oleh

Transformasi BANK TLM “Prestasi Sebagai Suatu Kebutuhan” (HUT 10 Tahun BANK TLM, Semakin bertumbuh dalam Pelayanan)

OPINI :
Oleh
MARDAN Y NAINATUN
COORPORATE LEGAL STAFF BANK TLM

RADARNTT, Opini – Isu keadilan dalam pembangunan kewilayahan, selalu menjadi perbincangan hangat, terutama terkait dengan masalah “kesenjangan wilayah” (regional imbalances). Sampai saat ini isu kesenjangan wilayah terpusat kepada kesenjangan antara desa dan kota, antara Kawasan Timur Indonesia dan Kawasan Barat Indonesia, serta antara Jawa dan luar Jawa. Banyak pakar yang percaya bahwa kesenjangan wilayah merupakan harga wajar yang harus dibayar dalam proses pembangunan. Sederhana saja alasannya, yakni ada keterkaitan antara wilayah satu dengan wilayah yang lain sebagai sebuah sistem.

Dengan kata lain ada proses interaksi dan interdependensi antar subsistem. Indikator yang digunakan untuk memperlihatkan bahwa sebuah wilayah dianggap lebih maju dibandingkan dengan wilayah yang lainnya cukup banyak. Hill (1993) misalnya menyebut indikator yang bersifat statis seperti Indeks Pembangunan Manusia (human development index), Indeks Kualitas Kehidupan secara Fisik (physical quality of life index), maupun laju PDRB (product domestic regional bruto). Data seperti ini meskipun tidak secara absolut dapat dipercaya begitu saja, namun dapat digunakan sebagai gambaran awal betapa sebuah wilayah lebih maju dibanding dengan wilayah yang lain.

Kondisi hari ini menunjukan Kesenjangan antara golongan kaya dan miskin di Indonesia yang berjalan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini telah tumbuh lebih cepat dibandingkan negara lain di kawasan Asia Tenggara, berdasarkan Global Wealth Report yang dibuat oleh Credit Suisse’s, Indonesia menempati peringkat keempat negara paling timpang di dunia. Sebab, 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan Nasional. Kondisi tersebut membuat kita harus menghadapi sedikit kebisingan dan kegaduhan ekonomi, kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi yang sangat lebar itu membuat Negara kita dinilai benar-benar menghadapi darurat kesenjangan tingkat pemerataan pembangunan ekonomi antar provinsi di Indonesia yang berjalan sejauh ini masih bertumpu di wilayah pulau Jawa. Pulau Jawa bisa menyumbang 58 persen terhadap pertumbuhan perekonomian nasional, tingkat kemiskinan dan penganggurannya pun relatif rendah. Di luar Pulau Jawa tingkat pertumbuhan ekonominya di kisaran 2 persen sampai 7,4 persen.

Dalam rangka peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat maka perlu adanya perhatian untuk melakukan pembinaan serta perlindungan terhadap pengusaha kecil dan menengah. Hal tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan fungsi dan peranan lembaga keuangan baik bank maupun non bank, terutama dalam penyediaan dana yang diperlukan oleh pengusaha kecil dan menengah tersebut dalam menjalankan kegiatan usahanya. di antaranya, menggulirkan program pembangunan adil dan merata dengan memperkuat daerah-daerah terluar guna menekan disparitas ekonomi serta memperjelas keberpihakan terhadap masyarakat kecil. lembaga-lembaga ekonomi masyarakat, seperti UMKM perlu diperkuat, mengingat besarnya konstribusi UMKM terhadap PDB nasional yang tercatat mencapai 61,41% atau sekitar Rp.6.228.285 miliar.

Dalam tataran Regional Nusa tenggara Timur hingga saat ini, masih menempati posisi ke-3 daerah termiskin di Indonesia dengan jumlah orang miskin mencapai 1.14 Juta jiwa atau 22.01% dari keseluruhan jumlah penduduk di Nusa Tenggara Timur. berdasarkan data Badan Pusat statistik. Dari gambaran tersebut, merupakan pekerjaan rumah yang tidak ringan dan membutuhkan campur tangan semua pihak guna mengangkat derajat ekonomi masyarakat Nusa tenggara timur.

Untuk menjawab tantangan tersebut kehadiran BANK TLM sebagai suatu lembaga jasa Keuangan, memiliki tanggung jawab moral yang tidak ringan untuk ikut terlibat aktif dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang mapan bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Dalam sejarah kelahiranya, Keberadaan BPR dimaksudkan sebagai sarana untuk menjawab tuntutan-tuntutan pembangunan yang semakin komplek. Pertumbuhan yang pesat pada sektor perekonomian membuat keberadaan BPR semakin disadari dan dibutuhkan oleh masyarakat (Arif Rahman, 1996).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (UUP), dalam Pasal 1 angka 2 menyebutkan bahwa Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Menurut UUP, Bank berdasarkan jenisnya dapat dibedakan menjadi 2 yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank Perkreditan Rakyat, adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

PT. Bank Perkreditan Rakyat Tanaoba Lais Manekat, yang selanjutnya disingkat dengan BANK TLM merupakan badan usaha yang tergabung dalam TLM Group, berbentuk Perseroan terbatas berdasarkan Anggaran Dasarnya yang tertuang dalam Akta Pendirian Nomor: 1, tanggal 03 Juli 2007, yang dibuat dihadapan Notaris Albert Wilson Riwu Kore, dan memperoleh pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor C-03822.HT.01.01-TH.2007 dan terakhir dirubah dengan akta Pernyataan Keputusan RUPS Luar Biasa Nomor: 81, tanggal 10 November 2016, dibuat dihadapan Notaris Zantje Mathilda Voss Tomasowa, dan telah dilaporkan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan surat Nomor: AHU-AH.01.03-0098386, tanggal 14 November 2016.

Dalam sejarah kelahiranya, BANK TLM mulai beroperasi pada awal februari 2008 tepatnya pada tanggal 1 februari, yang hingga saat ini tepat 1 dasawarsa larut menemani masyarakat mengembangkan ekonomi dan kesejahtraannya. Mengemban visi mulia “Menjadi Bank yang sehat dan terpercaya serta peduli pada usaha mikro dan kecil” yang diwujudkan dalam Misi besar untuk “Melayani dengan kasih yang diwujudkan dengan manajemen yang jujur, profesional dan bertanggung jawab serta memiliki kemauan kuat untuk berkembang.” BANK TLM telah membuktikan “taringnya” sebagai BPR yang layak diperhitungkan dalam persaingan Regional Nusa Tenggara Timur. menjadi BPR Nomor 1 di Bumi Flobamora, dengan diganjar dengan segudang prestasi yang terbilang prestisius untuk kalangan pelaku usaha di bidang jasa keuangan.

Keberadaan BANK TLM tidak muncul begitu saja ke permukaan, kehadiran BANK TLM merupakan satu dari lima Mimpi besar dari Majelis Sinode Gereja masehi Injili di Timor (GMIT) yang telah ada pada era tahun 1980-an. Pada era itu, Majelis Sinode GMIT berkomitmen untuk mengembangkan pelayanan dengan mendirikan lembaga keuangan formal yang dapat memanfaatkan dana pihak ketiga dan melayani masyarakat secara lebih luas. Mimpi besar itu akhirnya terwujud melalui kehadiran BANK TLM.

Dua tahun Beroperasi, pada tahun 2010, BANK TLM langsung menjadi BPR dengan prestasi yang begitu membanggakan dan diakui secara nasional. Dengan torehan BPR terbaik di Nusa Tenggara Timur oleh Majalah Infobank Award, Kurun waktu 10 tahun berdiri, BANK TLM dianugrahi secara beruntun Tujuh Infobank award dari majalah Infobank untuk BPR dengan kategori asset sampai dengan Rp 250 miliar dengan predikat sangat bagus. dengan torehan prestasi membanggakan tersebut, BANK TLM secara Nasional bertengger pada posisi 106 dari total 1600-an BPR yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pertumbuhan BANK TLM dari tahun ke tahun menunjukan pertumbuhan yang positif dan menggembirakan bukan tanpa cobaan tantangan dan kerja keras. Dengan kekuatan Modal saat ini sebesar 12 milyar rupiah, memang masih di rasakan belum proporsional jika di bandingkan dengan Total aset yang dimiliki, akan tetapi hal tersebut bukan menjadi hal yang patut di jadikan sebagai suatu kekhawatiran yang berlebihan mengingat penambahan modal masih terus d upaya oleh manajemen BANK TLM.
Laporan kinerja keuangan BANK TLM per Desember 2017 patut d acungi jempol, dengan asset sebesar Rp. 215 Miliar, Piutang Rp 189 miliar, jumlah rek tabungan mencapai lebih dari 14 ribu penabung, dengan catatan laba tahun berjalan hingga Desember 2017 mendekati Rp 5 milyar Rupiah. perolehan angka-angka pada tahun 2017 ini merupakan pergerakan yang terus menanjak setiap tahunnya. Dengan prestasi sebagai bukti penyertaan Tuhan tidak sedikit pula pihak-pihak yang telah ikut menikmati kontribusi manis dari BANK TLM. Dengan alokasi Coorporate Sosial Responsibilities (CSR) sebagai tanggung jawab sosial terhadap lingkungan kemasyarakatan yang telah mencapai 1 Milyar Rupiah.

Keterlibatan BANK TLM sebagai bagian dari suatu sistem sosial kemasyarakatan, diterjemahkan melalui berbagai kegiatan antara lain: kepedulian terhadap Lingkungan hidup berupa Penghijauan lahan kering, ikut terlibat aktif dalam berbagai usaha pengembangan pertanian masyarakat dan Jemaat, terlibat Memasarkan hasil pertanian masyarakat, memberikan beasiswa terhadap anak-anak Koster yang tidak mampu, memberikan modal usaha bagi masyarakat yang memiliki talenta dan kreatifitas di bidang kewirausahaan melalui lomba-lomba, pendampingan-pendampingan terhadap usaha ekonomi Jemaat GMIT dan sejuta aktifitas yang sepertinya tidak mungkin disebutkan satu per satu. Dan sebagai bentuk tanggungjawab terhadap Gereja GMIT, kontribusi BANK TLM terhadap Lembaga GMIT sejak berdirinya terus meningkat dari tahun ketahun.

Tidak sampai disitu, peristiwa membanggakan yang patut kita apresiasi dan acungi jempol terhadap kinerja BANK TLM adalah peningkatan permintaan kredit yang tumbuh dengan begitu luar biasa, meskipun geliat pertumbuhan ekonomi sempat mengalami guncangan baik dari dalam maupun luar negeri dalam 3 tahun terakhir, yang ikut mempengaruhi kondisi ekonomi Kota dan kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Timur, namun dengan satu tekad bertumbuh dalam kelesuan menghantarkan pertumbuhan kredit yang tercermin dalam 3 tahun terakhir mengalami trend yang positif, terbukti dengan penyaluran kredit pada tahun 2015 sebesar 139 milyar, meningkat pada tahun 2016 sebesar 173 milyar dan pada tahun 2017 lebih dari 200 milyar berhasil di salurkan. Dengan pola pembinaan dan pendampingan serta pengawasan terhadap kredit yang telah di salurkan dengan tujuan memastikan penggunaan kredit sesuai dengan peruntukannya. Terbukti dengan tingkat pengembalian yang teratur dan presentase Non Performing Loan (NPL) yang terbilang sangat kecil yakni selalu di bawah 3% dari total penyaluran kredit yang diberikan. Hal ini menunjukan bahwa bukan saja kuantitas kredit yang diperhatikan, akan tetapi kualitas kredit pun menjadi perhatian utama yang tidak terelakan.

Presentase NPL merupakan salah satu indikator yang dapat mengukur tingkat kesehatan Suatu Bank. Semakin tinggi NPL suatu Bank, maka Semakin tidak sehat Bank tersebut. Dengan kondisi NPL BANK TLM yang terus terjaga dengan baik dari tahun ke tahun, yakni terus berada di bawah kiasaran 3% mengindikasikan kondisi BANK TLM yang selalu sehat dan kuat dalam menghadapi tantangan persaingan yang semakin komplek seiring berjalannya waktu. Hal ini tentunya didukung oleh sumber daya manusia yang handal dan profesional dalam menjalani panggilannya pada lembaga yang bernama BANK TLM.

Siapapun kita pasti akan setuju bahwa kontribusi karyawan terhadap kemajuan suatu lembaga, bukan hal yang dapat dipandang remeh. Sebagaimana yang di utarakan oleh Nawawi (2000:97) bahwa tolak ukur Kinerja: adalah 1). Tingkat kemampuan kerja (Kompetensi) 2). Tingkat kemampuan eksekutif dalam memberikan motivasi kerja,agar pekerja sebagai Individu bekerja dengan usaha maksimum, yang memungkinkan tercapainya hasil sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat. Dimulai dengan jumlah karyawan pada awal berdirinya berjumlah 23 karyawan, kini menjelang hari ulang tahunnya yang ke sepuluh, Jumlah karyawan meningkat pesat dengan total karyawan yang tercatat sampai dengan Desember 2017 berjumlah, 90 karyawan, yang tersebar di kantor pusat dan 1 kantor cabang di wilayah Kabupaten Kupang, telah melebarkan sayap pelayanan sampai pada pelosok- pelosok yang keseluruhanya merupakan tenaga profesional terlatih dan teruji yang selalu memiliki kemauan kuat untk berkembang bersama BANK TLM.

Memasuki usia yang 10 tahun ini, BANK TLM terus mengembangkan komitmen untuk terus tumbuh dan berkembang serta bertransformasi. Dengan perkembangan yang semakin baik dari tahun ke tahun, bukan berarti BANK TLM harus puas dengan pencapaian-pencapaian yang telah ada, nilai-nilai Transformasi terus dibutuhkan untuk tetap menjadi yang terdepan dan terutama dalam persaingan, kita harus percaya bahwa seluruh prestasi dan pencapaian yang diraih BANK TLM karena BANK TLM selalu bertransformasi dalam segala aspek. Transformasi bisnis BANK TLM senantiasa diperlukan agar lebih baik dalam menyikapi dan menjawab tantangan-tantangan bisnis ke depan, lingkungan usaha yang berubah secara cepat maupun keinginan-keinginan baru yang muncul dari dalam perushaan. Transformasi BANK TLM hendaknya terus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap pola pikir, pola pandang dan pola tindak perushaan,strategi bisnis, budaya perushaan maupun perilaku dan kemampuan organisasi. Transformasi BANK TLM adalah suatu transformasi yang berisi tahapan-tahapan perubahan yang menciptakan nilai,serta proses impelementasi yang berisi langkah-langkah yang diperlukan dalam melaksanakan bisnis secara terencana dengan baik.

Dalam satu dasawarsa ini, transformasi bisnis yang wajib terus dipertahankan dan ditingkatkan BANK TLM adalah Visoning, Strategic, Stragegic Postion dan Corporate strategy, dengan hal tersebut diharapkan dapat memperoleh banyak manfaat, antara lain: menciptakan daya tahan dan daya saing yang lebih besar, meningkatkan kemampuan organisasi agar dapat memiliki daya dukung yang lebih kuat, menciptakan nilai dan penghasilan finansial dengan tetap memperhatikan praktek dan etika bisnis yang profesional.

Oleh karenanya, kemauan kuat untuk selalu berkembang sebagai landasan bertindak bagi segenap insan BANK TLM, menuntut suatu bentuk transformasi yang progresif dalam mendukung tugas dan pelayanananya kepada masyarakat. Keinginan kuat untk berkembang itu, telah di buktikan sejak dari pendiriannya, hingga sampai pada usianya yang ke sepuluh, komitmen itu tetap dipelihara dan dipupuk dengan semangat juang yang tinggi.

Pembuktian prestasi dan kontribusi BANK TLM yang terus di ukir sudah selayaknya perlu terus di dukung oleh semua pihak. Khususnya Lembaga GMIT sebagai Induk yang menelurkan kelahiran BANK TLM. Sebagai pemegang saham mayoritas pada BANK TLM kontribusi berupa penambahan Modal perlu di lakukan guna lebih membesarkan BANK TLM dengan segudang prestasi ini. Kekuatan dan kemampuan BANK TLM telah membuktikan bahwa BANK TLM layak dipercaya dalam mengelola dana masyarakat. Selain dari pada itu, peran dan perhatian pemerintah terhadap BPR secara umum perlu untuk lebih di tingkatkan mengingat fungsi mulia BPR di Indonesia yang sejak awal keberadaanya bertugas memutus mata rantai ketidakadilan dalam sistem ekonomi masyarakat kelas bawah.

Diharapkan dengan usianya yang semakin bertambah ini, kontribusi BANK TLM dalam habitatnya sebagai Suatu lembaga perbankan yang dapat memecah tembok kesenjangan sosial melalui usaha menumbuhkan ekonomi masyarakat dapat terwujud secara paripurna, yang memang disadari ataupun tidak, secara perlahan namun pasti telah nampak melalui eksistensinya dalam 10 tahun terakhir.

Pada akhir tulisan ini, Harapan kita masyarakat NTT bagi BANK TLM adalah semakin bertumbuh dan berkembang dengan penuh keyakinan akan penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa sebagaimana dalam Doa seorang Yabes yang di gambarkan dalam 1 Tawarikh 4:10, “kiranya engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku dan melindungi aku dari pada malapetaka,sehingga kesakitan tidak menimpa aku!” Dan Allah Mengabulkan permintaannya itu” itulah harapan dan doa yang sudah sepatutnya di gaungkan oleh segenap insan BANK TLM dalam usianya yang kesepuluh. Dirgahayu BANK TLM. Tetap melayani dengan kasih. Terima Kasih. (****)

Komentar