisi iklim dan cuaca yang ekstrim, karena sudah diantisipasi melalui perhitungan yang tepat.

Dalam penjelasan Wawan Mesah tersebut diatas tidak dijelaskan mengapa jobber yang konon telah melewati beragam kajian AMDAL dan studi kelayakan bahkan sudah pada tahapan tender tidak segera dikerjakan? Apa yang dijelaskan Wawan Mesah bahwa Pemda Rote Ndao bisa saja membangun jobber, bisa masuk akal akan tetapi tapi tentu saja, tidak semudah yang disampaikan, Pertama, Pertamina pun tidak sembarang untuk menambah kuota BBM.. Karena kuota BBM itu dihitung berdasarkan kebutuhan masyarakat akan beragam jenis BBM perharinya, jumlah kendaraan yang ada di Rote, dan pergerakan masyarakat Rote Ndao setiap harinya. Kedua, Kendati Pemda Rote Ndao membangun dan memiliki jobber, namun soal penambahan kuota BBM itu merupakan kewenangan pemerintah pusat. Dan jika tidak ada penambahan kuota BBM, maka sama saja jobber tersebut tidak berguna. Sementara, terkait kuota BBM telah diatur dalam perpres, dimana kebijakan teknis terkait penambahan kuota tersebut menjadi kewenangan Pertamina. Untuk itu, jika pemimpin kabupaten mau mendorong adanya penambahan kuota, maka kemampuan pemda dalam ‘melobi’ Pertamina, menjadi kebutuhan mutlak, karena penambahan kuota di suatu daerah sudah pasti akan berdampak pada pengurangan kuota pada daerah lain di dalam zona yang sama. Demi kepentingan lobi ini, maka pemkab harus punya basis data, secara khusus, berapa kilo liter BBM yang dibutuhkan di kabupaten Rote Ndao. Ketiga, karena ijin pembangunan jobber berada di tangan presiden. Mampukah pasangan Bima-Erenst ini melakukan lobi kepada Presiden Joko Widodo mengingat selama ini Partai Gerindra dan PAN adalah partai politik yang selalu mengambil sikap yang bertentangan dan tidak jarang mencibir kerja-kerja percepatan pembangunan yang sedang dikerjakan pemerintah pusat.

Kesimpulan saya, sebaiknya paket LONT4R jangan membuat program yang tidak masuk akal dan memanipulasi alam pikir rakyat, dimana rakyat diiming-imingi program yang secara teknis perijinannya tidak sembarangan.(****)

Komentar