oleh

Sinergitas Kelompok Tani, UKM, Perguruan Tinggi  dan Pemerintah Dalam Mengolah Produk Unggulan Daerah Serta lmplementasi Sistem Informasi Berbasis Online

-Opini-573 views

RADARNTT – Alor adalah salah satu kabupaten kepulauan di Propinsi NTT, dengan luas wilayah daratan ± 2.800 km² dan perairan ± 10.000 km². Secara geografis daratan Alor adalah pegunungan dengan kemiringan > 400, sehingga cocok untuk pengembangan tanaman perkebunan, seperti Kopi, Vanili, Kemiri, Asam dan Mente (Data BPS NTT, 2005). Sampai saat ini, tanaman perkebunan tersebar di beberapa desa dan dikelola oleh masyarakat (perorangan maupun kelompok).

Salah satu tanaman perkebunan yang dikelola secara berkelompok adalah kopi di Desa Manmas, Kecamatan Alor Selatan. Dengan ketinggian ± 1700 m di atas permukaan laut dan suhu udara 230-260 C, Desa Manmas cukup subur untuk pengembangan Kopi.

Dari beberapa kelompok tani, Poktan Obat Mas adalah salah satu kelompok pengembang dengan lahan ± 60 ha dikelola 25 petani. Data Dinas Perkebunan Alor tahun 2012 menunjukkan produksi pertanian kopi di wilayah Alor Selatan sebesar 15 ton pertahun dan Manmas adalah salah satu penyumbangnya.

Pengembangan Kopi di Manmas memberikan dampak bagi proses pengolahan, dimana salah satu UKM di Apui (ibukota Kecamatan Alor Selatan), yaitu KUD Beringin, telah memproduksi dan menjual kopi olahan dengan nama Kopi Lonsilar (Data KUD Beringin, 2016).

KUD Beringin berdiri pada tahun 1979, namun sejak 1994, koperasi ini melakukan pengembangan usaha memproduksi Kopi Lonsilar dengan bahan baku kopi beras yang berasal dari kelompok tani Desa Manmas dan desa sekitar. Proses produksi dilakukan dengan pemeriksaan kualitas kopi beras, penggorengan, penggilingan, pengemasan dan penjualan.

Beberapa kendala dalam pengolahan yaitu mekanisme penggorengan konvensional telah mendapatkan respon dari Kemenristekdikti melalui program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD) tahun 2017.
Kemenristekdikti melalui tim PPUD Politeknik Negeri Kupang telah mengembangkan sistem mekanisasi pengolahan menggunakan mesin sangrai otomatis yang berbahan bakar LPG, mesin penggiling berkapasitas >5 kg yang hemat bahan bakar dan mesin sealer ukuran 45 cm.

Program PPUD 2017 telah memberikan dampak pengolahan Kopi Lonsilar dari penghematan waktu, tenaga, kualitas dan kuantitas kopi lonsilar yang dihasilkan. Kalau sebelumnya Kopi Lonsilar hanya memproduksi 50 bungkus dalam sekali proses, namun saat ini dapat menghasikan 80 bungkus Kopi Lonsilar ukuran 250 gram.

Meskipun telah mengembangkan mekanisasi dalam pengolahan Kopi Lonsilar, namun manajemen pengolahan dan penjualan masih konvensional. Pengadaan bahan dan omset penjualan masih dicatat di buku kas dan buku kontrol, sedangkan penjualan hanya dilakukan di showroom koperasi.

Sistem konvensional ini disebabkan karena keterbatasan SDM pengelola dalam bidang administrasi, keuangan dan sistem informasi, sehingga diperlukan sinergi lanjutan dari Kementerian terkait, pemerintah daerah dan perguruan tinggi dalam upaya pengembangan SDM yang menunjang administrasi, keuangan dan sistem informasi.

Salah satu sinergitas yang akan diimplementasikan tahun 2018, adalah keterlibatan Politeknik Negeri Kupang dan Universitas Tribuana Kalabahi dalam mengelola hibah pengabdian masyarakat tahun 2018 dari Kemritekdikti melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dan Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD).

PKM akan dilakukan melalui mekanisasi pengolahan kopi gelondongan di Kelompok Tani Obat Mas Desa Manmas, sedangkan PPUD dilakukan melalui program pengembangan manajemen pengelolaan Kopi Lonsilar berbasis online.

Pemerintah Daerah Kabupaten Alor (Dinas Pertanian dan Perkebunan) juga telah mendukung pelaksanaan hibah Kemenristekdikti sejak tahun 2017 yang berdampak pada keberlanjutan pengelolaan produk Kopi Lonsilar, Kopi Cita Rasa Khas Alor dan beberapa merek kopi lain di Kabupaten Alor.

Untuk Tahun 2018, Pemerintah Daerah Kabupaten Alor telah berkomitmen untuk mendukung Program PKM dan PPUD. Harapan Kemenristekdikti dan Pemerintah Kabupaten Alor, adalah produk unggulan daerah, khususnya Kopi Alor, dapat dipromosikan lebih luas, dipasarkan di seluruh wilayah NTT secara berkelanjutan dan menjadi salah satu icon minuman lokal utama di NTT.

Penulis :
Jhon A. Wabang, Folkes E. Laumal, Raden S. Budi Suharto, Paulus E. Plaimo
(Dosen, Tim Pengabdian Masyarakat; PKM dan PPUD Tahun 2018)

Komentar