oleh

Penuhi Pekaranganmu dengan Merungge

-Opini-1.925 views

Respons miring dari para pihak, tentu Pihak Lawan, tentang “Daun Kelor” [Merungge] yang diangkat pak Viktor Bungtilu Laiskodat [Cagub NTT No. 4] sebagai salah satu solusi atasi ‘Masalah GIZI BURUK’, mengingatkan saya pada “Position Paper” Yayasan Pikul yang ditulis Leo Simanjuntak.

Paper yang bernas –menurut saya– itu menegaskan urgensi ketahanan pangan untuk membangun daerah dan menguatkan sumber daya manusia (SDM) NTT. Dengan bahasa yang lugas, dia mengurai substansi sambil menggugat ketidakpedulian Pemerintah, yang mengabaikan masalah ini. Penjelasan yang Luas –holistis dann komprehensif– itu disimpul dengan Judul yang sangat sederhana : ‘Penuhi Lumbungmu dengan Jagung’.

Dengan ‘gaya’ yang mirip, saya coba menyimpul tulisan singkat ini dengan judul: “Penuhi Pekaranganmu dengan Merungge”.

Tentang kasiat bergizi Merungge tak perlu diragukan lagi –punya kandungan mineral, kalsium, protein, potasium, dan Vitamin A dan C yang sangat tinggi. Secara tradisional berkasiat bagi Ibu Hamil untuk kesehatan (permudah saat partus). Bagi yang doyan ‘mabuk’ juga biasa diberikan untuk hilangkan ‘teler’-nya. Konon, juga untuk usir ‘roh jahat’.

Merungge, karena itu, merupakan sumber pangan bergizi scientific reason maupun tradisional reason.

Atas dasar itu, maka sangat bernas, jika Cagub No. 4 menggarisbawahi sebagai salah satu Pangan Lokal yang dijadikan sebagai salah satu Solusi untuk atasi masalah Gizi Buruk di NTT.

Pak Viktor Bungtilu Laiskodat menyebut Afrika, bukan mengesankan dia ‘jauh dari NTT, tapi justru sebaliknya dia ‘sangat dekat’, karena itu dia bisa membandingkannya dengan Negara lain yang berkarakter mirip. Tak kenal ‘yang satu’, tak dapat membandingkan dengan ‘yang lain’.

Dia menyebut ‘orang NTT’ harus makan Merungge, tidak identik dengan ‘tidak pernah orang NTT makan merungge’, bahkan sebaliknya dia sangat tahu: sebagian masyarakat NTT doyan dengan merungge, tapi tidak sedikit juga yang enggan makan merungge. Bahkan terpatri jelas kecemasan dia, kegelisahan dia akan ancaman konsumerisme ‘fast food’ bagi ‘generasi zaman now’, yang cenderung mengabaikan ‘Merungge’.

Dia juga sedang tahu bahwa ada daerah yang SDM nya tinggi karena selain makan ikan, juga mengkonsumsi Merungge dalam keseharian sebagai ‘mekanisme koping’ atas ‘kekurangan’ pangan dan cash money.

Bahkan dia tahu bahwa ada daerah yang berkarakter sama: tapi satu terdampak ‘Gizi Buruk’ yang lain ‘Tidak’; apa sebab pembedanya? Yaitu: kebiasaan makan merungge.

Dan di atas semua itu, dia sedang tahu, dan kita semua pasti tahu, bahwa ‘Kelor” atau “Merungge” dalam kedahsyatan kandungan gizinya, dibiarkan begitu saja sebagai ‘Makanan Tradisional’ [baca: diwariskan, dari Latin: Tradere] TANPA Sentuhan Kebijakan untuk dijadikan “Makanan Utama Atasi Gizi Buruk”. Tidak terdesain dalam sistem perencanaan kebijakan, termasuk sebagai ‘gerakan sadar untuk menjadikan merungge sebagai Pohon Ajaib untuk NTT’.

Kalau “semua” mengakui kasiat merungge, dan pada saat yang sama mengakui juga ‘belum tersentuh kebijakan’, maka Haruskah kita diam? Membiarkan ‘sebagaimana adanya saja’?

Pemimpin harus melihat ini. Pembicaraan pak Viktor Bungtilu Laiskodat –sebagai Calon Pemimpin (Cagub) mesti terlihat dalam perspektif ini. Merungge, Makan Merungge, harus dijadikan GERAKAN SADAR MASYARAKAT NTT. Tanam Merungge, Budidaya Merungge, dan Makan Merungge, harus masuk dalam skala kebijakan secara programatik-sistemik.

Masuk dalam skala kebijakan niscaya, dia bertautan dengan kebijakan lainnya sebagai satu kesatuan yang utuh. Tidak sebagai ‘sesuatu’ yang terpisah, parsial –sebagaimana dikhawatirkan para pihak. Omong Merungge tidak sedang meNEGASIkan hal lain. Secara akademik, bisa dikatakan bahwa Bicara Kelor tidak berada dalam ranah ‘Cateris Paribus’– pengabaian terhadap variabel lain.

Bicara 1,5 menit tidak bisa menjelaskan semuanya. Tapi, ketegasannya menyampaikan secara lugas menggambarkan kuatnya komitmen itu, dan menggarisbawahi ‘basik epistemiknya’ bahwa Hal Luar Biasa bisa dicapai dari hal-hal sederhana di depan mata, yang mungkin karena terlampau dekat jadi tak tampak; hanya kecermatan dengan mata hati yang peduli bisa melihat itu.

Mari Bangkit bersama VictoryJoss menuju NTT Sejahtera.

Bangkitlah, dan dengan sadar kita kumandangkan dendang dengan gerakan bersama: Penuhi Pekaranganmu dengan Merungge. Why Not? Kenapa Tidak? Son bisa kah? Jo, te bisa maka???*

Penulis : Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT

Komentar